Sistem status quo tersebut berkuasa dalam tiga bentuk yang kuat yaitu: Politik, Ekonomi, dan Teknologi (ilmu pengetahuan) dengan bantuan rasio teknologis. Sistem ini menciptakan satu bentuk toleransi yang seolah-olah menyajikan kebebasan seluas-luasnya. Padahal, di baliknya, terselubung satu bentuk penindasan baru. Marcuse menyebutnya kondisi ini sebagai repressive tolerance (toleransi represif).
Dengan demikian untuk mengatasi kondisi tersebut, Marcuse mengatakan, perlu adanya kesadaran dari kelompok masyarakat untuk melakukan “the great refusal” (penolakan besar) dan juga revolusi. Potensi perubahan itu berada di tangan golongan yang terpinggirkan dan juga para intelektual. Artinya, bukan lagi di tangan para buruh karena mereka sudah kehilangan semangat revolusionernya dan ikut dalam melanggengkan sistem totaliter tersebut.
Rupa-rupanya, Marcuse bukanlah tokoh pertama yang melakukan kritik terhadap kondisi masyarakat modern. Sebelum dan sesudah Marcuse, ada banyak pandangan dan ulasan yang diberikan oleh tokoh-tokoh lain mengenai hal tersebut. Misalnya tokoh yang mengutarakan kritik terhadap kondisi masyarakat modern selain Marcuse adalah: Erich Fromm (The Revolution of Hope), Gabriel Marcel (Man Against Mass Society), Riesman (The Lonely Crowd), Jurgen Habermas (Towards a Rational Society), dan tokoh lainnya.
Dalam bukunya, Marcuse cukup cemerlang dalam menganalisis masyarakat industri modern. Pandangan dan kritiknya merupakan suatu bentuk tanda peringatan bagi manusia dan masyarakat bahwa ada yang salah dalam kehidupan mereka. Tentu, hal ini memerlukan perhatian besar dari individu atau anggota masyarakat sehingga, membuat manusia menjadi sadar bahwa di dalam jejak peradaban manusia tersirat berbagai kepentingan ideologis. Bahkan sampai pada taraf yang mendasar dan berkaitan dengan esensi manusia.
Permasalahan yang diuraikan adalah kenyataan yang tidak dapat disangkal dan benar-benar terjadi dalam masyarakat (tidak hanya di masanya bahkan juga hingga hari ini). Hal itu mengundang perlunya refleksi atas kenyataan dan persoalan kemanusiaan dan jalannya perkembangan masyarakat itu sendiri.
Jelas sudah, dari keseluruhan analisisnya, Marcuse menyimpulkan bahwa masyarakat industri modern merupakan masyarakat berdimensi satu. Pertanyaan mendasar yang timbul dari analisis Marcuse adalah, benarkah dengan adanya rasionalitas teknologi dan terbentuknya satu sistem represif totaliter masyarakat benar-benar menjadi masyarakat yang berdimensi satu?.
Lalu seperti apa gaya hidup modern
Tak bisa dipungkiri bahwa, derasnya arus globalisasi yang menerjang berbagai lini kehidupan manusia memberikan banyak perubahan. Pun, dalam waktu yang sama, di dukung dengan hadirnya kecangihan teknologi seperti, smartphone yang telah membantu penyebarannya. Kenyataan ini berdampak pada bagaimana cara masyarakat dalam menyikapi relitas.
Lahirnya modernisasi kehidupan telah merubah cara pandang dan pola hidup masyarakat sehingga menimbulkan masyarakat yang konsumtif dalam lingkungan masyarakat kapitalis. Fenomena ini bukanlah suatu hal yang aneh untuk di perbincangkan, terlebih paradigma dan pola hidup masyarakat kini masuk dalam praktik budaya baru.
Memang, satu sisi kemajuan teknologi telah menghantarkan pada suatu kondisi kehidupan masyarakat kapitalis. Kapitalisme mendorong terciptanya modernisasi teknologi informasi yang memudahkan masyarakat untuk mengetahui seni dan kebudayaan masyarakat lain. Bahkan, budaya kapitalis telah menghantarkan manusia pada halusinasi realitas yang bersifat estetis.
Sudah mafhum, dalam perspektif industri budaya, budaya konsumerisme lahir atas kehendak media. Hal ini dianggap bahwa media telah memproduksi berbagai macam poroduk budaya yang di adopsi dari budaya-budaya asing, dan hasilnya di sebarluaskan melalui medium media massa (hingga kita tanpa sadar telah menyerapnya).
Tentunya, media dalam menjalankan fungsinya, selain sebagai penyebar informasi dan hiburan, juga sebagai pencipta dan pengendali pasar produk komoditas dalam suatu lingkungan masyarakat. Tak heran, jika dalam peraktiknya, media selalu menanamkan idiologinya pada setiap produk hingga obyek sasaran terprovokasi dengan propaganda tersembunyi didalamnya. Akibatnya, segala sesuatu yang di tampilkan oleh media akan di serap dan di ikuti oleh masyarakat sebagai suatu produk kebudayaan baru.
Sudah barang tentu, semakin derasnya fenomena trend kapitalisme dan hedonisme akhir-akhir ini, menuntut sebuah pembacaan (analisis) yang mendalam. Secara langsung maupun tidak langsung, hal tersebut mempengaruhi budaya dan pola hidup kaum muda remaja sekarang ini dan jelas kita rasakan kehadirannya. Dalam perkembangannya, masyarakat Indonesia mengalami era perubahan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern.
Penting juga kita baca, modernisme selain ditandai dengan munculnya masyarakat yang bergantung pada informasi, juga berkembang menjadi masyarakat kosumtif. Hal ini ditandai dengan perkembangan gaya hidup dan budaya masyarakat Indonesia yang cenderung konsumtif untuk membeli berbagai barang atau komoditas.
Kebutuhan masyarakat diciptakan melalu iklan-iklan yang memikat. Seperti, yang di ungkapkan oleh Jean Baudrilard, iklan mengkodekan produk dengan simbol-simbol untuk membedakan dan menunjukan keberagaman obyek di antara produk-produk lain dan bahkan berpengaruh jika di konsumsi. Di dalam kegiatan konsumsi terjadi transfer makna kebebasan yang ilusif kepada tiap konsumen. Bahkan, obyek konsumsi membentuk sistem tanda yang membedakan masyarakat.
Alih-alih menghilangkan iklan, justru sekarang, media massa memiliki kekuatan untuk menawarkan apa yang saat ini harus dimiliki orang, apa yang dicari orang (tren), termasuk menentukan apa yang harus dimiliki khalayak untuk dapat memilikinya (mendorong orang kepada gaya hidup hedonis). Hedonisme sendiri dapat diartikan sebagai bentuk dari kecintaan seseorang pada dunia, sehingga apa saja dilakukan pasti berorientasi pada kepuasan duniawi.
Sementara itu, konsumtivisme adalah paham untuk hidup konsumtif. Dapat diartikan mendahulukan keinginan dari pada kebutuhan serta meniadakan skala prioritas. Braudillard mengatakan, nilai tukar dan nilai guna kini telah berganti dengan nilai simbol (lambang). Misalnya, ketika membeli mobil, orang sekaligus membeli simbol kemapanan yang melekat pada mobil itu. Atau, ketika membeli baju, orang juga membeli kepercayaan diri untuk dirinya.
Sistem industri merupakan bagian penting dari ideologi kapitalisme lanjut dalam menciptakan budaya konsumtivisme. Yakni, sebuah budaya yang menampung minat dan hasrat kebutuhan masyarakat. Ini nampak dalam berbagai lingkup budaya kontemporer seperti, design, media, musik, film, kegiatan belanja, dan berbagai produk-produk lainnya.
Konsumsi sendiri sebagai suatu proses menghabiskan atau mentrasformasikan nilai-nilai yang tersimpan di dalam sebuah obyek. Konsumsi dapat di pandang sebagai proses obyektifikasi, yaitu proses eksternalisasi dan internalisasi diri lewat obyek sebagai medianya. Di sini, terjadi peroses menciptakan nilai-nilai melalui obyek, dan kemudian memberikan pengakuan serta menerima nilai-nilai ini.
Dari sudut pandang linguistik, konsumsi dapat di pandang sebagi proses mengunakan atau mendeskontruksi tanda-tanda yang terkandung di dalam obyek oleh para konsumer, dalam rangka memperoleh status sosial, perestise, dan simbol simbol tertentu bagi para pemakainya.
Di era modernisme sekarang, masyarakat membeli barang dan jasa bukan sekedar nilai manfaatnya atau karena terdesak kebutuhan, tapi karena pengaruh (hegemoni) sebuah gaya hidup konsumtif yang didorong “gengsi” agar tidak disebut ketinggalan jaman atau sebagai tanda dari status sosial seseorang. Mereka seakan malu bergaul-kumpul jika tak mengenakan “fashion” yang bermerek mahal. Istilah anak 2022 sekarang “fashion week”. Slebew, katanya.
Tak heran jika, dalam sebuah pergelaran industri busana misalnya, para penikmat berlomba-lomba mendatanginya. Mereka menyaksikan tren busana baru yang tak lain tujuanya adalah, untuk mengetahui (membeli juga jika cocok) apa yang sedang in dan apa yang sudah out dalam satu musim busana tertentu.
Gaya hidup masyarakat ini tidak lepas dari peranan kaum kapitalis yang memang sengaja menciptakan sistem ekonomi dengan tujuan menghasilkan keuntungan sebanyak-banyaknya, tanpa memperhitungkan dampak buruknya terhadap kehidupan masyarakat.
Misalnya, dalam masyarakat industri, objek konsumsi yang berupa komoditi tidak lagi sekedar manfaat (nilai guna) dan harga (nilai tukar). Selebihnya, apa yang kita konsumsi kini melambangkan status, simbolis, prestise, dan kehormatan. Poinnya, objek dibeli hanya karena makna simbolik yang melekat di dalamnya, bukan karena harga (manfaatnya).
Pemuasan terhadap kebutuhan semu tersebut mungkin membahagiakan masing-masing individu. Namun menurut Marcuse, kebahagiaan itu juga adalah sesuatu yang semu dan tidak boleh dipertahankan karena, menghambat perkembangan kemampuan individu untuk mengenali kekurangan masyarakat secara holistik. Lebih dari itu, juga menghambat upaya untuk mengatasi kekurangan tersebut.
Dalam memenuhi kebutuhan semu, biasanya orang tidak mengetahui mengapa ia membutuhkannya. Dorongan untuk membeli dan menggunakannya tidak sungguh-sungguh timbul dari dalam dirinya sendiri, melainkan hanya sekedar melihat orang lain berbuat begitu. Kebutuhan itu datang dari luar, dan individu tidak mampu menguasai dirinya terhadap tekanan yang datang.
Syahdan, sistem kapitalis membuat kebudayaan menjadi suatu tawaran kebudayaan yang penuh kesenangan, fantasi dan menghibur serta mampu mengembangkan imajinasi tanpa batas. Bagi kaum kapitalis, dengan memproduksi budaya konsumtif dan hedonis pada masyarakat massa, (ia yakin dengan itu) akan mendongkrak hasil penjualan mereka dengan keuntungan sebanyak mungkin, sehingga mereka selalu merangsang tumbuhnya perilaku konsumen yang makin loyal dan adiktif. (*)
*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Editor : Ali Sodiqin