Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Perjuangan dan Impian Pahlawan yang Terlupakan

Ali Sodiqin • Jumat, 11 November 2022 | 14:33 WIB
Ilham Akbar, Santri Mahasiswa Ponpes Salafiyah Syafi”iyah Sukorejo Situbondo.
Ilham Akbar, Santri Mahasiswa Ponpes Salafiyah Syafi”iyah Sukorejo Situbondo.
BUTUH perjuangan untuk mencapai kebahagiaan. Tidak hanya jiwa dan perasaan yang dikorbankan, melainkan juga jasad atau badan. Untuk mencapai kebebasan yang dirasakan bersama seluruh umat, tentu ada sosok heroik yang mengoordinasi. Sehingga mampu untuk membuat rakyat berada dalam satu misi yaitu kemerdekaan. Karena untuk menggapai kemerdekaan tidak bisa dilakukan sendirian. Butuh kerja sama, kebersamaan, dan tekad kuat. Hal itulah yang dilakukan para pahlawan.

Para pahlawan kita berperang melawan para penjajah selama kurang lebih tiga setengah abad. Mereka berjuang mati-matian dengan peralatan seadanya untuk mencapai kemerdekaan. Mereka rela mengorbankan jiwa raga untuk bisa terbebas dari belenggu.

Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, bukanlah perang tanpa sebab. Ada banyak faktor yang menjadi pemantik semangat pertempuran dan perlawanan itu. Salah satu pemantik utama perlawanan itu adalah fatwa Resolusi Jihad yang dimotori oleh KH. Hasyim Asy'ari dan ulama-ulama NU.

Fatwa Resolusi Jihad adalah landasan historis-filosofis yang menjadi bahan bakar serta energi perlawanan arek-arek Suroboyo sehingga mereka bertindak tanpa ragu. Dalam pusaran momentum Resolusi Jihad itulah, sesungguhnya Bung Tomo mulai banyak diperhitungkan. Ia tercatat beberapa kali sowan kepada KH. Hasyim Asy'ari ke Tebuireng. Beliau tampaknya membaca bakat "pembakar semangat" yang ada dan dimiliki oleh Bung Tomo kala itu.

Selain itu, Bung tomo inilah yang juga menjadi salah satu pemantik berkobarnya pertempuran 10 November. Berkat perjuangan dan dorongan serta semangat dari beliau, rakyat Indonesia bersatu melawan penjajah Belanda dengan tentara NICA-nya (Netherlands Indies Civil Administration). Sehingga dengan perjuangan para pahlawan, bangsa Indonesia menggapai kemerdekaan dan merasakan kebebasan yang sebebas-bebasnya dari para penjajah.

Maka sebagai bentuk tanda terima kasih bangsa terhadap perjuangan mereka akhirnya ditandai secara nasional dengan Hari Pahlawan 10 November.

Gelar pertama dianugerahi pada tanggal 30 Agustus 1959 kepada politisi yang menjadi penulis bernama Abdul Muis yang wafat pada bulan sebelumnya. Beliau diberi gelar sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang dibuat pada saat dikeluarkannya Dekrit Presiden No. 241 Tahun 1958. Gelar ini digunakan saat pemerintahan Ir. Soekarno.

Ketika Presiden Suharto berkuasa, gelar tersebut berganti nama menjadi Pahlawan Nasional. Selain Gelar Pahlawan Nasional, ada gelar Pahlawan Revolusi yang diberikan kepada sepuluh korban peristiwa Gerakan 30 September. Sementara Sukarno dan Mohammad Hatta diberikan gelar Pahlawan Proklamator pada 1988.

Itulah sedikit cuplikan sejarah tentang penetapan hari Pahlawan. Tentu untuk memaknai perjuangan pahlawan, kita tidak hanya diam. Sebagaimana para generasi bangsa sekarang, mereka jarang memikirkan perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Mereka sibuk untuk memainkan ponsel mulai dari main game, chat, dan tak lupa untuk berselfie/swafoto dalam setiap lakon. Selain itu, mereka juga sibuk membuang waktu dengan kesenangan yang bersifat sementara. Mulai dari pacaran, balapan, minum-minuman, nongkrong di pinggir jalan, sampai jalan-jalan tanpa tujuan.

Seharusnya, kita sebagai para pemuda generasi bangsa memaknai perjuangan para pahlawan kemerdekaan ini dengan mengisi kehidupan dengan hal-hal yang positif. Selain itu, kita juga harus mengingat dan berusaha untuk mengaktualisasikan peringatan hari pahlawan dengan mengamalkan salah satu pesan atau mimpi para pahlawan.

Seperti pesan atau wasiat dari KHR. As’ad Syamsul Arifin (Pahlawan Nasional). Yang termaktub dalam lima wasiat KHR. As’ad Syamsul Arifin, khususnya pada ayat ketiga yang berbunyi “Santri saya yang pulang/ berhenti harus ikut mengurusi, memikirkan paling tidak salah satu yang tiga : a. Pendidikan islam b. Dakwah melalui NU c. Ekonomi masyarakat”.

Pertama, dari aspek pendidikan. beliau ingin kita sebagai para generasi bangsa dapat berkontribusi dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Misalnya, menjadi penggerak atau promotor dalam mengentas kebodohan dan ketertinggalan dalam keilmuan menuju ke puncak peradaban, yaitu peradaban madani atau puncak kemajuan Islam. Hal itu, tidak akan bisa tercapai dengan hanya santai di usia muda. Butuh perjuangan dan pengorbanan untuk bisa mencapai peradaban tersebut. Oleh karena itu, kita sebagai para pemuda, hendaklah menjadi pemuda yang berwawasan luas dan kritis dalam mengikuti perkembangan zaman.

Kedua, dakwah melalui Nahdlatul Ulama (NU). Di era modern ini, umat Islam dari segi teologi terbagi menjadi beberapa sekte atau aliran. Dan dari semua sekte ini, mengaku bahwa merekalah yang paling benar dalam beragama. Mereka semua mengaku bahwa merekalah ahlussunnah wal jamaah. NU merupakan ormas yang berpegang teguh pada ajaran ahlussunnah wal jamaah. Oleh karena itu, untuk bisa membumikan Islam di Nusantara tidak bisa hanya berdiam diri. Butuh usaha keras, misalnya dakwah melalui lisan, tulisan atau melalui tindakan/ pergerakan.

Ketiga, ekonomi masyarakat. Untuk bisa menyejahterakan ekonomi masyarakat, perlu adanya keberanian untuk mengubah mindset kita. Dari yang sebelumnya berpikir caranya untuk bekerja di perkantoran, diubah menjadi bagaimana kita bisa menjadi orang yang punya perkantoran. Ketika mindset kita sudah berubah, maka akan muncul pengusaha-pengusaha yang mampu untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Dengan banyaknya lapangan pekerjaan maka masyarakat tidak akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Maka kita para pemuda, hendaknya menjadi pemuda yang kreatif, inovatif dan produktif dalam mengisi waktu muda kita. Sehingga kita bisa menjadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi seluruh umat. Semoga kita bisa mengemban amanat dari para pahlawan. (*)

*) Santri Mahasiswa Ponpes Salafiyah Syafi”iyah Sukorejo Situbondo. Editor : Ali Sodiqin
#kolom #artikel #refleksi #opini #Pahlawan