Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kafe: Secangkir Perjumpaan dan Pembacaan

Ali Sodiqin • Kamis, 15 September 2022 | 21:32 WIB
Muttafaqur Rohmah
Muttafaqur Rohmah
NONGKRONG di kafe bukan hal baru. Menjadi semacam sisa-sisa ritual yang berjalan dari masa lampau. Seolah menjadi pergerakan dinamis dari masa ke masa. Orang-orang berkumpul, bertukar cerita, dan membincang berbagai isu: politik, sosial, ekonomi, budaya. Dan juga cinta. Kehadiran kafe pun menandai satu masa yang beranjak: kafe tidak lagi menandai malam kota-kota besar.

Konsep nongkrong kafe pada era digital saat ini mengalami perubahan yang amat signifikan. Kafe di zaman dahulu adalah tempat para esmud-esmud (eksekutif muda) berkumpul di kota-kota besar seusai meeting. Saat ini kafe-kafe tidak hanya di kota besar, tapi juga di Banyuwangi berkembang bagai jamur di musim hujan; segar dan cepat tumbuh. Kafe-kafe di Banyuwangi telah menemukan pemujanya. Pergeseran pola ngopi di warung kopi (warkop) dengan pengunjung orang tua saja dengan pola ngopi ala kafe mulai terlihat di Banyuwangi. Nongkrong atau nongki menjadi lumrah dan biasa terjadi di malam minggu atau malam-malam liburan atau hari-hari biasa yang melelahkan seusai bel pulang: sekolah, kuliah, kerja. Atau hanya ingin berbeda suasana ngopi sembari bertemu dan bersua dengan teman, sahabat, atau saudara.

Ditilik dari etimologi katanya, kafe memang bukan berasal dari negara kita. Kata kafe bukan berasal dari bahasa Indonesia, memang bisa saja kafe diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi warung kopi. Namun, sebetulnya kata kafe berasal dari bahasa Prancis yang berarti tempat minum kopi. Kata Café diserap bahasa Indonesia dan mengalami sedikit perubahan dari bahasa aslinya. Kemudian digunakan hingga biasa didengar oleh orang-orang Indonesia seperti yang kita tahu ini selama ini yakni kafe. Mendengar kata kafe di Indonesia amat identik dengan anak muda, kopi, dan camilan, khususnya camilan berupa kentang goreng. Sedangkan warung kopi berjaya dengan kopi hitam sasetan atau kopi asli racikan penjualnya yang bertemu dengan gorengan; pisang, tahu, atau tempe, onde-onde, dan jenis-jenis gorengan lainnya.

Kafe bisa pula berarti modernisasi warung kopi atau warung kopi yang munggah kelas. Menyediakan tidak sekadar kopi dan gorengan, tapi juga pergaulan; gaya hidup masa kini. Tempat bersosialiasi dan berkomunikasi. Berjumpanya arus pemikiran anak-anak muda mengatasi segala keriwehan dan keruwetan hidupnya.

Meski sempat melewati masa pandemi selama kurang lebih dua tahun, ditutupnya kafe sebagai pusat nongki, sebab harus menjaga jarak dan menghindari kerumunan, perjalanan kafe-kafe di Banyuwangi mulai menuju jalan yang lebih lapang dan terang dengan tampilan dan aturan baru pasca-pandemi. Tidak hanya tempat nongki, tapi juga tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas. Sebab, saat ini tugas-tugas tidak harus melulu dikumpulkan dengan berkas berupa kertas.

Tugas-tugas pelajar dan mahasiswa lebih banyak dikumpulkan secara online daripada offline. Sehingga membutuhkan jaringan internet atau WiFi. Memilih kafe sebagai tempat nongki dan nugas adalah pilihan cerdas. Dengan mengeluarkan uang sebesar kurang dari lima puluh ribu nongkrongnya dapat, tugas-tugas selesai, bisa bergaya juga sambil pasang foto diri sedang nugas dan ngopi. Sebuah paket lengkap yang hemat.

Memilih kafe sebagai tempat ngopi plus nunut WiFi bukan hanya pada saat ada tugas saja, tapi bisa juga rapat zoom, rapat direksi “kekinian” yang bosan dengan dinding-dinding di kantor, arisan emak-emak, hingga anak-anak, sekadar membuat janji, melepas lelah dalam sehari, atau me and coffee alias me time.

Bercengkrama di kafe berarti berliterasi dan “membaca informasi” tentang kopi. Berliterasi dan “membaca” menu-menu yang tersedia yang mungkin belum pernah kita dengar sebelumnya. Meski dengan basic kopi, kopi di kafe berbeda dengan kopi yang tersedia di rumah-rumah pada umumnya. Kafe satu dengan kafe lainnya mempunyai signature menu atau kekhasan dan menu andalan tersendiri.

Rasa-rasanya, di waktu kecil dulu yang namanya kopi, ya kopi saja. Berwarna hitam pekat, dengan aroma yang khas. Paling-paling campurannya jahe atau susu. Lha, sekarang ini? Apalah arti ngopi, bukan berarti kopi saja, hitam saja. Kopi sekarang campurannya bermacam-macam. Bercampur soda, air kelapa, sirup, madu, bahkan kopi dengan after taste buah-buahan, sandingannya bukan lagi hongkong atau weci dan tahu isi, tapi spageti carbonara fettucini.

Bahkan, kopi-kopi di kafe-kafe itu punya embel-embel nama tidak cuma kopi, tapi bertambah cantik dengan embel-embel arabica, robusta, luwak, exelsa, dan sebagainya. Ditambah pula dengan cara seduhan yang tidak biasa. Jika di rumah membuat kopi ya dengan diseduh air panas sudah cukup dan selesai. Lain halnya dengan di kafe. Jika awalnya kita hanya tahu kopi tubruk, di kafe kita bisa berliterasi dengan mengenal istilah cold brew, doppio, macchiato, americano, latte, espresso, blend, ristretto, long black, manual brewing, single origin, affogato, balance, drip, shot, roasting, dan banyak lainnya yang menambah perbendaharaan kata tentang kopi. Jadi, tidak hanya kopi hitam tok!

Banyuwangi sudah tidak seperti Banyuwangi sekian puluh tahun lalu. Perubahan-perubahan tidak hanya terjadi pada sektor pemerintahan dan pariwisata saja. Tetapi juga perekonomian mengalami peningkatan yang sangat pesat. Apalagi Pemkab Banyuwangi juga konsen dan menitikberatkan perhatiannya salah satunya pada perekonomian warga. Pusat perbelanjaan, pasar-pasar modern, dan bertebarannya kafe di Banyuwangi ialah penanda bahwa roda perekonomian warga beranjak.

Satu kafe berdiri, berarti ada beberapa orang yang memulai pekerjaan baru, membuka lapangan pekerjaan untuk orang-orang sekitar. Mulai dari owner, kasir, barista, waiter, bahkan tukang delivery order.

Puluhan kafe tersebar di pusat kota Banyuwangi. Sebut saja Kemunir Kafe dengan konsep Kafe Ala Rumahan. Disusul kafe-kafe lain; Metronome Bruh Koffiehuis, Albirru, Jamika, Ais Coffee, Sumber Rezeki, Tamulang , D’ copiz, Palm Sugar, 53 Coffe.id, Café De Giri, Kopi Jotos, Ospresso Coffee House, Kopi Handy, Tamulang Co-Working Space And Café, D’cinnamon Coffee Shop, Dkoko Kedai Kopi And Eatery, Palm Sugar Café, Java Sunrise Café, Kopine Café, Albirru, 12bar, Kemunir, Talk, Pinarak, Kopi Rencek, Metronome, Atap Langit, Kopi Tetangga, Hutan Tropis, Fox Coffee, Kopine Café, Indische, Sogok Ontong, Java Sunrise, dan lain-lain, dengan beragama keunikan yang dimiliki masing-masing.

Masih banyak kafe lainnya yang tersebar tidak hanya di Banyuwangi kota, tapi hingga pelosok desa. Kondisi ini adalah dua sisi mata uang yang sangat tajam sisi-sisinya. Kehadiran kafe menjadi pilihan untuk healing dan menenangkan diri. Tempat nugas dan nunut WiFi dan tentu saja penambah income. Namun, di sisi lain gaya hidup ngafe akan menjadi buruk, jika tidak dikendalikan, terutama bagi pelajar atau mahasiswa yang masih nodong uang pada orang tua.

Terlepas dari itu semua, minum kopi di kafe atau di warung atau bergantung banyak tidaknya isi kantong. Sesekali marung, sesekali ngopi, tak apa, kan? (*)

*) Penikmat Kopi. Dosen Fakultas Ekonomi Untag 1945 Banyuwangi. Kepala Pusat Penerbitan dan Publikasi Untag Banyuwangi Press. Editor : Ali Sodiqin
#kafe #kolom #artikel #opini #kopi