Akhir-akhir ini, banyak sekali ditemukan oknum santri tidak kerasan di pondok. Ada yang bilang terlalu banyak aturan, waktu bermain sedikit, dan ini yang sering kami dengar, ”Coba saja kalau ada ponsel kan enak. Pasti tidak akan ada ceritanya santri yang tak kerasan di pondok”.
Benarkah begitu? Jika memang benar, maka kami katakan kalian termasuk orang-orang yang rugi, sebab kalian tidak mengetahui tujuan mondok sebenarnya, yakni ”mondhuk ntar ngajhi ben ngabdhi” itu merupakan tulisan yang tidak asing jika Anda mondok di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, di mana pondok tersebut memiliki banyak barokah serta banyak juga bala’-nya. Namun, itu bukan topik yang akan kami bahas.
Kenapa kami mengatakan kalau kalian termasuk orang-orang yang rugi? Karena di pondok telah terlahir orang-orang sukses yang akan membuat maju negara bagi mereka yang niat benar-benar mengabdi dan mengaji di pondok. Bagaimana dengan mereka yang niatnya salah?
Berikut beberapa cara agar kerasan di pondok ala santri senior yang bijak nan keren:
Pertama, niat diperbaiki. Niat diperbaiki (perbaiki niat) itu merupakan hal yang harus diperhatikan pertama kali, sebab niat yang baik akan berujung baik, sedangkan niat yang buruk akan berujung buruk juga pada akhirnya.
Kedua, mencari kesibukan. Sibuk kok dicari, kan lebih santai kalau tidak sibuk? Begini, karena jika kita terus sibuk, otomatis kita tidak akan terlalu sering memikirkan bagaimana keadaan di rumah yang menjadi penyebab kita tidak kerasan di pondok. Dan jika kita terbiasa sibuk, maka dengan sendirinya kita akan terbiasa dengan hal tersebut, alhasil kita jadi kerasan di pondok. Tapi, carilah kesibukan yang berdampak positif.
Ketiga, ikut organisasi. Organisasi di pondok tidak sama dengan organisasi di luar sana, akan tetapi organisasi di pondok ini merupakan keluarga ketiga setelah rumah dan asrama. Ada pepatah yang mengatakan, ”Jika tidak ingin sakit hati, maka jangan ikut organisasi” dari kalimat itu kita bisa paham bahwa organisasi bukan hanya kumpulan orang-orang biasa, melainkan kita adalah keluarga berbeda kota yang disatukan oleh lembaga organisasi luar biasa. Itu di pondok.
Keempat, memperbanyak kenalan. Makna dari memperbanyak kenalan di sini bukan cuma kenal wajahnya saja, melainkan kenal layaknya teman. Maksudnya, minimal kita tahu nama dan dari mana dia berasal, lebih-lebih kalau tahu sikapnya, hal ini juga menjadi sorotan agar kita bisa kerasan di pondok. Sebab, hal-hal yang paling menyenangkan di pondok adalah kebersamaan. (*)
*) Siswa aktif SMA Ibrahimy 1 Sukorejo, Situbondo. Editor : Ali Sodiqin