Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sehat Urusan Manusia, Sedangkan Mati Urusan Allah

Ali Sodiqin • Sabtu, 16 Juli 2022 | 18:00 WIB
Ayu Rosalinda
Ayu Rosalinda
KESEHATAN adalah nikmat terbaik dari Allah yang tiada bandingnya, maka bersyukurlah dengan sehat yang Allah diberikan secara gratis dan terus menerus. Tidak terputus sejak kita masih kecil sehingga dewasa ini. Baik sehat jasmani maupun rohani.

Apa yang telah Allah karuniakan kepada kita, kita wajib menjaganya sampai mati. Menjaga kesehatan adalah mutlak urusan manusia itu sendiri, urusan kita masing-masing, bukan urusan Tuhan. Terapkan cara mengelola hidup sehat kita, apakah dengan berolahraga, makan makanan sehat, tidak sering mengonsumsi hal-hal yang merugikan tubuh seperti rokok dan lain sebagainya. Semua itu adalah bentuk usaha kita selagi masih diberi umur oleh Allah di dunia.

Rasulullah SAW bersabda: “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,[4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.”(HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok-nya).

Menjaga kesehatan itu penting. Kesehatan yang tidak dijaga justru penyebab kematian seorang datang begitu cepat. Ada banyak penyakit yang berujung kematian. Penelitian menyimpulkan, stres pemicu berbagai macam penyakit datang dan akhirnya berujung kematian. Dari situ disimpulkan bahwa menjaga kesehatan bukan hanya sekadar sehat luar saja. Melainkan juga sehat di dalam. Karena sehatnya badan tergantung pada sehat hati dan pikiran.

Konsep “sehat”, World Health Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas. Yaitu “keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat”. Dalam definisi ini, sehat bukan sekadar terbebas dari penyakit atau cacat.

Jika ada waktu sehat, tentu juga ada waktu sakit. Tidak bisa selamanya manusia itu selalu sehat seumur hidup tanpa sakit sedikit pun.  Jika tubuh diterpa sakit, kita wajib berobat dan tetap berusaha semampu kita sampai Allah membukakan jalannya. Kadang kala sakit itu tidak kunjung sembuh maka janganlah larut dalam sedih, merasa takut, iri pada orang lain yang sehat, atau bahkan memiliki hati yang berputus asa. Penyakit yang Allah berikan pasti juga ada bersama obatnya. Tetapi sebagai manusia kita harus terus berusaha tidak putus asa dari rahmat Allah.

Allah melarang manusia berputus asa sebagaimana dalam QS (An Nisa [4] : 32) “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Begitupun saat kita dihadapkan dengan kematian atau kehilangan orang yang kita cintai, pasti akan merasakan sedih, apa lagi jika semasa hidup, mereka adalah orang yang sangat dekat, Tentu saja kepeegian akan menyebabkan luka dan kesedihan mendalam. Contohnya adalah keluarga, mereka adalah sosok penting yang tidak dapat tergantikan. Saat mereka meninggal dunia tentu rasa sedih tidak dapat dihindari.

Apakah kematian orang sudah ditentukan? Tentu saja setiap kematian adalah takdir yang tidak dapat lepas atau diganggu gugat. Setiap manusia akan mengalaminya di mana pun dan kapan pun tanpa memandang usia. Takdir ini adalah ketentuan mutlak dari Allah SWT yang pasti berlaku pad semua makhluknya dan manusia itu sendiri tidak diberi peran untuk ikut mengaturnya.

Allah berfirman: “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal? (QS Al-Anbiya: 34).

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkan-nya barang sesaat-pun dan tidak dapat (pula) memajukan-nya,” (QS Al A’raf: 34)

Setiap yang bernyawa tidak akan mati melainkan atas izin Allah, dan setiap yang bernyawa akan mati sebagai ketetapan yang telah ditentukan Allah berdasar waktu yang telah ditentukan. Takdir tentang kematian telah ditentukan jauh sebelum seseorang dilahirkan. Allah menuliskan di Lauhul Mahfudz, lengkap dengan waktu dan sebab kematiannya.

Nanti jika kita meninggal dunia, barulah merasakan penyesalan mengingat hidup di dunia yang hanya sekelebat bayangan. Hal inilah yang membuat kita belajar, kenapa manusia harus bersyukur selama hidup di dunia dan berusaha menjaga nikmat kesehatan selama Allah masih memberikan naps kehidupan padanya. Pada akhirnya manusia hidup dan juga meninggal dunia.

Rasulullah SAW mengatakan bahwa orang yang banyak mengingat kematian adalah orang yang cerdas. Hikmah dari kehidupan yang bersisian dengan kematian adalah hati semakin tenteram, tidak terlalu rakus dengan kehidupan dunia, dan tidak terlalu banyak angan-angan. Sebenarnya sumber dari segala kesusahan adalah banyaknya keinginan.

Keinginan manusia tidak pernah ada batasnya. Segala hal akan dilakukannya dan otak akan terus berputar mencari cara untuk memenuhinya, sehingga jadilah ia manusia yang lalai dari kehidupan, berfoya-foya, bahkan mengabaikan kematian.

Sekali lagi, sehat adalah mutlak urusan manusia sedangkan kematian adalah urusan Allah semata. Apa yang telah Allah karuniakan kepada kita, kita wajib menjaganya sebaik kita. Selagi Tuhan masih memberikan kesempatan hidup dan sehat untuk kita, maka jagalah kesehatan itu sebagai bentuk syukur dan ikhtiar kita pad Allah SWT. Dari bentuk ikhtiar tersebut, kelak semoga kita juga akan diberikan umur yang panjang serta hidup tenteram dan penuh barokah. Amin. (*)

*) Mahasiswi IAI Darussalam, Blokagung, Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin
#kolom #sehat #artikel #refleksi #mati #opini