Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Peran  IKSASS  Mengawal Peradaban Pesantren Dalam Perjuangan

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Jumat, 10 Juni 2022 | 12:36 WIB
Abd. Rahman Saleh, SH, MH, Dosen Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo
Abd. Rahman Saleh, SH, MH, Dosen Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo

IKATAN  Santri-Alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS) Sukorejo Situbondo adalah wadah santri  dan alumni untuk meneruskan cita ideal perjuangan yang telah dibangun melalui pendidikan dengan karakter pesantren. Di Pesantren Salafiyah-syafiiyah Sukorejo itulah para santri dididik dengan karakter didikan yang selalu mengajarkan kepada agama Islam sebagai filosofi pondasi dasarnya. Di dalamnya diajarkan ahlakul karimah dan ahlak keimanan agar selalu sejalan dengan pondasi besar Agama Islam. Ada kebaikan, ada nilai keimanan dan ketakwaan dan ketaatan kepada ajaran Allah dan ajaran Kanjeng Nabi Besar Muhammad SAW.

Santri adalah merupakan cikal bakal alumni. Santri adalah penerus berkepanjangan cita-cita Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo agar ada kelanjutan nyata dalam kiprahnya di tengah kehidupan masyarakat. Wadah alumni terukur dan tersepakati bernama IKSASS. Yakni Ikatan Santri Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah. Organisasi itu sebagai tempat dan payung wadah dan sebagai perekat kohesi berkiprah dan mengabdi di kehidupan masyarakat. IKSASS dibangun dengan tujuan agar ada wadah, ada tempat untuk menyambungkan amanah perjuangan pondok pesantren bagi para santri dan para alumi. IKSASS sebagai perekat hubungan emosional antara  para  pendiri dan para pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo  dengan para santri dan alumni.

IKSASS lahir untuk menyemarakkan syiar Islam untuk selalu terbangun dengan bangunan apa yang telah diajarkan di pondok  pesantren. Santri dan alumni terwadahi dengan nyaman, sehingga sambungan terasa lebih tertata dengan baik. Pendiri IKSASS yang sekaligus pengasuh Pesantren Sukorejo, yakni KHR Achmad  Fawaid As’ad  Syamsul Arifin  telah memberikan titah juang  bahwa IKSASS  sebagai wadah pengikat antara kiai, pengurus pesantren, ahlul  bait, santri  dan alumni. Walau IKSASS santri dan alumni terpisah, namun  silaturrahim  antar mereka tidak boleh terputus. Sehingga, terjalin  hubungan yang harmonis.

Garis lurus titah dan perjuangan IKSASS merupakan roh yang harus dirawat. Karena bagaimanapun IKSASS merupakan bukti  nyata ada ajaran kebenaran di pesantren yang tetap wajib dan harus diperjuangkan dengan lebel perjuangan mengabdi tanpa batas. Sepanjang perjuangan itu bertujuan untuk kebaikan, untuk meluruskan yang tidak lurus, membenarkan yang tidak benar dan selalu meracik kebenaran adalah merupakan hal yang mulia dalam  perjuangan IKSASS. Para pengasuh terdahulu, yakni KHR Syamsul Arifin, KHR  As’ad Syamsul Arifin, KHR Fawaid As’ad  Syamsul  Arifin, tentunya akan tersenyum bila alumni yang tergabung dalam IKSASS tetap kokoh dalam perjuangan. Karena perjuangan yang terukur melalui IKSASS itulah perjuangan beliau sebagai cita luhur dan mulia dari pondok Pesantren Sukorejo.

Pengasuh saat ini  K. H.R  Ach. Azaim Ibrahimy  telah menggariskan bahwa setiap santri alumni  harus menjaga kealumniannya  dengan berkhidmat  di garis perjuangan IKSASS.  Merawat IKSASS dengan jalan perjuangan yang nyata. Itu adalah sebuah khidmat perjuangan yang luhur dan mulia.  Sehingga, apa yang diajarkan di pondok pesantren terkohesi dan berbanding lurus dengan pengabdian yang nyata di masyarakat  sebagai pengabdian alumni    dari pondok pesantren.

Tidak terasa Mubes atau Musyawarah Besar dari IKSASS  ke-10  akan dihelat tanggal 9 sampai 11 Juni 2022. Sebuah  momen empat tahunan yang terukur untuk meneguhkan evaluasi IKSASS dalam garis lurus perjuangan. Mengambil tema : ‘meneguhkan khidmah organisasi untuk persaudaraan  menuju peradaban pesantren’. Tema ini akan semakin meneguhkan IKSASS pada kemaslahatan dengan karakter persaudaraan bahwa kita semua itu adalah saudara. Garis sedarah dan garis seperjuangan  yang tidak lain adalah  semuanya untuk peradaban pesantren. Peradaban pesantren adalah peradaban kultur yang sejuk yang di dalamnya tidak ada keangkuhan dan tidak ada kesombongan. Prilaku santri dan prilaku pendidikan dan akademiknya selalu beradab dan selalu toleran yang membumi di muka bumi sebagai ruhul Islam yang melekat dalam kehidupan Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo.

Peradaban pesantren menjadi tema besar di Mubes ke 10 ini menunjukkan bahwa peradaban pesantren harus terjaga dengan baik. Zaman yang serba modern seantero negeri menuntut peradaban pesantren tetap terjaga dengan baik dan tidak tergerus dengan egoisme zaman yang serba teknologi yang kadang merusak peradaban zaman itu sendiri. Pesantren dengan filosofi kepesantrenan mengikatkan kehendak yang tetap beradab, tetap santun, tetap menjaga marwah dan wibawa pesantren meskipun peradaban semakin modern.

Dalam kiprahnya di masyarakat, IKSASS menjadi pengawal nilai-nilai perjuangan. Perjuangan menjadi ukuran hakiki  pondasi dasar agar tidak tergelincir kepada sikap angkuh dan sombong. Peran dan kiprah dari IKSASS tetap ditunggu oleh masyarakat  sebagai jalur perjuangan IKSASS itu sendiri. Marwah dan wibawa IKSASS harus terjaga dan tetap beradab dalam mengambil sikap perjuangan. Perjuangan yang tiada henti dan tiada batas menuntut sikap moral dan sikap batin yang harus ikhlas dari segala sisi. Ikhlas dalam berjuang, ikhlas dalam mengabdi dan ikhlas  dalam membangun  menuju peradaban  pesantren yang lebih membumi dalam kiprahnya. Banyak peran dan kiprah yang bisa dijadikan kiprah IKSASS di masyarakat. Peran keagamaan, peran sosial dan peran bantuan hukum bagi masyarakat miskin yang membutuhkan bantuan hukum. Sudah saatnya IKSASS  mengambil peran bantuan hukum bagi kalangan orang miskin yang memerlukan bantuan hukum. Karena saat ini bantuan hukum bagi orang miskin yang tidak mampu secara ekonomi  bisa diperankan dengan baik oleh IKSASS. Saatnya IKSASS  membentuk LBH IKSASS  sebagai salah satu alur perjuangan yang penuh keikhlasan. Karena perjuangan tidak hanya berbentuk pemberian materi, tapi juga merupakan sebuah bentuk pengabdian yang tanpa batas.

Peradaban pesantren harus tetap terjaga dengan baik. Kultur pesantren dan ajaran tatakrama pesantren selalu menjadi jujukan perjuangan IKSASS. Jangan sampai lepas kendali dari nilai-nilai luhur pesantren sebagai ujung tombak perjuangan. Perjuangan  selalu tersambungkan dengan pesantren sebagai kiblatnya perjuangan di tubuh IKSASS.

Langkah riil dan kongkrit dalam garis lurus perjuangan IKSASS  dibutuhkan. Gerakan perjuangan tidak hanya sebatas slogan dan ucapan yang tanpa sikap dan tindakan. Tindakan nyata itu adalah sebuah kebutuhan yang harus dilaksanakan. Berkiprah di manapun dan mengabdi di manapun IKSASS harus tetap melekat di dada dan hati dalam mengabdi. Banyaknya alumni Pesantren Salafiyah Syafiiyah  Sukorejo  yang telah tersebar di seantero negeri, menjadi bukti nyata bahwa keberadaan pondok Pesantren Salafiiyah Syafiiyah Sukorejo  Situbondo  menjadi bagian dari Indonesia  sebagai jalan didikan ilmu.

Sikap batin dalam garis lurus perjuangan dilakukan dengan nilai-nilai peradaban pesantren  yang menjadi ukuran pengabdian. Menjaga martabat dan menghargai para guru-guru dan meneruskan titah guru–guru dalam kebaikan kemasyarakatan itulah IKSASS yang sebenarnya. Tidak ada keberpalingan para alumni. Para alumni tetap kokoh dengan ajaran kebaikan. Tidak berpaling kepada kejahatan moral tetapi selalu menjujung moaralitas pesantren yang telah melekat di dalam ajaran pesantren. Para santri dan para alumni itu adalah satu saudara dalam garis  nasab kepesantrenan. Semuanya adalah santri dan alumni Pondok Pesantren Salafiiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo. Tidak ada  skat pembeda dalam perjuangannya  semuanya  mengabdi tanpa batas dan tidak ada ukuran batas. selalu terdepan dalam lingkar kebaikan.

Dengan Mubes ke-10 ini, setidaknya ada eveluasi diri bagi IKSASS  untuk menatap masa depan IKSASS. Dengan perkembangan peradaban yang lebih maju IKSASS harus mengambil peran mengawal peradaban. Sinyal-sinyal kontrol  bagi keberadaan santri dan para alumni harus dijadikan kacamata kontrol agar kiprah para santri dan para alumni lebih tertata dengan baik . baik dari sisi organisasi di IKSASS itu sendiri. Maupun tata kelola kiprahnya di masyarakat lebih tertata dengan titah garis lurus perjuangan. IKSASS pusat mengomando garis lurus perjungan untuk mengawal peradaban. Jadikan peradaban pesantren  sebagai sumbu nilai terdepan dalam perjuangan. Tidak ada hiruk pikuk  yang melanggar peradaban pesantren dan  IKSASS-lah yang memotorinya dan mengontrolnya bagi para santri dan alumni. Kerekatan IKSASS se nusantara menjadi dorongan yang besar untuk tetap merawat perjuangan. Perjuangan dalam mengabdi di segala sisi sesuai dengan keahlian para santri dan para alumni  nilai-nilai peantren harus tetap terjaga dan terawat dengan baik.

Semoga di Mubes  Iksass yang ke-10 ini juga melahirkan pemimpin yang lebih progresif yang punya tanggungjawab untuk membesarkan IKSASS  dalam mengawal garis lurus perjuangan. Bisa menatata IKSASS  ke depan lebih baik dan lebih amanah dan selalu ada keluhuran sikap budi dari iksass dengan tetap mengedepankan peradaban dan ajaran Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo dalam pengabdiannya. Semoga. (*)

Editor : Muhammad Khoirul Rizal
#kolom #iksass #pesantren sukorejo #artikel #opini