RADARBANYUWANGI.ID - Pelabuhan ASDP Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, mengalami kemacetan lalu lintas parah sejak Selasa malam (15/7).
Antrean kendaraan bahkan dilaporkan mencapai panjang lebih dari 30 kilometer, melumpuhkan akses dari dua arah.
Kondisi ini dipicu oleh inspeksi teknis kapal yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di dermaga LCM.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Muhammar Masyhud, menyampaikan bahwa inspeksi dilakukan sebagai upaya penting untuk meningkatkan keselamatan pelayaran, menyusul tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya sebelumnya.
Dari total 54 kapal yang diperiksa, sebanyak 15 kapal dinyatakan tidak laik laut, sementara 39 kapal dinyatakan siap beroperasi.
Hingga Rabu (16/7), enam kapal tambahan dinyatakan memenuhi syarat untuk melayani lintasan Ketapang–Gilimanuk.
Namun, keterbatasan jumlah kapal ini menyebabkan antrian kendaraan logistik memanjang, dan memicu aksi protes dari sopir truk.
Dalam protes tersebut, sebagian sopir bahkan sempat memblokir akses menuju pelabuhan, memperparah situasi.
Aksi Protes dan Kekacauan Lalu Lintas
Kendaraan dari arah Situbondo menuju Pelabuhan Ketapang dilaporkan menggunakan dua jalur sekaligus, menyebabkan kendaraan dari arah berlawanan tidak bisa melintas. “Menumpuk, adu banteng di sana,” ujar Aris, pengurus truk logistik.
Protes ini berujung pada kemacetan luar biasa, dengan sejumlah sopir mengaku terjebak hingga 30 jam tanpa bisa bergerak.
Salah satunya, Tri Hari Prasetyo, 62, sopir pengirim barang dari Surabaya ke Bali, mengaku terjebak selama 17 jam di jalur Bangsring–Ketapang.
“Biasanya cuma 20 menit dari Bangsring ke pelabuhan, ini sudah belasan jam tidak bergerak,” keluh Tri.
Baca Juga: Macet Ketapang Tak Pernah Selesai, Ini 5 Momen Kemacetan Terparah dalam 3 Tahun Terakhir
Upaya Penanganan dari Pihak Berwenang
Pihak Polresta Banyuwangi, melalui Kapolresta Kombespol Rama Samtama Putra, telah mengerahkan personel dari Satlantas dan Pamobvit untuk mengurai kemacetan.
Pihak kepolisian juga menyebut bahwa banyaknya kendaraan tanpa tiket penyeberangan turut menjadi penyebab kepadatan di pintu masuk pelabuhan.
“Penyebab utama tetap karena berkurangnya kapal. Tapi penanganan di jalur arteri menjadi prioritas kami saat ini,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala KSOP Kelas III Tanjung Wangi, Purgana, menegaskan bahwa inspeksi ini penting untuk menghindari insiden serupa di masa mendatang.
Ia meminta masyarakat memahami bahwa keselamatan pelayaran adalah tanggung jawab bersama.
Respons dari Pihak Terkait
Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry, Shelvy Arifin, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi dan menyebut bahwa koordinasi terus dilakukan untuk mempercepat normalisasi layanan.
“Langkah inspeksi ini adalah bentuk mitigasi risiko dan bagian dari komitmen terhadap keselamatan,” ujar Shelvy.
Sementara itu, Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI) melalui ketuanya, Slamet Barokah, meminta agar armada yang belum masuk wilayah Banyuwangi untuk menunda perjalanan agar tidak menambah beban jalur yang sudah padat.
Prioritas Keselamatan dan Evaluasi Sistem Penyeberangan
Kementerian Perhubungan memastikan bahwa inspeksi terhadap kapal akan terus dilakukan secara berkala.
Meski menyebabkan dampak jangka pendek berupa kemacetan dan keterlambatan logistik, keselamatan penumpang dan kru kapal tetap menjadi prioritas utama.
Masyarakat diimbau untuk menunda perjalanan ke Bali, kecuali untuk kebutuhan mendesak, hingga kondisi pelabuhan kembali normal.
Pihak-pihak terkait juga diminta untuk meningkatkan manajemen lalu lintas, mencegah pengendara mengambil jalur lawan arah, serta menertibkan kendaraan tanpa tiket.
Ke depan, diharapkan adanya perbaikan sistem distribusi tiket dan informasi keberangkatan kapal untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali. (*)
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News.
Editor : Lugas Rumpakaadi