Radarbanyuwangi.id – Dalam dunia penerbangan sering muncul pertanyaan besar, lebih aman mana, pesawat bermesin baling-baling atau pesawat jet?
Bagi yang sudah mendalami bidang kedirgantaraan, tentu sudah maklum bahwa penerbangan komersial sangat aman. Ini karena standar opersional prosedur yang sangat ketat dalam transportasi udara.
Namun bagi penumpang awam, terkadang ada beberapa pertanyaan besar yang mendasar seperti itu. Tak perlu heran, karena masih ada beberapa rute penerbangan pendek di Indonesia, yang masih mengoperasikan pesawat bermesin propeller.
Sebut saja masih banyak armada pesawat ATR-72 yang bermesin baling-baling untuk rute pendek. Di Bandara Banyuwangi, pesawat macam ini pernah melayani rute Banyuwangi-Surabaya beberapa tahun silam.
Sedangka rute penerbangan perintis masih ada yang memanfaatkan pesawat baling-baling tunggal jenis Grand Caravan. Pesawat jenis ini pernah melayani rute Bandara Banyuwangi menuju Sumenep di Pulau Madura.
Bahkan, tingkatan pendidikan pilot di Indonesia biasanya diawali dari pengenalan pada pesawat latih berukuran kecil dengan mesin baling-baling tunggal. Sebut saja pesawat Cessna, seperti yang jatuh di Pantai Gumuk Kantong, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Selasa siang 4 Februari 2025.
Pada perkembangan pendidikan pilot level berikutnya, barulah dikenalkan mesin baling-baling ganda. Barulah kemudian ada pendidikan pilot komersial dengan pesawat bersin jet. Begitu seterusnya.
Nah, kembali ke pertanyaan awal, lebih aman manapesawat propeller atau pesawat jet. Rupanya, di Amerika Serikat yang punya budaya transportasi dirgantara sudah maju, ternyata pertanyaan macam itu masih muncul.
Sebut saja di website aviation.stackexcange dotcom, masih muncul pertanyaan tersebut. Dalam forum website tersebut, banyak juga penjelasan dari warganet yang sudah kenyang pengalaman bdiang transportasi udara.
Seperti penjelasan akun Zeiss Ikon, yang berasal dari Carolina Utara, Amerika Serikat. Dia menjelaskan, bahwa pesawat terbang baling-baling lama lebih rentan terhadap "guncangan" dibanding jet modern. Karena satu alasan utama, yakni pesawat baling-naling biasanya terbang lebih rendah.
Ketika Zeiss masih remaja, hampir 50 tahun lalu, dia beberapa kali terbang dengan pesawat Beechcraft 99. Ini jenis, pesawat pengumpan turboprop ganda bersayap rendah dengan (IIRC) 14 atau 18 kursi.
Pengalamannya yakni sebagian besar jika tidak semua kursi memiliki pandangan ke depan yang cukup bagus. Terutama dari kaca depan awak pesawat serta ke samping di atas sayap kanan.
Pesawat ini memiliki kecepatan jelajah sekitar 200 knot, dan tidak bertekanan. Sehingga jadi terbang di bawah 12.000 kaki (3500 m). Pada hari yang cerah, akan ada guncangan setiap kali pesawat melewati kolom terma. Jika ada cuaca, setiap hembusan angin terasa nyata.
Menurutnya, Selama lepas landas dan terutama saat mendarat, sayap di luar mesin terlihat melentur. Suara dari baling-baling cukup untuk membuat percakapan menjadi sulit. Meski begitu, dia tidak merasa penerbangan itu menakutkan. Ini karena dia sudah menjadi penggemar penerbangan, dan merasa ini mengasyikkan.
Namun sekarang, pertimbangkan bahwa Beechcraft 99 merupakan peningkatan signifikan dari pesawat yang sedikit lebih besar beberapa dekade sebelumnya, yakni jenis DC-3. Pesawat DC-3 memiliki tenaga yang lebih besar, mesin yang lebih senyap, dan terbang lebih cepat .
Pesawat DC-3 terbang lebih cepat dan memiliki lebih banyak cadangan jika terjadi go-around atau mesin mati. Namun ketika diperkenalkan, DC-3 merupakan salah satu pesawat angkut dengan performa tertinggi di dunia.
Karena itu, setiap generasi pesawat telah menjadi peningkatan evolusioner dari sebelumnya. Itulah mengapa, pesawat baru akan menggantikan jenis yang sebelumnya. Bahkan pesawat jet terkecil saat ini jauh lebih besar, lebih kuat, lebih cepat, dan karena terbang lebih tinggi, lebih mulus. Sayapnya masih lentur.
Saat terbang rendah dan lambat, Anda akan merasakan guncangan akibat turbulensi dan termal. Tetapi Anda akan merasakannya lebih sedikit daripada 50 tahun lalu. (*)
Editor : Bayu Saksono