Target Tol Trans Sumatera 1.500 Km, Ini Progres Palembang-Betung dan Riau

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 16:00 WIB
Tol Trans Sumatera. (Sumber: Antara)
Tol Trans Sumatera. (Sumber: Antara)

RADAR BANYUWANGI – Target penambahan jaringan jalan tol sepanjang 1.500 kilometer hingga 2029 menjadi pekerjaan besar pemerintah dalam mempercepat pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Dua ruas yang terus dikebut, yakni Palembang-Betung di Sumatera Selatan dan Junction Pekanbaru-Bypass Pekanbaru di Riau, mencatat progres konstruksi berbeda berdasarkan laporan hingga April 2026.

Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum mendorong percepatan pembangunan sekaligus menyiapkan skema pembiayaan untuk mengejar target tersebut. Upaya ini tidak hanya mengandalkan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), tetapi juga membutuhkan dukungan pemerintah daerah dan sumber pendanaan alternatif.

Target pembangunan itu disampaikan Direktur Jenderal Bina Marga Roy Rizali Anwar dalam forum pembahasan pengembangan tahap II JTTS di Jakarta pada Selasa (24/2/2026). Penambahan jaringan tol tersebut menjadi bagian dari agenda pembangunan infrastruktur yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Roy menyebut, pencapaian target 2029 membutuhkan strategi pembangunan yang terukur dan dukungan berbagai pihak. Penugasan kepada PT Hutama Karya (Persero) melalui peraturan presiden juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat pengembangan jaringan tol di Sumatera.

“Jadi dengan target Rencana Strategis (Renstra) di tahun 2029, dan penugasan melalui Perpres kepada PT. HK, harapannya untuk mencapai target Renstra 1.500 km di tahun 2029, dan hal tersebut telah disanggupi oleh Direktur Utama PT. Hutama Karya,” ujar Roy, dikutip dari Direktorat Jenderal Bina Marga.

Tol Palembang-Betung Capai 81,99 Persen

Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah Tol Palembang-Betung di Sumatera Selatan. Ruas sepanjang 69,2 kilometer ini berperan penting dalam memperkuat konektivitas dari Palembang menuju Betung dan mendukung kelanjutan perjalanan menuju Jambi ketika jaringan tol terkait tersambung.

Berdasarkan laporan Hutama Karya pada Mei 2026, progres konstruksi ruas tersebut mencapai 81,99 persen hingga April 2026. Sementara itu, progres pengadaan lahannya berada di angka 87,45 persen.

Pembangunan Tol Palembang-Betung dibagi menjadi tiga bagian dengan capaian yang berbeda-beda.

  • Palembang-Rengas: sepanjang 21,5 kilometer, progres konstruksi 92,07 persen.

  • Rengas-Pangkalan Balai: sepanjang 33 kilometer, progres konstruksi 89,88 persen.

  • Pangkalan Balai-Betung: sepanjang 14,7 kilometer, progres konstruksi 57,17 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa dua bagian awal telah mencapai progres konstruksi mendekati penyelesaian, sedangkan bagian Pangkalan Balai-Betung masih membutuhkan pekerjaan lebih lanjut.

Perbedaan capaian ini menjadi salah satu tantangan dalam menuntaskan seluruh ruas. Penyelesaian jaringan tidak hanya ditentukan oleh progres konstruksi, tetapi juga kesiapan lahan dan tahapan pekerjaan di setiap bagian.

Jika tersambung sesuai rencana, Tol Palembang-Betung diharapkan memperlancar perjalanan antardaerah di Sumatera Selatan, meningkatkan efisiensi mobilitas barang dan orang, serta memperkuat konektivitas dengan jaringan JTTS lainnya.

Tol Lingkar Pekanbaru Catat Progres 76,30 Persen

Selain Sumatera Selatan, pembangunan jaringan JTTS di Riau juga berlanjut melalui ruas Junction Pekanbaru-Bypass Pekanbaru yang merupakan bagian dari Tol Rengat-Pekanbaru.

Laporan Media Center Riau pada 7 Mei 2026 mencatat progres konstruksi ruas sepanjang 30,57 kilometer tersebut mencapai 76,30 persen hingga April 2026. Adapun progres pengadaan lahannya tercatat 85,08 persen.

Ruas ini terbagi menjadi tiga seksi, yakni:

  • Junction Pekanbaru-Rimbo Panjang: 5,70 kilometer.

  • Rimbo Panjang-Siak: 11,70 kilometer.

  • Siak-Bypass Pekanbaru: 13,17 kilometer.

Junction Pekanbaru-Bypass Pekanbaru diproyeksikan menjadi simpul penting yang menghubungkan jaringan jalan tol di Provinsi Riau. Kehadirannya diharapkan memperkuat konektivitas di sekitar Pekanbaru sekaligus mendukung perjalanan antarkawasan.

Namun, pekerjaan konstruksi juga membutuhkan pengaturan lalu lintas. Hutama Karya menyertakan rekayasa lalu lintas di Jalan Raya Pekanbaru-Bangkinang untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

Plt Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, menyebut ruas tersebut memiliki peran penting dalam menghubungkan jaringan tol di Riau. Karena itu, penyelesaian pekerjaan konstruksi perlu berjalan seiring dengan pengelolaan lalu lintas agar aktivitas masyarakat tetap dapat berlangsung.

Target 1.500 Kilometer Butuh Pembiayaan dan Koordinasi

Target penambahan jaringan tol sepanjang 1.500 kilometer pada 2029 bukan sekadar persoalan mempercepat pekerjaan fisik. Pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan pembiayaan, kesiapan lahan, koordinasi antarlembaga, serta kesinambungan pembangunan setiap ruas.

Keterlibatan Hutama Karya menjadi salah satu unsur penting dalam pengembangan JTTS. Di sisi lain, dukungan pemerintah daerah dan sumber pembiayaan di luar APBN dibutuhkan untuk memperkuat pelaksanaan proyek sesuai target yang telah ditetapkan.

Dua proyek di Sumatera Selatan dan Riau memperlihatkan tantangan tersebut. Tol Palembang-Betung mencatat progres konstruksi 81,99 persen, sedangkan Junction Pekanbaru-Bypass Pekanbaru mencapai 76,30 persen, berdasarkan data hingga April 2026.

Keduanya menunjukkan pembangunan terus berjalan, tetapi capaian konstruksi belum seragam. Percepatan di setiap seksi dan penyelesaian pengadaan lahan akan menjadi bagian penting untuk memastikan proyek dapat dilanjutkan sesuai tahapan.

Konektivitas Sumatera Jadi Taruhan

Pengembangan Jalan Tol Trans Sumatera diharapkan memperpendek waktu perjalanan, memperlancar distribusi logistik, serta meningkatkan keterhubungan pusat ekonomi di berbagai provinsi. Dampak tersebut akan semakin terasa ketika ruas-ruas yang saat ini dibangun tersambung dengan jaringan tol yang sudah beroperasi.

Meski demikian, target 1.500 kilometer pada 2029 tetap membutuhkan realisasi pembangunan dan pembiayaan yang konsisten. Progres konstruksi menjadi salah satu indikator penting, tetapi belum cukup untuk memastikan kapan seluruh ruas dapat beroperasi.

Dengan percepatan pembangunan, koordinasi lintas sektor, dan dukungan pendanaan yang memadai, pemerintah berupaya memperluas jaringan tol Sumatera secara bertahap. Keberhasilan mencapai target 2029 akan ditentukan oleh kemampuan menuntaskan pekerjaan di lapangan sekaligus menjaga kesinambungan pengembangan jaringan. (*)

 
Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Radar Jember
Tol Palembang-Betung progres jalan tol tol pekanbaru jalan tol trans sumatera hutama karya