Veronica Tan Turun ke Banyuwangi, Dorong Aspirasi Perempuan dan Anak Jadi Dasar Program Desa

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:00 WIB
Wamen PPA Veronica Tan bersama Wabup Mujiono saat mengunjungi Lingkungan Papring, Keamatan Kalipuro, Jumat (9/10). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Wamen PPA Veronica Tan bersama Wabup Mujiono saat mengunjungi Lingkungan Papring, Keamatan Kalipuro, Jumat (9/10). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dinilai tidak akan berdampak maksimal jika disusun tanpa mendengar kebutuhan warga secara langsung. Pemerintah daerah diminta menjadikan aspirasi perempuan dan anak sebagai pijakan pembangunan hingga tingkat desa, mulai dari penguatan ekonomi keluarga, pemenuhan gizi, hingga pengembangan potensi lokal.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan saat mengunjungi Kampung Baca Taman Rimba (Batara) di Lingkungan Papring, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Jumat (9/10). Kunjungan itu sekaligus menjadi momentum peringatan 11 tahun berdirinya Kampung Batara.

Dalam dialog bersama masyarakat, Veronica menyerap berbagai aspirasi yang tumbuh dari aktivitas komunitas setempat. Mulai ruang ekspresi anak melalui musik hingga kebutuhan pemberdayaan ekonomi perempuan yang sebagian bekerja sebagai petani jagung.

Menurut Veronica, kehadiran pemerintah di tengah masyarakat penting untuk memastikan kebijakan yang dirancang benar-benar menjawab persoalan warga. Pendekatan pembangunan tidak seharusnya hanya mengandalkan instruksi dari atas, tetapi perlu membuka ruang dialog agar masyarakat terlibat dalam menentukan program yang dibutuhkan.

"Hari ini (kemarin) sebenarnya adalah acara dialog, bukan pemerintah top-down, tapi kita menerima aspirasi sebenarnya dari anak-anak muda, dari ibu-ibu yang katanya juga mereka adalah petani jagung,” ujar Veronica.

Kebun Pangan Perempuan Jadi Pintu Masuk Pemberdayaan

Salah satu gagasan yang mendapat perhatian dalam dialog tersebut adalah program Kebun Pangan Perempuan. Program ini diharapkan membuka peluang kolaborasi antara pemerintah desa, pemerintah daerah, dan Perhutani untuk memperluas akses perempuan terhadap lahan produktif.

Akses terhadap lahan dinilai dapat menjadi modal penting bagi perempuan untuk mengembangkan kegiatan produktif, terutama bagi mereka yang selama ini menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian. Jika dikelola secara berkelanjutan, kebun pangan berpotensi mendukung ketersediaan pangan keluarga sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan.

Bagi perempuan petani jagung di Lingkungan Papring, pemberdayaan ekonomi tidak cukup berhenti pada pelatihan atau kegiatan sesaat. Dukungan terhadap akses produksi, pengelolaan hasil, dan peluang pemasaran juga menjadi bagian penting agar kegiatan ekonomi yang dikembangkan mampu memberikan manfaat nyata.

Karena itu, program Kebun Pangan Perempuan diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan pemberdayaan, tetapi juga bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi desa.

Kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu faktor penentu. Pemerintah daerah, pemerintah desa, dan Perhutani perlu menyelaraskan kebutuhan masyarakat dengan ketersediaan lahan serta mekanisme pengelolaannya agar program dapat berjalan sesuai tujuan.

Pencegahan Stunting Dimulai dari Keluarga

Selain pemberdayaan ekonomi, Veronica menyoroti pentingnya pemenuhan gizi dan pola asuh dalam keluarga. Menurut dia, upaya mencegah stunting tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah, tetapi juga membutuhkan pemahaman orang tua mengenai kebutuhan gizi anak.

Edukasi keluarga perlu diperkuat agar masyarakat mampu memanfaatkan bahan pangan lokal yang bergizi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Pendekatan tersebut dapat menghubungkan program ketahanan pangan dengan upaya meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak.

Dengan demikian, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dapat berjalan beriringan. Perempuan yang memiliki akses terhadap kegiatan ekonomi produktif diharapkan mempunyai peluang lebih besar untuk mendukung kesejahteraan keluarga, sementara pengetahuan mengenai gizi dan pola asuh membantu memastikan kebutuhan anak tetap menjadi perhatian utama.

Veronica menekankan pentingnya memahami kondisi masyarakat secara langsung agar program yang disusun sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Dialog bersama warga menjadi salah satu cara untuk mengidentifikasi persoalan sekaligus menemukan potensi lokal yang dapat dikembangkan.

Kampung Batara Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Berbasis Kearifan Lokal

Sementara itu, Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menilai Kampung Batara memiliki modal lokal yang kuat untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata berbasis kearifan lokal. Potensi tersebut mencakup kerajinan bambu, produk olahan pangan, serta berbagai kegiatan pemberdayaan perempuan yang tumbuh di tengah masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berencana mendorong pengembangan Kampung Batara melalui beragam atraksi wisata, festival, dan pasar yang dapat menampung produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) warga.

Konsep pengembangan kawasan tersebut dapat dilengkapi ruang terbuka hijau, panggung pertunjukan, serta area pemasaran produk lokal. Dengan dukungan fasilitas dan kegiatan yang sesuai, potensi komunitas diharapkan mampu menarik pengunjung sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi warga.

“Program kita itu setiap tempat menjadi destinasi, setiap kegiatan menjadi atraksi,” ujar Mujiono.

Gagasan tersebut menempatkan aktivitas masyarakat sebagai daya tarik utama. Kerajinan bambu, kuliner lokal, pertunjukan seni, hingga kegiatan komunitas dapat dikemas menjadi pengalaman wisata yang mencerminkan identitas Kampung Batara.

Pendekatan ini juga membuka peluang agar manfaat pariwisata tidak hanya dirasakan oleh pengelola destinasi, tetapi menjangkau pelaku UMKM, pengrajin, petani, dan kelompok perempuan yang terlibat dalam kegiatan ekonomi setempat.

Kolaborasi Pemerintah dan Warga Jadi Kunci

Mujiono menegaskan, pengembangan Kampung Batara membutuhkan keterlibatan berbagai tingkatan pemerintahan, mulai pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan, hingga desa. Kolaborasi tersebut diperlukan agar potensi lokal dapat dikembangkan secara terarah tanpa menghilangkan karakter dan kearifan masyarakat setempat.

“Kalau perlu ada festival di sini, kita optimalkan. Sehingga dampaknya kepada masyarakat. Kearifan lokalnya tumbuh, UMKM-nya tumbuh dan lain sebagainya,” tegasnya.

Rencana pengembangan itu menempatkan Kampung Batara bukan sekadar sebagai ruang baca atau pusat aktivitas komunitas, melainkan juga sebagai ruang pemberdayaan ekonomi, pelestarian budaya, dan pengembangan wisata lokal.

Namun, keberhasilan pengembangan kawasan tetap bergantung pada keterlibatan masyarakat dalam menentukan arah program. Aspirasi perempuan, kebutuhan anak, kesiapan pelaku UMKM, dan keberlanjutan kegiatan komunitas perlu menjadi pertimbangan dalam setiap tahapan pengembangan.

Peringatan 11 tahun Kampung Batara pun menjadi momentum untuk memperkuat peran komunitas dalam pembangunan desa. Pesan Veronica menegaskan bahwa program yang berdampak harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, sedangkan gagasan pengembangan wisata yang disampaikan Mujiono membuka peluang agar potensi tersebut turut menggerakkan ekonomi warga.

Jika keduanya berjalan beriringan, Kampung Batara berpeluang menjadi contoh bagaimana aspirasi perempuan dan anak, pemberdayaan ekonomi, ketahanan pangan, serta pelestarian kearifan lokal dapat terhubung dalam pembangunan berbasis masyarakat. (fre/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Veronica Tan Kebun Pangan Perempuan kampung batara pemberdayaan perempuan wisata banyuwangi