RADAR BANYUWANGI – Perjalanan Komjen Pol. Suyudi Ario Seto menuju kursi Kapolri tidak berlangsung singkat. Lebih dari tiga dekade mengabdi di kepolisian, Suyudi melewati jalur reserse, memimpin sejumlah polres, menduduki posisi strategis di Bareskrim, menjadi Wakapolda Metro Jaya, Kapolda Banten, hingga dipercaya Presiden Prabowo Subianto memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN).
Kini, perwira lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1994 itu berada di pucuk pimpinan Polri. DPR RI menyetujui Suyudi sebagai Kapolri dalam rapat paripurna pada Kamis (1/10/2026), menggantikan Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo.
Nama Suyudi sebelumnya lebih dulu dikenal sebagai perwira yang memiliki pengalaman panjang di bidang reserse dan penegakan hukum. BNN mencatat, ia mengawali karier sebagai Kanit II Resmob Polda Metro Jaya sebelum dipercaya mengisi berbagai jabatan operasional dan pimpinan.
Dari Resmob Polda Metro Jaya
Jejak awal karier Suyudi banyak bersentuhan dengan penanganan perkara pidana.
Setelah lulus Akpol pada 1994, ia menjalani sejumlah penugasan di lingkungan Polda Metro Jaya. Ia pernah menjadi Kapolsek Metro Pasar Minggu, Kapolsek Metro Tanah Abang, dan Kapolsek Metro Penjaringan.
Kariernya kemudian berlanjut sebagai Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang Kota hingga Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat.
Pengalaman tersebut memperlihatkan jalur karier Suyudi yang cukup kuat di bidang penyidikan sebelum kemudian memasuki jenjang kepemimpinan yang lebih tinggi. BNN juga mencatat ia pernah menjabat Kanit Jatanras dan Kasubdit Ranmor Ditreskrimum.
Suyudi kemudian dipercaya memimpin sejumlah wilayah kepolisian.
Ia pernah menjabat Kapolres Majalengka, Kapolres Bogor, Kapolresta Bogor Kota, hingga Kapolres Metro Jakarta Pusat pada rentang 2014–2017.
Masuk Bareskrim, Menangani Kejahatan Ekonomi dan Siber
Pengalaman Suyudi tidak berhenti pada reserse konvensional.
Pada 2020, ia mendapat penugasan di Bareskrim Polri. Sejumlah posisi yang pernah diembannya antara lain Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Wadirtipideksus), Wakil Direktur Tindak Pidana Siber (Wadirtipidsiber), serta Penyidik Tindak Pidana Utama Tingkat II.
Dari lintasan tersebut, pengalaman Suyudi mencakup penanganan kejahatan pidana, ekonomi khusus, hingga tindak pidana di ruang siber.
Tahap berikutnya membawa Suyudi ke level pimpinan kewilayahan.
Wakapolda Metro Jaya hingga Kapolda Banten
Pada 2023, Suyudi dipercaya sebagai Wakapolda Metro Jaya.
Posisi tersebut menjadi salah satu pijakan penting sebelum ia ditunjuk sebagai Kapolda Banten. Pada Juni 2024, Polri mengumumkan promosi Suyudi dari Wakapolda Metro Jaya menjadi Kapolda Banten.
Saat memimpin Polda Banten sepanjang 2024, Suyudi mencatat pengungkapan 4.155 kasus pidana. Angka tersebut meningkat 15 persen dibandingkan 2023 yang mencapai 3.603 kasus. Sementara penyelesaian tindak pidana mencapai 3.509 kasus, naik 69 persen dari 2.081 kasus pada tahun sebelumnya.
Di antara perkara yang diungkap jajaran Polda Banten kala itu adalah kasus oli palsu, tindak pidana korupsi, penyuntikan gas, BBM bersubsidi, endorsement, hingga judi daring.
Dari Polda Banten ke Kepala BNN
Perjalanan Suyudi kemudian berbelok ke isu yang menjadi salah satu tantangan terbesar penegakan hukum: narkotika.
Presiden Prabowo Subianto melantik Suyudi sebagai Kepala BNN pada 25 Agustus 2025. Ia menggantikan Komjen Pol. Marthinus Hukom. Pengangkatan tersebut ditetapkan melalui Keppres Nomor 118/TPA Tahun 2025.
Saat menjadi Kepala BNN, Suyudi kemudian menyandang pangkat Komisaris Jenderal Polisi. Kenaikan pangkat itu dilakukan melalui Korps Raport pada 12 September 2025 yang dipimpin Kapolri Listyo Sigit Prabowo.
Tidak sampai setengah tahun kemudian, Suyudi mendapat gelar Doktor Kehormatan atau Doctor Honoris Causa bidang Ilmu Hukum dari Universitas Tarumanagara.
Gelar tersebut dianugerahkan pada 31 Januari 2026. Universitas Tarumanagara menyebut penghargaan itu berkaitan dengan kontribusi Suyudi dalam pengembangan dan penegakan hukum, khususnya kebijakan pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan serta peredaran gelap narkotika.
Operasi Dewi Astutik dan Jejak di BNN
Salah satu operasi yang menonjol selama Suyudi memimpin BNN adalah pengejaran buronan internasional Dewi Astutik alias Mami.
BNN menyebut Dewi Astutik sebagai buronan internasional dan aktor intelektual dalam jaringan penyelundupan 2 ton sabu yang digagalkan pada Mei 2025. Dewi kemudian diamankan di Sihanoukville, Kamboja, dalam operasi lintas negara pada Desember 2025.
Menurut BNN, operasi tersebut merupakan tindak lanjut perintah Kepala BNN Suyudi Ario Seto. Operasi melibatkan BNN, BAIS TNI, Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI, serta Bea dan Cukai.
Kasus tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana pengalaman Suyudi di bidang penegakan hukum kemudian bersinggungan dengan operasi pemberantasan narkotika lintas negara.
Pada 2026, Suyudi juga mendorong penguatan kebijakan BNN berbasis sains, data, dan bukti. Saat mengukuhkan Kelompok Ahli BNN periode 2026–2027, ia menyebut pendekatan tersebut diperlukan untuk menghadapi ancaman narkotika yang semakin kompleks dan bergerak cepat.
Dari Kepala BNN ke Kapolri
Setelah sekitar setahun memimpin BNN, nama Suyudi kembali menjadi sorotan ketika Presiden Prabowo mengusulkannya sebagai calon tunggal Kapolri.
Komisi III DPR kemudian menyetujui Suyudi melalui proses uji kelayakan dan kepatutan. Persetujuan itu selanjutnya dibawa ke rapat paripurna DPR.
Pada Kamis (1/10/2026), rapat paripurna DPR menyetujui pengangkatan Suyudi sebagai Kapolri menggantikan Listyo Sigit Prabowo.
Dalam uji kelayakan, Suyudi membawa gagasan “Polisi Bersama Masyarakat”. Salah satu isu yang ia soroti adalah fenomena no viral, no justice atau anggapan bahwa perkara baru mendapat perhatian ketika menjadi viral.
Suyudi menyatakan pelapor berhak mengetahui perkembangan laporan yang dapat dibuka tanpa harus mencari akses informal kepada penyidik.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari gambaran arah yang ia sampaikan dalam proses pencalonan: pelayanan kepolisian, kepastian hukum, serta hubungan yang lebih terbuka dengan masyarakat.
Pesan Pertama Setelah Disetujui DPR
Setelah mendapat persetujuan DPR, Suyudi menyampaikan pesan pertamanya sebagai Kapolri terpilih.
Ia meminta insan pers menjadi bagian dari kolaborasi untuk menghadirkan informasi kepada masyarakat secara baik dan jernih.
Suyudi juga menyatakan siap mendukung kerja pers serta meminta dukungan masyarakat Indonesia agar amanah yang diberikan kepadanya dapat dijalankan sebaik-baiknya.
Pesan tersebut menarik jika diletakkan dalam konteks perjalanan kariernya. Sebelum menjadi Kapolri, Suyudi juga pernah menyampaikan pentingnya akurasi pemberitaan ketika masih menjabat Wakapolda Metro Jaya pada 2024. Saat itu, ia mengajak media menyajikan berita secara akurat dan tidak menyebarkan informasi yang salah yang berpotensi menimbulkan konflik di masyarakat. ()
Kini, pengalaman panjang dari lapangan reserse, kepemimpinan kewilayahan, Bareskrim, Polda Banten, hingga BNN menjadi bekal Suyudi memasuki jabatan tertinggi di tubuh Polri.
Perjalanan itu sekaligus menempatkan Suyudi sebagai figur yang kariernya banyak bersentuhan dengan penegakan hukum—dari perkara kriminal di tingkat kewilayahan, kejahatan ekonomi dan siber, hingga pemberantasan narkotika lintas negara.
Dan setelah persetujuan DPR pada 1 Oktober 2026, babak baru karier Suyudi Ario Seto dimulai di pucuk kepemimpinan Polri. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Antara News, BNN