RADAR BANYUWANGI – Antrean kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, masih mengular hingga sekitar 8,5 kilometer pada Selasa (29/9). Kepadatan yang didominasi kendaraan logistik tersebut membuat PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengoptimalkan 27 kapal dengan pola perjalanan hingga delapan trip untuk mempercepat penguraian antrean dan menjaga distribusi logistik Jawa-Bali tetap berjalan.
Berdasarkan data ASDP pada Selasa pukul 06.00 WIB, ekor antrean kendaraan tercatat berada di sekitar Desa Bangsring. Waktu tunggu kendaraan mencapai sekitar 34 menit.
Baca Juga: Tol Banyuwangi Bisa Atasi Kemacetan Horor Pelabuhan Ketapang
Kondisi tersebut menunjukkan arus kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang belum sepenuhnya kembali normal. Kendaraan logistik masih menjadi kelompok yang paling banyak mengisi antrean menuju lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Direktur Utama ASDP Heru Widodo mengatakan, perusahaan terus menyesuaikan pola operasi dengan kondisi antrean di lapangan. Kapasitas angkut kapal dioptimalkan agar kendaraan yang telah mengantre dapat segera diseberangkan.
"Fokus kami saat ini adalah mempercepat penguraian antrean secara terukur, dengan mengoptimalkan seluruh kapasitas yang tersedia tanpa mengurangi aspek keselamatan," ujar Heru.
Menurut dia, antrean kendaraan dan waktu tunggu memiliki dampak langsung terhadap mobilitas masyarakat sekaligus kelancaran distribusi barang. Karena itu, kondisi arus kendaraan di kedua sisi lintasan dipantau secara berkala untuk menentukan pengaturan armada.
ASDP juga menyampaikan permohonan maaf kepada pengguna jasa atas ketidaknyamanan akibat antrean. Pengendara diminta bersabar selama proses penguraian kepadatan berlangsung.
27 Kapal Dioptimalkan
Untuk mempercepat penguraian antrean, ASDP mengoperasikan 27 kapal dengan penguatan pola perjalanan hingga delapan trip.
Armada tersebut terdiri atas 14 kapal reguler yang melayani Dermaga MB, sembilan kapal reguler melalui Dermaga LCM, serta empat kapal perbantuan yang didatangkan dari Tanjung Balai.
Empat kapal perbantuan tersebut ditempatkan di dua dermaga. Satu kapal beroperasi melalui Dermaga MB, sedangkan tiga kapal lainnya ditempatkan di Dermaga LCM.
Optimalisasi tidak hanya dilakukan melalui penambahan kapal. ASDP juga mempercepat proses sandar, bongkar muat, hingga keberangkatan kapal agar siklus pelayanan dapat berlangsung lebih cepat.
Namun, pengaturan kendaraan tetap memperhitungkan kapasitas masing-masing kapal. Jenis, dimensi, serta muatan kendaraan menjadi faktor yang harus disesuaikan demi menjaga keselamatan pelayaran.
General Manager ASDP Cabang Ketapang Media Syahrianto mengatakan, karakteristik kendaraan yang melintas menjadi salah satu pertimbangan dalam penguraian antrean. Hal tersebut terutama berlaku bagi kendaraan logistik yang memiliki ukuran dan jenis muatan beragam.
"Target kami adalah antrean terus berkurang secara signifikan dengan proses pelayanan yang tetap tertib, aman, dan terkendali," jelas Media.
Antrean Terus Dipantau
Penguraian antrean juga dilakukan melalui koordinasi antara ASDP, regulator, kepolisian, operator kapal, serta pemangku kepentingan lainnya.
Pengaturan kendaraan di kawasan pelabuhan terus dievaluasi untuk mencegah kepadatan baru, sekaligus menyesuaikan arus kendaraan dengan kapasitas layanan penyeberangan.
Meski antrean mulai menyusut, ASDP memastikan optimalisasi armada dan fasilitas tetap dilakukan sampai kondisi penyeberangan kembali stabil.
"Kami terus mengoptimalkan seluruh armada dan fasilitas yang tersedia agar antrean di Ketapang segera terurai, mobilitas masyarakat kembali lancar, dan distribusi logistik Jawa-Bali tetap terlayani dengan aman," pungkas Media.
Bagi pengguna jasa, penguraian antrean di Pelabuhan Ketapang menjadi penting bukan hanya untuk mempercepat perjalanan menuju Bali, tetapi juga menjaga kelancaran rantai distribusi barang antara Jawa dan Bali yang banyak bergantung pada lintasan penyeberangan tersebut. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin