Rute Ketapang–Celukan Bawang Dikritik, Tarif Truk Disebut Bisa Bengkak 10 Kali Lipat

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 08:00 WIB
Rute Ketapang–Celukan Bawang dikritik BHS. Tarif kapal berpotensi 10 kali lipat, pelayaran lebih lama, dan tanjakan curam jadi kendala truk logistik. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Rute Ketapang–Celukan Bawang dikritik BHS. Tarif kapal berpotensi 10 kali lipat, pelayaran lebih lama, dan tanjakan curam jadi kendala truk logistik. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Rencana membuka lintasan penyeberangan Ketapang–Celukan Bawang sebagai jalur alternatif pengurai kemacetan Selat Bali menuai kritik. Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) menilai rute yang menghubungkan Banyuwangi dengan pesisir utara Bali tersebut berpotensi membebani pengusaha angkutan barang. Tarif penyeberangan yang disebut bisa melonjak hingga 10 kali lipat, waktu pelayaran lebih lama, serta medan jalan menanjak di Buleleng menjadi tiga persoalan utama yang dinilai dapat menghambat pemanfaatannya.

Alih-alih menjadi solusi kemacetan, lintasan baru itu dikhawatirkan justru menambah beban operasional perusahaan logistik. Terlebih, efisiensi biaya dan waktu merupakan pertimbangan penting bagi pelaku usaha angkutan barang dalam menentukan jalur distribusi.

Bambang menegaskan, terdapat tiga kendala mendasar yang perlu diperhitungkan sebelum rute Ketapang–Celukan Bawang dioperasikan sebagai alternatif penyeberangan kendaraan logistik.

Persoalan pertama adalah tarif tiket kapal. Jarak pelayaran Ketapang–Celukan Bawang yang jauh lebih panjang dibandingkan lintasan Ketapang–Gilimanuk dinilai berpotensi mendongkrak biaya penyeberangan secara signifikan.

Menurut Bambang, selisih biaya tersebut dapat menjadi pertimbangan utama bagi pengusaha truk untuk tetap menggunakan jalur konvensional.

"Pengguna jasa akan dibebani tarif hingga 10 kali lipat dari harga normal Ketapang–Gilimanuk. Kedua, waktu tempuh pelayarannya jauh lebih lambat. Otomatis dua hal ini menjadi pertimbangan mati bagi para sopir," ujar Bambang.

Tanjakan Celukan Bawang Jadi Sorotan

Selain tarif dan durasi pelayaran, persoalan lain yang disoroti adalah kondisi infrastruktur jalan setelah kapal bersandar di Dermaga Celukan Bawang, Kabupaten Buleleng, Bali.

Alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tersebut menyebut jalur darat di kawasan itu memiliki kontur menanjak dan turunan curam yang berpotensi menyulitkan kendaraan bermuatan berat.

Kondisi geografis tersebut, menurut dia, menjadi perhatian sejumlah asosiasi pemilik truk. Mereka mengkhawatirkan kemampuan mesin kendaraan untuk melintasi tanjakan dengan muatan penuh, sekaligus mempertimbangkan aspek keselamatan selama perjalanan.

Hambatan itu dinilai dapat mengurangi daya tarik lintasan alternatif, terutama bagi armada logistik yang harus menjaga ketepatan waktu pengiriman dan efisiensi operasional.

Bambang juga menyoroti akses dari Celukan Bawang menuju sejumlah kota tujuan utama di Bali. Rute darat yang harus ditempuh dinilai berpotensi membuat kendaraan memutar lebih jauh, sehingga waktu dan biaya perjalanan bertambah.

"Aksesnya terlalu jauh dan biayanya terlampau tinggi. Rute alternatif ini murni tidak efektif untuk dibuka sebagai solusi macet," tandasnya.

Efektivitas Rute Jadi Pekerjaan Rumah

Kritik terhadap rencana lintasan Ketapang–Celukan Bawang tersebut menempatkan aspek efisiensi sebagai salah satu pekerjaan rumah dalam pengembangan jalur alternatif penyeberangan Selat Bali.

Bagi pelaku usaha logistik, keberadaan rute baru tidak hanya diukur dari kemampuannya mengalihkan arus kendaraan dari Ketapang–Gilimanuk. Perhitungan biaya penyeberangan, durasi pelayaran, kondisi jalan lanjutan, hingga keselamatan kendaraan bermuatan berat juga menjadi faktor penentu.

Pandangan Bambang tersebut menjadi catatan bagi pihak terkait untuk memperhitungkan kebutuhan pengguna jasa sebelum menjadikan lintasan Ketapang–Celukan Bawang sebagai solusi kemacetan dan distribusi logistik antara Jawa dan Bali. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Bambang Haryo Soekartono Ketapang Celukan Bawang Rute alternatif Selat Bali Tarif truk logistik Kemacetan Selat Bali