Kereta Trans Kalimantan 2.772 Km Dilirik China-Rusia, Begini Rute dan Dananya

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 12:30 WIB
Ilustrasi tabel proyek pembangunan kereta api lingkar Kalimantan.(AI - Kaltim Post)
Ilustrasi tabel proyek pembangunan kereta api lingkar Kalimantan.(AI - Kaltim Post)

RADAR BANYUWANGI – Proyek Kereta Trans Kalimantan memasuki babak baru. Pemerintah Indonesia tengah mematangkan rencana pembangunan jaringan rel sepanjang 2.772 kilometer sekaligus menjajaki investor asing, termasuk dari China dan Rusia, untuk membangun jaringan kereta yang diproyeksikan menjadi tulang punggung logistik dan konektivitas Pulau Kalimantan.

Namun, proyek ini belum masuk tahap pembangunan fisik. Pemerintah masih menghitung kebutuhan, menyempurnakan rencana jaringan, serta menilai skema investasi yang paling memungkinkan. Belum ada jadwal konstruksi maupun seluruh rute yang ditetapkan secara final. 

Rencana tersebut kembali mengemuka setelah Presiden Prabowo Subianto meminta Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) menggarap pengembangan jaringan kereta Trans-Sumatra dan Trans-Kalimantan. Instruksi itu disampaikan saat peresmian revitalisasi Stasiun Semarang Tawang pada Juli 2026. 

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi kemudian menyatakan pemerintah telah berkomunikasi dengan calon investor, termasuk China dan Rusia. Investor masih melakukan perhitungan sebelum menyampaikan proposal kepada pemerintah.

Rel 2.772 Kilometer Masih Dimatangkan

Rencana jaringan kereta sepanjang 2.772 kilometer tersebut merupakan bagian dari pengembangan jaringan perkeretaapian nasional hingga 2045.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan pemerintah masih melakukan perhitungan dan perencanaan secara matang.

Pemerintah juga menyiapkan komite lintas kementerian dan lembaga untuk menyempurnakan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional atau Ripnas agar rencana jaringan di Kalimantan sesuai dengan kebutuhan pembangunan wilayah. 

Skala proyek ini terbilang besar karena hingga saat ini Kalimantan belum memiliki jaringan kereta api operasional. Pemerintah melihat moda rel dapat membuka konektivitas antardaerah sekaligus meningkatkan efisiensi pengangkutan komoditas dalam jumlah besar. 

Dari Kalbar hingga Kaltara

Dalam sejumlah rencana yang beredar, jaringan Trans Kalimantan diarahkan menghubungkan kawasan di sisi barat hingga utara pulau.

Sejumlah titik yang disebut dalam rencana pengembangan antara lain Singkawang di Kalimantan Barat hingga Tanjung Selor di Kalimantan Utara. Namun, pemerintah masih mematangkan rute sehingga jalur tersebut belum dapat dianggap sebagai trase final proyek.

Dokumen informasi Kementerian Perhubungan juga sebelumnya telah memuat sejumlah koridor rencana jaringan Trans Kalimantan. Di antaranya koridor Bandara Supadio–Pontianak–Mempawah–Singkawang–Sambas–perbatasan negara, Pontianak–Tayan–Sanggau, hingga sejumlah jalur di Kalimantan Tengah dan Selatan. 

Kawasan Kalimantan Timur juga menjadi bagian penting dalam pembahasan karena jaringan kereta nantinya diharapkan mendukung konektivitas kawasan Ibu Kota Nusantara atau IKN.

Dengan demikian, konsep Trans Kalimantan tidak semata ditujukan untuk mengangkut penumpang. Fungsi logistik menjadi salah satu alasan utama pemerintah mendorong pengembangan jaringan tersebut.

Angkut Tambang hingga Hasil Perkebunan

Kalimantan dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil komoditas sumber daya alam. Karena itu, kereta api diproyeksikan menjadi moda alternatif untuk mengangkut komoditas dalam jumlah besar.

Hasil pertambangan, perkebunan, hingga produk industri dapat dihubungkan dengan pusat produksi, kawasan industri, dan pelabuhan.

Pemerintah menilai jaringan rel dapat meningkatkan efisiensi distribusi sekaligus mendukung hilirisasi komoditas.

Artinya, fungsi Trans Kalimantan nantinya tidak hanya berkaitan dengan mobilitas masyarakat. Infrastruktur ini juga diarahkan untuk memperkuat rantai pasok dan konektivitas ekonomi antardaerah.

China dan Rusia Mulai Dilirik

Besarnya kebutuhan investasi membuat pemerintah membuka peluang keterlibatan investor dalam dan luar negeri.

Menhub Dudy Purwagandhi menyebut China dan Rusia sebagai dua negara yang sedang dijajaki untuk pembangunan jaringan rel Trans Kalimantan.

Komunikasi dengan calon investor sudah dilakukan. Namun, belum ada kesepakatan investasi. Investor masih menghitung kelayakan proyek sebelum mengajukan proposal resmi kepada pemerintah. 

Karena itu, angka kebutuhan investasi yang beredar di ruang publik perlu dibedakan dengan nilai investasi yang sudah disepakati. Sampai tahap ini, pemerintah belum mengumumkan nilai kontrak pembangunan Trans Kalimantan maupun kesepakatan pendanaan dengan China atau Rusia.

Tantangan Bukan Sekadar Membangun Rel

Membangun jaringan sepanjang 2.772 kilometer tentu bukan pekerjaan sederhana. Selain panjang trase, kondisi geografis Kalimantan juga menjadi faktor penting dalam menentukan desain dan biaya konstruksi.

Pemerintah masih harus menyelesaikan berbagai kajian mengenai trase, kelayakan ekonomi, kebutuhan lahan, teknologi konstruksi, serta skema pembiayaan.

Karena proyek masih dalam tahap perencanaan, belum bisa dipastikan kapan seluruh jaringan akan mulai dibangun dan kapan target penyelesaiannya.

Yang sudah jelas, pemerintah kini memasukkan pengembangan kereta Trans Kalimantan dalam agenda konektivitas jangka panjang. PT KAI dan Kementerian Perhubungan telah diminta menyiapkan langkah pengembangan, sementara peluang investasi asing mulai dijajaki.

Jika terealisasi sesuai rencana, jaringan sepanjang 2.772 kilometer itu akan membuka babak baru transportasi Kalimantan: bukan hanya membawa penumpang, tetapi juga menjadi jalur distribusi komoditas dan penghubung pusat-pusat ekonomi dari berbagai penjuru pulau. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Pontianak Post, Kaltim Post
Kereta Trans Kalimantan kereta Kalimantan rel 2772 km China Rusia kereta IKN