RADAR BANYUWANGI – Nama Gus Lilur belakangan semakin mencuri perhatian bukan hanya karena kiprahnya sebagai pengusaha, tetapi juga lantaran pandangannya mengenai NU, persoalan masyarakat kecil hingga isu kebangsaan. Berlatar pesantren, sosok asal Situbondo, Jawa Timur, itu menjalani aktivitas di sejumlah bidang, mulai dari bisnis, sosial, kepenulisan hingga menyuarakan berbagai persoalan publik.
Gus Lilur diketahui memiliki nama lengkap HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy. Ia merupakan alumni Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.
Latar belakang sebagai santri menjadi bagian yang melekat dalam perjalanan Gus Lilur. Identitas tersebut dibawanya ketika menjalankan aktivitas bisnis maupun kegiatan sosial.
Di dunia usaha, kiprahnya disebut lintas sektor. Sejumlah bidang yang dikaitkan dengan aktivitas bisnisnya antara lain pertambangan, pertanian, pangan, tembakau dan rokok, hingga perikanan.
Namun, aktivitas Gus Lilur tidak berhenti di dunia usaha. Ia juga dikenal melalui kegiatan sosial serta berbagai gagasan yang disampaikan terkait persoalan ekonomi, hukum, keumatan dan kebangsaan.
Dari Bisnis hingga Budidaya Laut
Salah satu sektor yang belakangan mendapat perhatian adalah perikanan.
Melalui kelompok usaha yang disebut Balad Group, Gus Lilur mendorong pengembangan budidaya dan bisnis perikanan dengan orientasi pasar yang lebih luas. Upaya tersebut juga diarahkan untuk membuka peluang kerja sama dengan mitra dari luar negeri.
Perhatian terhadap sektor pangan juga menjadi bagian dari aktivitasnya.
Gus Lilur melihat pangan, khususnya beras, bukan semata sebagai komoditas perdagangan. Menurut pandangannya, sektor tersebut memiliki kaitan erat dengan kedaulatan pangan Indonesia.
Gagasan mengenai pangan dan pertanian kemudian bersinggungan dengan perhatiannya terhadap masyarakat yang berada di sektor produksi.
Petani tembakau, tata niaga hasil pertanian, industri rokok hingga kebijakan yang berkaitan dengan komoditas tersebut menjadi sejumlah isu yang pernah disorotnya.
Membawa Filosofi Dabatuka
Aktivitas bisnis Gus Lilur juga berjalan beriringan dengan kegiatan sosial.
Ia dikenal membawa filosofi Dabatuka, kependekan dari "Demi Allah Bumi Aku Taklukan untuk Kemanusiaan".
Filosofi tersebut antara lain diwujudkan melalui kegiatan sosial dan sedekah. Gus Lilur diketahui aktif melalui Netra Bakti Indonesia (NBI), termasuk dalam kegiatan berbagi yang dilakukan secara rutin.
Kegiatan sosial tersebut menjadi bagian lain dari sosok Gus Lilur yang tidak hanya terlihat melalui aktivitas bisnis.
Perhatiannya terhadap masyarakat kecil juga muncul dalam sejumlah isu yang disampaikannya. Salah satunya mengenai posisi petani tembakau.
Gus Lilur menilai besarnya nilai ekonomi industri tembakau semestinya turut memberikan dampak terhadap kesejahteraan petani. Persoalan tata niaga dan posisi petani menjadi bagian dari isu yang mendapat perhatiannya.
Soroti Rokok Ilegal dan Kebijakan Cukai
Isu rokok ilegal dan kebijakan cukai juga menjadi perhatian Gus Lilur.
Dalam pandangannya, persoalan tersebut tidak semata-mata diselesaikan melalui penindakan. Ia mendorong adanya pendekatan yang juga membuka jalan bagi pelaku usaha untuk masuk ke industri yang legal.
Pandangan tersebut memperlihatkan spektrum isu yang dibawa Gus Lilur. Tidak hanya berkutat pada sektor bisnis yang digelutinya, tetapi juga menyentuh persoalan ekonomi masyarakat dan kebijakan publik.
Aktivitasnya kemudian semakin bersinggungan dengan isu kebangsaan dan keumatan.
Pandangan tentang NU hingga Isu Kebangsaan
Nama Gus Lilur belakangan juga muncul dalam pembicaraan mengenai Nahdlatul Ulama (NU).
Pada momentum Muktamar NU 2026, misalnya, ia menyampaikan pandangan mengenai pentingnya forum tersebut menjadi momentum memperkuat kembali kepercayaan publik serta mengembalikan NU sebagai kekuatan moral di tengah masyarakat.
Selain NU, Gus Lilur juga beberapa kali menyampaikan pandangan mengenai penegakan hukum, pemberantasan korupsi dan tata kelola sumber daya alam.
Rangkaian aktivitas tersebut membuat sosoknya berada di persimpangan antara dunia usaha, kegiatan sosial dan isu kebangsaan.
Ia juga dikenal sebagai penulis. Salah satu buku yang dikaitkan dengan namanya adalah Prabowo untuk Indonesia Raya.
Tetap Membawa Identitas Santri
Di tengah aktivitasnya sebagai pengusaha, Gus Lilur tetap membawa identitas sebagai santri.
Gaya komunikasi dan penampilannya yang sederhana menjadi salah satu ciri yang melekat pada sosok tersebut. Latar belakang pesantren juga menjadi bagian dari cara ia menempatkan berbagai aktivitas sosial dan gagasannya.
Meski demikian, sejumlah informasi mengenai profil pribadi Gus Lilur belum banyak tersedia secara independen di ruang publik.
Detail seperti tanggal lahir, silsilah keluarga, struktur kepemilikan perusahaan serta nilai kekayaan perlu dikonfirmasi melalui sumber primer sebelum diposisikan sebagai fakta.
Yang terlihat dari rekam aktivitas yang tersedia, Gus Lilur merupakan figur asal Situbondo dengan latar belakang pesantren yang menjalani aktivitas lintas bidang.
Dunia usaha menjadi salah satu jalurnya. Aktivitas sosial menjadi bagian lainnya. Sementara pandangannya mengenai NU, petani, pangan, hukum, sumber daya alam dan berbagai isu kebangsaan membuat namanya semakin sering muncul di ruang publik.
Gus Lilur pun kini tidak hanya dikenal sebagai pengusaha asal Situbondo, tetapi sebagai figur berlatar santri yang membawa aktivitas bisnis, sosial dan gagasan kebangsaan dalam satu perjalanan. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Radar Tuban