Potensi Gempa M9,2, BMKG Ungkap Langkah Penting Hadapi Megathrust

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 16:00 WIB
Geografis Indonesia ditakdirkan menjadi lokasi bencana megathrust dan tsunami terbesar di bumi.
Geografis Indonesia diprediksi menjadi lokasi bencana megathrust dan tsunami terbesar di bumi.

RADAR BANYUWANGI – Indonesia memiliki 14 segmentasi sumber gempa zona megathrust dengan potensi magnitudo maksimum M7,8 hingga M9,2 berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024. Namun, keberadaan zona tersebut bukan berarti gempa besar akan segera terjadi. Waktu terjadinya gempa hingga kini belum dapat diprediksi, sehingga kesiapsiagaan dan mitigasi menjadi langkah yang perlu dilakukan sejak sebelum bencana terjadi.

Indonesia berada di kawasan tektonik aktif. Sejumlah lempeng bumi saling berinteraksi dan membentuk zona subduksi yang dapat menjadi sumber gempa kuat.

Di kawasan subduksi inilah istilah megathrust digunakan. Megathrust merupakan sumber gempa pada zona pertemuan lempeng, ketika satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya.

Berdasarkan data Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024, Indonesia memiliki 14 segmentasi sumber gempa zona megathrust. Potensi magnitudo maksimum pada segmentasi tersebut berada pada rentang M7,8 hingga M9,2.

Besarnya angka tersebut membuat megathrust kerap menjadi perhatian. Namun, informasi mengenai potensi magnitudo tidak boleh disalahartikan sebagai prediksi waktu terjadinya gempa.

Potensi bukan berarti prediksi.

Belum ada metode yang dapat memastikan kapan, di mana tepatnya, dan seberapa besar gempa akan terjadi. Karena itu, informasi mengenai megathrust lebih penting dipahami sebagai dasar untuk memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan.

Kenali Risiko Sebelum Gempa Terjadi

Mitigasi bencana tidak harus menunggu gempa terjadi. Masyarakat dapat memulainya dari lingkungan rumah dan komunitas.

Langkah pertama adalah mengenali potensi gempa dan tsunami di wilayah tempat tinggal. Informasi mengenai ancaman bencana perlu diketahui agar masyarakat tidak kebingungan ketika terjadi keadaan darurat.

Berikutnya, masyarakat dianjurkan menyiapkan Tas Siaga Bencana. Tas tersebut dapat berisi kebutuhan penting yang diperlukan ketika harus meninggalkan rumah atau menghadapi kondisi darurat.

Jalur dan titik evakuasi juga perlu diketahui. Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan tsunami, memahami rute menuju tempat yang lebih aman menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan.

Latihan evakuasi bersama keluarga dan komunitas juga diperlukan. Dengan latihan, setiap anggota keluarga dapat mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.

Kesiapsiagaan juga berkaitan dengan kondisi bangunan. Struktur rumah dan bangunan perlu memperhatikan prinsip bangunan tahan gempa untuk mengurangi risiko korban dan kerusakan ketika guncangan terjadi.

Jangan Sebarkan Informasi yang Belum Terverifikasi

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap megathrust, informasi mengenai gempa juga mudah menyebar melalui media sosial.

Masyarakat perlu berhati-hati terhadap pesan berantai atau unggahan yang mengklaim gempa besar akan terjadi pada tanggal atau waktu tertentu. Informasi semacam itu perlu diverifikasi melalui sumber resmi sebelum dipercaya maupun disebarluaskan.

BMKG terus memperkuat mitigasi melalui jaringan seismograf, sistem informasi gempa bumi, sistem peringatan dini tsunami, serta edukasi dan literasi kebencanaan kepada masyarakat.

Tujuannya bukan membuat masyarakat takut terhadap megathrust, melainkan memahami risiko dan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana benar-benar terjadi.

Megathrust bukan untuk ditakuti, tetapi dipahami dan diantisipasi.

Gempa bumi belum dapat diprediksi kapan terjadinya. Karena itu, langkah paling penting bukan menunggu tanda-tanda gempa, melainkan memastikan kesiapsiagaan sudah dimulai sebelum guncangan terjadi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Instagram @infobmkg, @kedeputian. @geofisika.bmkg, @tegurahayu_bmkg_dst, dan @dst_bmkg
mitigasi gempa megathrust Indonesia Tas siaga gempa bumi bmkg