Ahli Jepang Peringatkan Megathrust Indonesia, Ada Potensi Mencapai M9,2

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 15:00 WIB
Peta potensi gempa Megathrust di sejumlah wilayah di Indonesia.
Peta potensi gempa Megathrust di sejumlah wilayah di Indonesia. (BMKG)

RADAR BANYUWANGI – Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 mencatat 14 zona megathrust di Indonesia, bertambah dibandingkan peta 2017. Kondisi ini kembali menyoroti pentingnya kesiapsiagaan, terutama karena sejumlah zona subduksi memiliki potensi gempa sangat besar, sementara waktu terjadinya gempa tidak dapat dipastikan secara akurat.

Perhatian terhadap potensi gempa besar Indonesia juga datang dari ahli Jepang. Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University melihat sejumlah karakteristik geologi Indonesia memiliki kemiripan dengan Nankai Trough, salah satu kawasan megathrust aktif di Jepang.

Heki menyampaikan pandangannya ketika menjadi Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada akhir Desember 2025.

Menurut Heki, pengalaman Jepang menunjukkan bahwa interval terjadinya gempa besar tidak dapat dijadikan patokan untuk memastikan kapan gempa berikutnya akan terjadi.

"Kami memahami bahwa gempa bermagnitudo 8 di Jepang terjadi dalam interval sekitar 50 hingga 100 tahun. Ini merupakan pandangan klasik kami sebelum terjadinya gempa besar," ujar Heki.

GNSS dan Dasar Laut untuk Membaca Tegangan

Alih-alih berfokus pada waktu pasti terjadinya gempa, Heki menekankan pentingnya pemantauan deformasi kerak bumi dalam jangka panjang.

Teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS) serta pengukuran geodesi dasar laut dapat digunakan untuk memantau perubahan kerak bumi dan membantu memahami akumulasi tegangan di kawasan subduksi.

Heki menjelaskan, terdapat bagian-bagian zona subduksi yang mengalami penguncian antarlempeng. Kondisi tersebut memungkinkan regangan terus terakumulasi.

"Kami melihat adanya kopling antar seismik yang saling mengunci hampir di sepanjang sumbu palung. Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya," jelasnya.

Selain itu, Heki menyoroti slow slip event, yakni pergeseran atau pelepasan tegangan secara perlahan di sepanjang bidang patahan.

Fenomena tersebut telah beberapa kali diamati di Nankai Trough dan kawasan lain di Jepang. Menurut Heki, aktivitas slow slip perlu terus dipantau karena dapat memberikan informasi penting mengenai dinamika zona subduksi.

"Fenomena ini telah diamati berulang kali di Nankai Trough dan wilayah lain di Jepang. Salah satu peristiwa pergeseran lambat ini bisa saja memicu gempa besar berikutnya," katanya.

Indonesia Punya Banyak Zona Subduksi Aktif

Heki menilai Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan sistem pemantauan serupa. Alasannya, Indonesia memiliki banyak zona subduksi aktif yang membentang dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok hingga Maluku.

Penguatan jaringan GNSS dan teknologi pemantauan dasar laut dapat membantu ilmuwan memperoleh gambaran lebih detail mengenai perubahan dan akumulasi tegangan tektonik.

"Saat ini saya sedang mengerjakan masalah ini di Indonesia," ujar Heki.

Pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 sendiri menunjukkan sejumlah zona megathrust dengan potensi magnitudo maksimum yang sangat besar.

Megathrust Aceh-Andaman tercatat memiliki potensi magnitudo maksimum hingga 9,2. Sementara Megathrust Jawa memiliki potensi hingga M9,1.

Zona Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, dan Enggano masing-masing tercatat memiliki potensi gempa hingga M8,9.

Angka tersebut merupakan potensi magnitudo maksimum dalam pemodelan sumber gempa, bukan prediksi bahwa gempa dengan magnitudo tersebut akan terjadi dalam waktu tertentu.

Seismic Gap Bukan Ramalan Gempa Segera

Perhatian khusus juga tertuju pada Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. BMKG sebelumnya menyebut kedua wilayah tersebut masih berada dalam kondisi seismic gap, karena telah lama tidak mengalami gempa besar.

Gempa besar terakhir yang menjadi rujukan tercatat terjadi pada 1757 untuk kawasan Selat Sunda dan 1797 untuk Mentawai-Siberut.

Namun, BMKG menegaskan bahwa istilah "menunggu waktu" tidak boleh dimaknai sebagai ramalan bahwa gempa akan segera terjadi.

Menurut BMKG, istilah tersebut merujuk pada energi tektonik yang masih tersimpan karena suatu segmen belum mengalami pelepasan energi melalui gempa besar dalam waktu yang panjang.

Dengan demikian, keberadaan 14 zona megathrust dan status seismic gap pada sejumlah wilayah bukan penentu waktu terjadinya gempa. Informasi tersebut lebih tepat digunakan sebagai dasar untuk memperkuat mitigasi, pemantauan, tata ruang, edukasi masyarakat, serta kesiapsiagaan menghadapi gempa dan tsunami. (*)

Editor : Ali Sodiqin
megathrust Indonesia Gempa besar Nankai Trough peta gempa bmkg