Macet Ketapang Terus Mengular, BHS Desak Dermaga LCM Gilimanuk Diperluas

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 06:15 WIB
Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) memantau aktivitas sirkulasi bongkar muat armada truk di Dermaga Pelabuhan ASDP Ketapang, Kalipuro, Senin (28/9). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) memantau aktivitas sirkulasi bongkar muat armada truk di Dermaga Pelabuhan ASDP Ketapang, Kalipuro, Senin (28/9). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Kemacetan truk logistik di jalur Ketapang–Gilimanuk didorong untuk segera ditangani melalui dua langkah: memangkas waktu bongkar muat kapal dari 35 menit menjadi maksimal 15 menit dan memperluas kapasitas Dermaga Landing Craft Machine (LCM) Gilimanuk. Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) menargetkan langkah tersebut berjalan dalam waktu satu bulan untuk meningkatkan kapasitas penyeberangan Jawa-Bali.

Target itu disampaikan BHS setelah melakukan inspeksi langsung di kawasan Pelabuhan ASDP Ketapang, Banyuwangi, Senin (28/9). Dia menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan penyeberangan Selat Bali, mulai dari KSOP, ASDP, BPTD, asosiasi angkutan truk, hingga perwakilan pengusaha pelayaran.

Menurut BHS, persoalan utama yang membuat antrean kendaraan terus mengular bukan semata jumlah kapal. Dia menilai keterbatasan kapasitas dermaga menjadi salah satu titik sumbat atau bottleneck dalam operasional penyeberangan.

56 Kapal, Hanya 28 Bisa Beroperasi

BHS menyebut terdapat 56 kapal yang siap mendukung penyeberangan. Namun, keterbatasan kapasitas dermaga membuat maksimal sekitar 28 kapal dapat beroperasi setiap hari.

Kondisi tersebut dinilai membuat kemampuan angkut tidak sebanding dengan volume kendaraan yang hendak menyeberang.

"Masalahnya murni kekurangan dermaga, bukan kapalnya. Sebagai solusi jangka pendek, kami mendorong efisiensi waktu pelayanan di atas kapal. Durasi bongkar muat kendaraan yang saat ini memakan waktu 35 menit wajib dipangkas ketat menjadi maksimal 15 menit saja. Langkah ini otomatis mendongkrak kapasitas angkut lintas sektor hingga 30 persen," tegas BHS, Senin (28/9).

Pemangkasan waktu pelayanan menjadi salah satu langkah yang dinilai dapat dilakukan lebih cepat karena tidak bergantung sepenuhnya pada pembangunan infrastruktur baru.

Jika waktu kapal berada di dermaga dapat ditekan, frekuensi perjalanan diharapkan meningkat sehingga kendaraan yang dapat dilayani dalam satu hari ikut bertambah.

Dermaga LCM Gilimanuk Diminta Diperluas

Selain efisiensi waktu bongkar muat, BHS mendorong percepatan perluasan Dermaga LCM di Pelabuhan Gilimanuk.

Dia menyoroti penurunan trip kapal harian yang disebut mencapai sekitar 20 persen. Kondisi tersebut dinilai semakin mempersempit kapasitas layanan penyeberangan ketika antrean kendaraan sedang tinggi.

Dalam skema yang didorong BHS, kapasitas Dermaga LCM Gilimanuk perlu ditingkatkan agar dapat melayani lima kapal secara paralel. Saat ini, dermaga tersebut disebut hanya mampu menampung tiga kapal.

"Proyek perluasan dermaga LCM ini sangat krusial untuk mengurai antrean di kedua sisi selat, dan eksekusinya tidak boleh lebih dari satu bulan. Jika efisiensi waktu bongkar muat dan perluasan dermaga berjalan simultan, bulan depan daya angkut penyeberangan kita akan melonjak hingga 50 persen," tandasnya.

Solusi Dikebut, Antrean Jadi Ukuran

BHS menilai penanganan kemacetan Ketapang-Gilimanuk membutuhkan kombinasi antara optimalisasi fasilitas yang sudah ada dan penambahan kapasitas dermaga.

Pemangkasan port time ditujukan untuk mempercepat siklus kapal, sementara perluasan Dermaga LCM diarahkan untuk menambah jumlah kapal yang dapat dilayani secara bersamaan.

Dua langkah tersebut kini menjadi bagian dari usulan yang disampaikan dalam koordinasi lintas instansi di Pelabuhan Ketapang.

Jika target satu bulan tersebut dapat direalisasikan, ukuran keberhasilannya akan terlihat langsung dari pergerakan antrean kendaraan di kedua sisi Selat Bali. Semakin cepat kapal bongkar muat dan semakin banyak kapal dapat dilayani, semakin besar pula kapasitas penyeberangan yang tersedia bagi armada logistik. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
macet Ketapang BHS Banyuwangi antrean truk Dermaga LCM ketapang gilimanuk