Aceh hingga Filipina, 14 Segmen Megathrust Ini Masuk Peta Gempa Terbaru

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 21:00 WIB
Peta gempa megathrust yang dirilis BMKG bikin geger.
Peta gempa megathrust yang dirilis BMKG bikin geger.

RADAR BANYUWANGI – Ada 14 segmen megathrust yang tercantum dalam pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024. Segmen-segmen tersebut membentang dari kawasan barat Sumatera, selatan Jawa, hingga wilayah Indonesia timur dan Filipina, dengan nilai magnitudo maksimum (maximum magnitude/Mmax) dalam pemodelan mencapai 9,2. Namun, angka tersebut bukan prediksi bahwa gempa sebesar itu akan terjadi, apalagi penanda kapan gempa bakal berlangsung.

Informasi mengenai megathrust kembali menjadi perhatian setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan karakter tektonik Indonesia yang aktif. Dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), terdapat 11 segmen megathrust di Indonesia dan tiga segmen di Filipina.

Peta tersebut merupakan pemutakhiran dari peta gempa 2017. Pemutakhiran mencakup jalur dan geometri sesar, segmentasi, sumber gempa baru, skenario rupture, perhitungan Mmax, laju gerak, hingga pemodelan bahaya gempa. Secara keseluruhan, peta 2024 memuat 402 sumber gempa. 

Apa Itu Megathrust?

Megathrust merupakan sumber gempa yang berada di zona subduksi, tempat dua lempeng tektonik bertemu dan salah satunya menunjam ke bawah lempeng lainnya.

Pada kondisi tertentu, bidang kontak antarlempeng dapat terkunci. Pergerakan lempeng yang terus berlangsung kemudian dapat menyebabkan energi terakumulasi. Ketika energi tersebut dilepaskan, dapat terjadi gempa dengan kekuatan besar.

BMKG menegaskan bahwa keberadaan zona megathrust merupakan bagian dari kondisi tektonik Indonesia yang perlu diperhitungkan dalam mitigasi bencana. BMKG juga pernah menegaskan bahwa pembahasan mengenai zona megathrust bukan berarti peringatan dini bahwa gempa besar akan segera terjadi. 

Dengan kata lain, peta sumber gempa menunjukkan potensi dan karakter sumber gempa, bukan kalender terjadinya gempa.

14 Segmen Megathrust dan Nilai Mmax

Dalam materi yang merujuk pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, segmen yang dicantumkan meliputi:

  1. Aceh-Andaman – Mmax 9,2

  2. Nias-Simeulue – Mmax 8,7

  3. Batu – Mmax 7,8

  4. Mentawai-Siberut – Mmax 8,9

  5. Mentawai-Pagai – Mmax 8,9

  6. Enggano – Mmax 8,9

  7. Jawa – Mmax 9,1

  8. Jawa bagian barat – Mmax 8,9

  9. Jawa bagian timur – Mmax 8,9

  10. Sumba – Mmax 8,9

  11. Sulawesi Utara – Mmax 8,5

  12. Palung Cotabato – Mmax 8,3

  13. Filipina Selatan – Mmax 8,2

  14. Filipina Tengah – Mmax 8,1

Perlu dicatat, nomenklatur dan segmentasi pada peta 2024 merupakan hasil pemutakhiran ilmiah. Dokumen resmi Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 menyebut terdapat 11 segmen megathrust di Indonesia dan tiga segmen di Filipina.

Mengapa Angka Mmax Tidak Boleh Dibaca sebagai Prediksi?

Mmax adalah nilai magnitudo maksimum yang diperhitungkan dalam pemodelan karakteristik suatu sumber gempa. Angka tersebut digunakan dalam kajian bahaya gempa dan berbagai kebutuhan mitigasi, termasuk perencanaan infrastruktur.

Karena itu, ketika sebuah segmen memiliki Mmax 9,1, bukan berarti gempa M 9,1 pasti akan terjadi di segmen tersebut.

Peta gempa justru digunakan untuk memahami sumber bahaya dan memperhitungkannya dalam pembangunan serta kesiapsiagaan. PuSGeN menjelaskan bahwa pemutakhiran 2024 mencakup perhitungan magnitudo potensial, segmentasi sumber, hingga pemodelan bahaya gempa. 

Bagaimana dengan Megathrust Jawa?

Jawa termasuk wilayah yang berada di zona subduksi aktif. BMKG sebelumnya menjelaskan bahwa zona tumbukan lempeng di selatan Jawa merupakan bagian dari zona megathrust. Pergerakan lempeng di kawasan tersebut menjadi salah satu sumber gempa yang diperhitungkan dalam kajian kegempaan Indonesia. (BMKG)

Dalam daftar yang beredar berdasarkan pemodelan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, segmen Jawa dicantumkan dengan Mmax hingga 9,1. Angka tersebut kembali perlu dipahami sebagai parameter pemodelan sumber gempa, bukan kepastian besaran gempa yang akan terjadi.

BMKG juga pernah menegaskan bahwa pembahasan mengenai megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut tidak boleh dipahami sebagai peringatan dini bahwa gempa besar akan segera terjadi. Potensi tersebut merupakan bagian dari kondisi tektonik yang perlu diantisipasi melalui kesiapsiagaan.

Yang Perlu Dilakukan Masyarakat

Keberadaan zona megathrust pada akhirnya berkaitan erat dengan mitigasi. Masyarakat tidak dapat mengetahui kapan gempa tektonik akan terjadi secara pasti, sehingga kesiapsiagaan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko.

BMKG terus mendorong edukasi mengenai gempa dan tsunami, termasuk pemahaman jalur evakuasi, kesiapan keluarga, serta respons ketika guncangan terjadi. Sistem peringatan dini juga menjadi bagian penting dari upaya pengurangan risiko bencana. 

Jadi, 14 segmen megathrust dalam peta 2024 bukan berarti ada 14 gempa besar yang sedang menunggu waktu untuk terjadi. Data tersebut merupakan hasil kajian sumber gempa dan parameter bahaya yang digunakan untuk memahami risiko kegempaan Indonesia dan kawasan sekitarnya.

Yang menjadi pesan penting dari peta tersebut bukan kapan gempa akan terjadi, melainkan bagaimana masyarakat, pemerintah, dan sektor pembangunan menggunakan informasi ilmiah tersebut untuk memperkuat mitigasi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : PU.go.id, BMKG
megathrust Indonesia Zona megathrust peta gempa gempa bumi bmkg