RADAR BANYUWANGI – Kemacetan horor yang berulang di Pelabuhan ASDP Ketapang akhirnya meledak menjadi aksi mogok massal. Ratusan sopir armada logistik secara spontan memblokade akses keluar-masuk pelabuhan dengan memarkir puluhan truk jumbo di depan gerbang utama, Sabtu (26/9) mulai pukul 13.00 WIB hingga malam.
Aksi tersebut membuat aktivitas penyeberangan Jawa–Bali lumpuh. Antrean kendaraan mengular hingga mengunci jalur arteri utama Banyuwangi Utara. Sementara itu, penumpang pejalan kaki ikut terdampak setelah proses bongkar muat kapal tertunda akibat blokade.
Ledakan kekecewaan para sopir bukan tanpa sebab. Mereka menyebut kemacetan di Ketapang telah berlangsung berulang kali tanpa penyelesaian konkret. Bahkan, aksi protes serupa diklaim telah dilakukan hingga enam kali.
Made Artawan, salah seorang sopir truk logistik, mengatakan aksi blokade merupakan puncak kekecewaan karena sejumlah komitmen yang sebelumnya disampaikan pengelola pelabuhan tak kunjung terealisasi.
“Kami hanya menuntut kelancaran. Ini sudah keenam kalinya kami memprotes, tetapi hanya diberi janji palsu.”
Para sopir kini meminta solusi yang lebih mengikat. Mereka mendesak adanya pakta kesepakatan tertulis yang ditandatangani secara resmi oleh Bupati Banyuwangi, Gubernur Jawa Timur, hingga Menteri Perhubungan.
LCM Diminta Khusus Angkutan Logistik
Tuntutan lain datang dari Mukhlas, sopir yang tergabung dalam Gapiper Banyuwangi. Dia meminta Dermaga Landing Craft Machine (LCM) dikhususkan untuk kendaraan logistik.
Menurutnya, kendaraan angkutan barang seharusnya tidak lagi bercampur dengan kendaraan kecil dalam pola layanan dermaga tersebut. Pencampuran kendaraan dinilai ikut memperlambat ritme pemuatan dan memperpanjang waktu tunggu truk logistik.
Dampaknya tidak sekadar antrean panjang. Para sopir mengaku mengalami kerugian materiil karena komoditas yang diangkut berisiko rusak selama perjalanan. Biaya hidup juga membengkak karena mereka harus bertahan berhari-hari di kantong parkir penampungan.
Kondisi tersebut bahkan disebut mulai mengganggu kesehatan para sopir.
Bottleneck Pemuatan Kapal Jadi Sorotan
Prapto, sopir truk pengangkut bata ringan asal Jember, menyoroti pola pemuatan kapal yang dinilainya menjadi salah satu sumber utama bottleneck atau penyumbatan operasional di pelabuhan.
Dia mencontohkan, satu kapal terkadang hanya mampu memuat dua hingga empat truk logistik. Kondisi itu diperparah waktu tunggu atau port time yang disebut bisa mencapai dua jam.
“Bagaimana tidak macet parah jika tata kelolanya lambat seperti ini,” kata Prapto.
Bagi sopir logistik, persoalan di Ketapang bukan sekadar soal lamanya menunggu kapal. Setiap keterlambatan berdampak langsung terhadap perputaran armada, biaya operasional, kondisi muatan, hingga pendapatan pengemudi.
Ngurah, sopir pengangkut pakan ternak asal Bali, menyebut ritme kemacetan di Ketapang sudah berada pada kondisi yang sulit diterima para pelaku angkutan logistik.
Keluhan serupa disampaikan Agus, sopir lokal Banyuwangi. Menurut dia, pola kemacetan di pelabuhan sangat tidak menentu. Jalur penyeberangan bisa lancar selama beberapa hari, tetapi kembali macet parah dalam waktu singkat.
“Dua hari lancar, seminggu macet total. Kami sudah lelah di-PHP,” ujarnya.
Sopir Ancam Blokade hingga Sepekan
Aksi blokade pada Sabtu (26/9) menjadi peringatan keras dari para sopir logistik kepada pengelola dan otoritas terkait. Mereka menegaskan tidak ingin kembali menerima janji penyelesaian tanpa kepastian pelaksanaan.
Para sopir bahkan mengancam akan mempertahankan aksi hingga satu minggu apabila tidak ada keputusan tertulis yang sah dari otoritas berwenang.
Tuntutan mereka kini mengerucut pada satu hal: kepastian. Bagi para pengemudi truk, kelancaran arus logistik di Pelabuhan Ketapang bukan hanya menyangkut kenyamanan perjalanan, tetapi juga menyangkut biaya distribusi, kondisi barang, waktu tempuh, dan keberlangsungan aktivitas ekonomi Jawa–Bali.
Jika tidak segera ditemukan solusi konkret, blokade dan gangguan operasional berpotensi kembali terjadi. Pelabuhan Ketapang pun menghadapi tekanan untuk membenahi tata kelola arus kendaraan logistik sekaligus memastikan proses penyeberangan tetap berjalan lancar. (ray/ram/aif)
Editor : Ali Sodiqin