RADAR BANYUWANGI – Perjalanan lebih dari lima dekade Guruh Soekarnoputra di dunia seni berakhir pada Sabtu (26/9/2026). Putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati itu meninggal dunia pada usia 73 tahun, pukul 04.16 WIB, di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta. Kabar tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.
Kepergian Guruh terjadi setelah beberapa waktu terakhir kondisi kesehatannya menurun. Sebelum meninggal, dia sempat menjalani perawatan di rumah sakit dan dikabarkan berada dalam kondisi kritis.
Kini, jenazah Guruh disemayamkan di rumah duka di Jalan Sriwijaya Raya, Jakarta Selatan. Dia direncanakan dimakamkan di TPU Karet Bivak, di samping pusara ibundanya, Fatmawati. Waktu pemakaman masih menunggu musyawarah keluarga.
Kabar duka tersebut sekaligus menutup perjalanan panjang Guruh sebagai salah satu seniman Indonesia yang bekerja lintas bidang. Musik, tari, koreografi, busana, tata panggung, hingga pertunjukan kolosal menjadi bagian dari karya yang dibangunnya selama puluhan tahun.
Mulai Mengenal Seni Sejak Usia Lima Tahun
Kecintaan Guruh terhadap seni tumbuh sejak masa kanak-kanak.
Sekitar usia lima tahun, dia mulai mempelajari sejumlah tari tradisional, antara lain tari Jawa, Sunda, dan Bali.
Musik juga menjadi bagian dari masa kecilnya. Guruh pernah membentuk Band Bocah dan belajar memainkan piano. Ketika beranjak remaja, eksplorasinya berlanjut dengan membentuk kelompok musik The Beat G pada 1965.
Dari sana, Guruh tidak berhenti pada satu bidang. Musik menjadi pintu masuk menuju dunia kreatif yang lebih luas.
Dia kemudian menggabungkan musik dengan tari, koreografi, busana, tata panggung, dan berbagai unsur pertunjukan.
Guruh Gipsy dan Eksperimen Musik
Salah satu tonggak penting perjalanan musik Guruh adalah proyek Guruh Gipsy.
Album Guruh Gipsy dirilis pada 1977 dan dikenal karena memadukan musik modern dengan unsur gamelan Bali. Proyek tersebut melibatkan kelompok Gipsy dan sejumlah musisi, termasuk Chrisye.
Eksperimen itu menjadi bagian dari upaya Guruh mempertemukan kekayaan tradisi Nusantara dengan perkembangan musik modern.
Pendekatan tersebut kemudian menjadi salah satu ciri dalam karya-karyanya: tradisi tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga diolah menjadi bagian dari pertunjukan kontemporer.
Swara Maharddhika dan Panggung Pertunjukan
Pada 27 Maret 1977, Guruh mendirikan Swara Maharddhika.
Kelompok tersebut menjadi salah satu wadah bagi gagasan kreatif Guruh. Aktivitasnya berkembang tidak hanya dalam musik, tetapi juga tari dan seni pertunjukan.
Pada 1987, Swara Maharddhika berubah menjadi Yayasan Swara Maharddhika.
Guruh kemudian mendirikan PT Gencar Semarak Perkasa atau GSP Production pada 1989. Melalui berbagai wadah tersebut, skala pertunjukan yang digagasnya semakin besar.
Menggelar Pergelaran Karya Cipta
Jejak Guruh juga terlihat melalui rangkaian Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra.
Pergelaran pertama digelar pada 1979. Setelah itu, muncul sejumlah karya besar seperti Untukmu Indonesiaku pada 1980, Cinta Indonesia pada 1984, dan Gilang Indonesia Gemilang pada 1986.
Pada 1989, Guruh menghadirkan pertunjukan kolosal Jak Jak Jak Jak Jakarta serta Gempita Swara Maharddhika.
Pertunjukan tersebut menunjukkan cara Guruh menerjemahkan gagasan tentang Indonesia melalui panggung. Musik, tari, busana, koreografi, dan tata artistik dirangkai menjadi satu kesatuan.
Menjelajah Dunia Film
Kiprah Guruh juga meluas ke perfilman.
Dia pernah terlibat sebagai ilustrator musik dalam sejumlah film, antara lain Ali Topan Anak Jalanan, Gita Cinta dari SMA, dan Puspa Indah Taman Hati.
Guruh juga pernah tampil sebagai aktor dalam film Sembilan Wali (Wali Songo) pada 1985.
Dengan demikian, perjalanan kreatifnya tidak hanya berlangsung di studio musik atau panggung pertunjukan. Film juga menjadi salah satu medium yang pernah disentuhnya.
Seni dan Politik
Di luar dunia seni, Guruh juga terjun ke politik. Dia pernah menjadi anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan.
Namun, seni tetap menjadi bagian paling panjang dari perjalanan hidupnya.
Selama lebih dari lima dekade, Guruh terus membawa gagasan tentang kebudayaan Indonesia melalui berbagai bentuk karya. Dia mengolah musik, tari, koreografi, busana, dan pertunjukan menjadi bahasa artistik yang khas.
Kini, perjalanan itu telah sampai pada ujungnya.
Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu pagi, 26 September 2026, dalam usia 73 tahun. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka sebelum dimakamkan di TPU Karet Bivak, di sisi makam Fatmawati.
Bagi keluarga, kepergian Guruh meninggalkan duka. Bagi dunia seni, lima dekade perjalanan kreatifnya meninggalkan karya yang terus menjadi bagian dari catatan kebudayaan Indonesia. (*)
Editor : Ali Sodiqin