Macet Ketapang Makin Panjang, Sopir: Bangsring-Pelabuhan Habiskan 13 Jam

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 04:00 WIB
CARI SOLUSI ATASI MACET: Seluruh pemangku kepentingan penyeberangan Selat Bali menggelar rapat koordinasi taktis di kantor ASDP Ketapang, Jumat (18/9). (ASDP for Radar Banyuwangi)
CARI SOLUSI ATASI MACET: Seluruh pemangku kepentingan penyeberangan Selat Bali menggelar rapat koordinasi taktis di kantor ASDP Ketapang, Jumat (18/9). (ASDP for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Antrean kendaraan menuju Pelabuhan ASDP Ketapang belum juga terurai hingga Jumat sore (18/9). Ekor kemacetan masih mencapai sekitar 5 kilometer, sementara sekitar 600 truk logistik terdampak keterlambatan atau tidak terangkut selama dua hari terakhir akibat cuaca buruk dan pasang surut air laut Selat Bali.

Kondisi tersebut membuat seluruh pemangku kepentingan pelabuhan menggelar rapat darurat. Langkah itu dilakukan untuk mengejar ketertinggalan perjalanan kapal sekaligus mempercepat bongkar muat dan keberangkatan kapal.

General Manager (GM) ASDP Ketapang Media Syahrianto mengatakan percepatan operasional menjadi komitmen bersama sejumlah pihak. Di antaranya BPTD, Gapasdap, INFA, kepolisian, dan KSOP.

Fokus utama diarahkan pada optimalisasi kapal berukuran besar serta pengaturan dermaga berdasarkan jenis kendaraan.

"Dermaga LSN dan Dermaga 4 Ketapang kini diprioritaskan khusus untuk mengangkut logistik truk. Sementara untuk Dermaga 4 di sisi Gilimanuk tetap bisa dikombinasikan untuk melayani kendaraan pribadi," ujar Media, kemarin.

Kapal Tertahan hingga 2,5 Jam

Kemacetan yang terjadi dalam dua hari terakhir tidak semata-mata disebabkan tingginya volume kendaraan. Faktor alam ikut memperparah tersendatnya arus penyeberangan.

Media menjelaskan, cuaca buruk dan fenomena pasang surut air laut di Selat Bali menjadi pemicu utama gangguan operasional kapal.

Otoritas pelabuhan bahkan sempat menghentikan sementara aktivitas kapal di Dermaga LCM. Jeda operasional berlangsung sekitar 1,5 jam pada pagi hari dan satu jam pada sore hari untuk menjaga keselamatan pelayaran.

Masalah kembali muncul ketika permukaan air laut mengalami surut rendah.

Kapal-kapal berukuran besar kesulitan melakukan proses sandar. Akibatnya, keberangkatan kapal mengalami penundaan sekitar dua hingga 2,5 jam dalam setiap siklus.

Penundaan yang berulang tersebut kemudian menumpuk menjadi antrean kendaraan yang semakin panjang di akses menuju pelabuhan.

Selama dua hari terakhir, sekitar 600 armada truk logistik tercatat mengalami keterlambatan atau bahkan tidak terangkut (loss).

ASDP kini berupaya mengejar perjalanan kapal yang hilang akibat gangguan cuaca. Optimalisasi kapal dan pembagian fungsi dermaga menjadi bagian dari strategi untuk mempercepat pengangkutan kendaraan yang masih tertahan.

Sopir Terjebak Lebih dari 24 Jam

Di balik angka antrean dan ratusan truk yang tertahan, kemacetan tersebut berarti waktu perjalanan yang berlipat bagi para sopir angkutan barang.

Yoyok, 34, sopir ekspedisi asal Jakarta, menjadi salah satu yang merasakan dampaknya. Ia membawa muatan buah dengan tujuan Tabanan, Bali.

Perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu sekitar 22 jam berubah menjadi jauh lebih panjang. Yoyok mengaku telah terjebak kemacetan selama lebih dari 24 jam.

Ia berangkat dari Jakarta pada Rabu malam (16/9). Namun hingga Jumat sore, dirinya baru mendekati pintu masuk kapal di Pelabuhan Ketapang.

"Perjalanan dari Bangsring ke pelabuhan saja memakan waktu 13 jam, ditambah tertahan di Bulusan selama 5 jam," keluh Yoyok.

Kondisi tersebut menunjukkan efek berantai gangguan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk. Ketika jadwal kapal tertunda akibat cuaca dan kondisi pasang surut, antrean kendaraan di jalur akses pelabuhan ikut memanjang.

Hingga Jumat sore, pemangku kepentingan pelabuhan masih melakukan berbagai langkah percepatan untuk mengurai antrean 5 kilometer sekaligus memulihkan perjalanan kapal yang tertinggal. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
macet Ketapang pelabuhan ketapang cuaca buruk asdp ketapang antrean truk