RADAR BANYUWANGI – Kemacetan menuju Pelabuhan ASDP Ketapang, Banyuwangi, kembali mengular hingga belasan kilometer. Setelah pada Kamis (17/9/2026) malam antrean kendaraan mencapai sekitar 10 kilometer, Jumat (18/9/2026) pagi kepadatan dilaporkan sudah menjalar hingga kawasan Bangsring Underwater, sekitar 12,7 kilometer dari Pelabuhan Ketapang. Kondisi ini membuat ratusan kendaraan, terutama truk logistik, tertahan berjam-jam dan mengganggu distribusi barang menuju Banyuwangi.
Antrean panjang tersebut membentang dari kawasan utara pintu masuk Grand Watu Dodol (GWD) hingga Pelabuhan ASDP Ketapang. Kemacetan bukan lagi persoalan sesaat. Dalam hampir satu bulan terakhir, panjang antrean kendaraan di jalur tersebut dilaporkan fluktuatif antara 4 hingga 12 kilometer.
Kondisi terbaru pada Jumat pagi menunjukkan kepadatan kembali bergerak ke arah utara. Bangsring Underwater menjadi salah satu titik yang terdampak, membuat perjalanan kendaraan menuju pelabuhan membutuhkan waktu jauh lebih lama dibanding kondisi normal.
Dai Kondang Ikut Terjebak
Panjang antrean tidak hanya dirasakan sopir truk dan kendaraan logistik. KH Abdul Ghofar, dai asal Rogojampi, Banyuwangi, juga sempat terjebak kemacetan di kawasan Bangsring pada Kamis malam.
Malam itu, Abdul Ghofar dijadwalkan mengisi pengajian Maulid Nabi di Wongsorejo. Namun, kendaraan yang ditumpanginya ikut tersendat dalam antrean menuju Ketapang.
Situasi tersebut membuat panitia mengambil langkah cepat. Abdul Ghofar akhirnya dijemput menggunakan kendaraan roda dua agar dapat melanjutkan perjalanan menuju lokasi pengajian.
Kisah tersebut menggambarkan bagaimana antrean kendaraan di jalur Ketapang tidak sekadar memperlambat perjalanan logistik, tetapi juga mulai memengaruhi mobilitas masyarakat di sepanjang koridor utara Banyuwangi.
Ratusan Truk Logistik Tertahan
Di tengah antrean, kendaraan logistik menjadi kelompok yang paling terdampak. Ratusan truk yang hendak masuk ke Pelabuhan Ketapang harus menunggu selama berjam-jam sebelum dapat melanjutkan perjalanan.
Nasrukin, salah seorang sopir kendaraan logistik, mengatakan kemacetan mengganggu ritme pengiriman barang yang selama ini dilakukannya.
Nasrukin rutin mengangkut berbagai bahan bangunan dari Situbondo menuju Banyuwangi setiap dua hari sekali. Namun, antrean panjang membuat waktu tempuh perjalanan menjadi tidak menentu.
Keluhan serupa disampaikan Agus, sopir kendaraan logistik lainnya. Dia mengaku sudah terjebak kemacetan sejak Kamis dini hari.
Bagi pengemudi logistik, waktu yang habis di jalan bukan sekadar persoalan kenyamanan. Keterlambatan dapat memengaruhi jadwal bongkar muat, perjalanan berikutnya, hingga distribusi barang.
Kemacetan Sudah Berlangsung Hampir Sebulan
Kemacetan menuju Pelabuhan Ketapang telah menjadi persoalan berulang sepanjang beberapa pekan terakhir. Pada Kamis (17/9/2026), antrean kendaraan kembali mencapai sekitar 10 kilometer, membentang dari kawasan utara Grand Watu Dodol hingga pelabuhan.
Sebelumnya, antrean bahkan sempat mencapai belasan kilometer. Pada awal September, antrean kendaraan menuju Ketapang dilaporkan mencapai sekitar 12 kilometer, dengan kepadatan hingga kawasan Bangsring.
Data tersebut menunjukkan pola yang fluktuatif. Panjang antrean bisa menyusut, tetapi kembali memanjang ketika volume kendaraan meningkat atau kapasitas layanan penyeberangan tidak mampu mengimbangi arus kendaraan yang masuk.
Volume Logistik dan Kapasitas Pelabuhan Jadi Sorotan
Kemacetan di Ketapang sebelumnya dijelaskan ASDP berkaitan dengan peningkatan volume kendaraan logistik dan pekerjaan peningkatan kapasitas dermaga.
PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang pada awal September menyebut volume kendaraan logistik meningkat sekitar 16 persen dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan pekerjaan peningkatan kapasitas dermaga di lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Kepolisian juga sebelumnya menyatakan keterbatasan kapasitas layanan penyeberangan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kendaraan menumpuk hingga ruas jalan menuju pelabuhan. Petugas kemudian memperkuat pengaturan lalu lintas dan melakukan sejumlah rekayasa untuk mengurai antrean.
Dengan kondisi tersebut, persoalan antrean Ketapang menjadi pertemuan antara tingginya arus kendaraan, terutama logistik, dengan kapasitas layanan penyeberangan serta pekerjaan peningkatan infrastruktur pelabuhan.
Jalur Ketapang Jadi Urat Nadi Distribusi Jawa-Bali
Pelabuhan Ketapang memiliki posisi penting karena menjadi pintu penyeberangan kendaraan dan penumpang dari Jawa menuju Gilimanuk, Bali.
Ketika antrean kendaraan mengular hingga kawasan Bangsring, dampaknya tidak berhenti di pintu masuk pelabuhan. Jalan nasional di kawasan utara Banyuwangi ikut menerima beban kepadatan.
Bagi sopir logistik, persoalannya sederhana tetapi berdampak panjang: semakin lama kendaraan tertahan, semakin lama pula barang tiba di tujuan.
Karena itu, antrean hingga 12,7 kilometer pada Jumat pagi bukan sekadar angka panjang kemacetan. Di balik deretan truk yang berhenti, ada distribusi bahan bangunan, jadwal pengiriman, aktivitas ekonomi, serta perjalanan masyarakat yang ikut tersandera.
Kesimpulannya, kemacetan menuju Pelabuhan ASDP Ketapang kembali memburuk pada Jumat (18/9/2026), dengan antrean mencapai kawasan Bangsring Underwater atau sekitar 12,7 kilometer dari pelabuhan. Setelah hampir sebulan berulang dengan panjang antrean 4–12 kilometer, kepadatan kini kembali menekan jalur utara Banyuwangi dan membuat kendaraan logistik tertahan berjam-jam. (*)
Editor : Ali Sodiqin