Babah Alun Kebut Tol Layang Rp15 Triliun, Ini Progres Terbaru Tol Harbour Road II di Atas Tol Sedyat

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 20:00 WIB
Pengusaha jalan tol Mohammad Jusuf Hamka alias Babah Alun. (MIFTAHUL HAYAT/JAWA POS)
Pengusaha jalan tol Mohammad Jusuf Hamka alias Babah Alun. (MIFTAHUL HAYAT/JAWA POS)

RADAR BANYUWANGI – Tol layang tertinggi di Jakarta mulai menunjukkan bentuknya. Jalan Tol Harbour Road II (HBR II) ruas Ancol Timur–Pluit yang dibangun di atas Tol Sedyatmo kini mencapai progres konstruksi 44,12 persen, dengan ketersediaan lahan yang telah mencapai sekitar 77 persen.

Proyek senilai Rp15,08 triliun itu ditargetkan rampung pada 2028. Dibangun sepanjang 9,7 kilometer dengan struktur layang bertingkat setinggi hingga 38 meter, HBR II diproyeksikan menjadi jalur alternatif untuk mengurai kepadatan lalu lintas di kawasan utara Jakarta, sekaligus memperkuat konektivitas menuju Pelabuhan Tanjung Priok dan Bandara Soekarno-Hatta.

Pembangunan proyek tersebut dilakukan melalui PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) Tbk, perusahaan yang berada di bawah kendali pengusaha jalan tol Mohammad Jusuf Hamka alias Babah Alun.

Direktur Utama CMNP Arief Budhy Hardono mengatakan, selain progres konstruksi 44,12 persen, informasi mengenai lahan yang telah memperoleh status UGK mencapai 77 persen. Sementara area yang sudah tersedia dan dapat dikerjakan kontraktor mencapai 81,55 persen.

"Progres kami ini 44,12 persen dengan availability dari tanah yang sudah UGK infonya sudah 77 persen. Ini adalah progres baru sebetulnya, walaupun UGK sudah sampai 77 persen, availability area yang bisa dikerjakan oleh rekan-rekan kontraktor adalah 81,55 persen," ujar Arief melalui akun Instagram resmi CMNP, Sabtu (5/9/2026).

Dibangun di Atas Tol Sedyatmo

HBR II memiliki karakter berbeda dibandingkan proyek tol konvensional. Jalan sepanjang 9,7 kilometer tersebut dibangun di atas jalan tol yang sudah beroperasi, yakni Tol Sedyatmo.

Struktur jalan layangnya dirancang bertingkat dengan ketinggian mencapai 38 meter. Dengan konsep tersebut, HBR II disebut menjadi jalan tol layang tertinggi di Jakarta.

Ruas tersebut dirancang memiliki konfigurasi 2×3 lajur, dengan kecepatan rencana hingga 80 kilometer per jam.

Konsep elevated atau layang dipilih untuk memanfaatkan ruang yang terbatas di kawasan Jakarta Utara. Jalan tol baru tidak harus sepenuhnya mengambil koridor baru di permukaan tanah karena sebagian konstruksinya berada di atas jalur yang sudah tersedia.

Pembangunan HBR II juga diarahkan untuk mendukung kelancaran arus kendaraan dari dan menuju kawasan Pelabuhan Tanjung Priok.

Arus logistik dari pelabuhan yang selama ini bertumpu pada koridor Jalan Martadinata menuju Pluit diharapkan dapat lebih terurai. Pada saat yang sama, konektivitas kawasan Jakarta Utara dengan Bandara Soekarno-Hatta juga diproyeksikan semakin kuat.

Diklaim Tahan Gempa hingga 1.000 Tahun

Keunikan lain proyek HBR II terletak pada teknologi konstruksinya. Jusuf Hamka menyebut struktur jalan layang tersebut dirancang dengan ketahanan terhadap ancaman gempa dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Ia bahkan menyebut konstruksi HBR II memiliki kekuatan antigempa hingga 1.000 tahun.

"Kalau dulu single decker sekarang double decker," kata Jusuf saat menjelaskan konsep jalan layang tersebut.

Jusuf juga menyampaikan bahwa pembangunan HBR II dilakukan oleh tenaga dan teknologi dalam negeri. Ia menegaskan proyek tersebut tidak menggunakan dana dari APBN.

"Ini dibangun oleh anak bangsa sendiri tanpa ada orang-orang luar negeri dan ini juga tidak menggunakan APBN," ujarnya.

Pernyataan mengenai ketahanan gempa hingga 1.000 tahun merupakan klaim yang disampaikan Jusuf Hamka terkait desain proyek. Detail teknis mengenai parameter gempa, standar desain, serta metode pengujiannya tidak dijelaskan dalam informasi tersebut.

Bukan Satu-satunya Tol yang Digarap Babah Alun

HBR II bukan satu-satunya proyek jalan tol yang masuk dalam rencana pengembangan bisnis Jusuf Hamka.

Melalui CMNP, ia juga memastikan pembangunan ruas Tol Sawangan–Bojonggede–Salabenda kembali dilanjutkan. Konstruksi ruas tersebut disebut akan dimulai pada 2026.

Rencana itu disampaikan Jusuf setelah bertemu dengan Bupati Bogor Rudy Susmanto di Cibinong, Rabu (5/8/2026).

"Insyaallah yang dari Sawangan sampai dengan Salabenda tahun ini konstruksinya sudah dimulai," kata Jusuf.

Ruas Sawangan–Bojonggede–Salabenda dirancang menjadi bagian dari jaringan yang memperpanjang Tol Depok–Antasari (Desari) menuju kawasan Bogor.

Jaringan tersebut nantinya direncanakan tersambung dengan Bogor Outer Ring Road (BORR) dan bahkan dikembangkan lebih jauh menuju Caringin.

"Untuk jalan tol, Babah sudah menyetujui untuk mengembangkan dari Sawangan sampai dengan Bojong Gede dan Salabenda. Selanjutnya dari Bogor ke Caringin," ujarnya.

Ada Rencana Tol Tambang di Bogor

Ekspansi jaringan tol di Bogor juga berpotensi bertambah. Jusuf Hamka menyebut dirinya mendapat tantangan untuk membangun Tol Tambang sepanjang sekitar 12 kilometer.

Ruas tersebut direncanakan menghubungkan tiga wilayah yang menjadi kawasan penting sektor tambang di Kabupaten Bogor, yakni Cigudeg, Rumpin, dan Parungpanjang.

"Pada kesempatan tersebut Babah diundang untuk membuat jalan tol dan ditantang buat jalan Tol Tambang," ujar Jusuf.

Sementara itu, jaringan Tol Antasari–Salabenda memiliki total panjang sekitar 27,9 kilometer. Sebagian ruas sudah beroperasi, sedangkan segmen Sawangan hingga Salabenda masih dalam tahap pembangunan.

Rinciannya:

Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, ruas Sawangan–Bojonggede–Salabenda ditargetkan beroperasi pada 2028.

Dengan demikian, agenda pembangunan CMNP tidak hanya berfokus pada tol layang di Jakarta Utara. Di saat HBR II dikebut untuk mengejar target penyelesaian 2028, jaringan tol baru di wilayah Depok dan Bogor juga dipersiapkan untuk memperluas konektivitas hingga Salabenda dan Caringin. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Tol Harbour Road Babah Alun Jusuf Hamka Pengusaha Tol jalan tol