Ketapang Macet Lagi, Antrean 12 Kilometer Bikin Tarif Angkutan Bali Naik

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 01:30 WIB
Antrean di Ketapang mengular hingga 12 kilometer ke arah Wongsorejo, Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Antrean di Ketapang mengular hingga 12 kilometer ke arah Wongsorejo, Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Kemacetan di jalur menuju Pelabuhan Ketapang Banyuwangi kembali mengular hingga 12 kilometer, Rabu (16/9). Antrean kendaraan yang menembus kawasan SPBU Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, bukan hanya membuat perjalanan warga tersendat, tetapi mulai mengerek biaya distribusi barang menuju Bali.

Dampaknya terasa langsung bagi angkutan logistik. Tarif borongan truk rute Jakarta–Bali disebut naik dari Rp 13 juta menjadi Rp 14 juta, sedangkan rute Surabaya–Bali meningkat dari Rp 4 juta menjadi Rp 5 juta sekali jalan.

Kemacetan panjang tersebut dipicu keterbatasan kapasitas penyeberangan. Perbaikan Dermaga MB 2 Gilimanuk belum tuntas, sementara Dermaga Bulusan belum dapat dioperasikan. Di saat yang sama, volume kendaraan yang hendak menyeberang ke Pulau Dewata terus tinggi.

Kondisi itu membuat skema tiba bongkar berangkat (TBB) tidak berjalan optimal. Kendaraan yang semestinya segera masuk kapal dan bergerak meninggalkan pelabuhan justru menumpuk di jalur menuju Ketapang.

Tiga Jam Terjebak di Watudodol

Kemacetan kali ini bukan sekadar antrean biasa. Panjangnya barisan kendaraan membuat aktivitas warga di jalur utara Banyuwangi ikut terganggu.

Herman Suyitno, warga Desa Sidodadi, menjadi salah satu yang merasakan dampaknya. Ia terjebak antrean sekitar tiga jam di kawasan Watudodol saat hendak menghadiri rapat pembahasan masalah haji di kantor PCNU Banyuwangi.

Karena tidak kunjung bergerak, Herman akhirnya memilih memutar balik.

“Akhirnya saya putuskan balik kanan. Kegiatan rapat di PCNU terpaksa saya lakukan lewat aplikasi Zoom karena jalur benar-benar macet total,” ketusnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan kepadatan kendaraan semakin sulit terurai. Salah satu persoalan yang ikut memperparah kondisi adalah pengemudi truk maupun kendaraan pribadi yang menerobos barisan antrean atau ngeblong.

Sumbatan yang pada Rabu pagi masih berada di sekitar kawasan Semen Gresik kemudian terus bergeser dan memanjang hingga kawasan SPBU Desa Bangsring pada siang hari.

Kapasitas Dermaga Jadi Titik Masalah

Kapolsek Kawasan Pelabuhan Tanjungwangi AKP Taufan Akbar membenarkan bahwa persoalan kapasitas infrastruktur masih menjadi salah satu pemicu utama antrean panjang kendaraan.

Menurut dia, jumlah kendaraan yang hendak menyeberang belum sebanding dengan kemampuan dermaga dan jumlah kapal yang tersedia.

“Penyebab kemacetan masih sama, terkait kapasitas dermaga dan jumlah kapal yang belum sebanding dengan tingginya volume kendaraan yang menyeberang,” jelas Taufan.

Untuk mengurai kepadatan, personel kepolisian tetap disiagakan. Pengaturan lalu lintas dilakukan di depan Pelabuhan ASDP Ketapang serta kawasan pertigaan Tanjungwangi.

Namun, pengaturan lalu lintas di lapangan menghadapi persoalan mendasar: kendaraan terus berdatangan sementara kapasitas penyeberangan belum sepenuhnya pulih.

Tarif Truk Jakarta–Bali Naik Rp1 Juta

Ketika antrean kendaraan semakin panjang, efek dominonya mulai terasa pada sektor logistik.

Ketua Persatuan Sopir Logistik Indonesia (PSLI) Slamet Barokah mengatakan, kemacetan di jalur Ketapang–Gilimanuk membuat biaya operasional sopir meningkat. Kondisi tersebut akhirnya ikut memengaruhi tarif angkutan barang.

Untuk perjalanan Jakarta–Bali, tarif angkutan kini mencapai sekitar Rp14 juta, naik dari sebelumnya Rp13 juta.

Sementara itu, tarif angkutan Surabaya–Bali meningkat dari Rp4 juta menjadi Rp5 juta untuk sekali perjalanan.

Kenaikan tersebut berkaitan dengan biaya yang harus ditanggung selama kendaraan tertahan dalam antrean. Semakin lama truk berhenti, semakin besar pula konsumsi BBM dan kebutuhan makan sopir.

“Sopir bisa rugi Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu dalam sekali macet. Jika tarif tidak dinaikkan, sopir malas dan menolak jalan,” papar Slamet.

Bagi pelaku logistik, waktu tempuh menjadi salah satu komponen penting dalam menghitung biaya perjalanan. Kemacetan berjam-jam bahkan berpotensi mengubah perhitungan keuntungan menjadi kerugian.

Komoditas Pangan Terancam Rusak

Persoalan tidak berhenti pada bertambahnya biaya operasional.

Slamet juga mengingatkan risiko yang lebih besar bagi angkutan yang membawa komoditas pangan dengan masa simpan pendek. Semakin lama kendaraan tertahan, semakin besar pula risiko kualitas barang menurun sebelum sampai tujuan.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi rantai pasok barang menuju Bali, terutama apabila kemacetan berlangsung berulang.

Karena itu, PSLI mendesak pemerintah pusat mencari solusi jangka panjang melalui penambahan dan penguatan infrastruktur penyeberangan.

Menurut Slamet, pertumbuhan jumlah kendaraan tidak diikuti peningkatan kapasitas dermaga yang memadai.

“Jumlah kendaraan terus naik tiap tahun, sementara jumlah dermaganya tetap sama. Ini butuh solusi konkret demi kelancaran pasokan barang,” ujarnya.

Ketapang dan Urat Nadi Logistik Bali

Jalur Ketapang–Gilimanuk bukan sekadar akses penyeberangan antarpulau. Jalur tersebut menjadi salah satu mata rantai penting pergerakan manusia dan barang dari Jawa menuju Bali.

Ketika antrean mengular hingga belasan kilometer, dampaknya pun bergerak jauh melampaui kawasan pelabuhan. Waktu perjalanan bertambah, biaya operasional meningkat, dan distribusi komoditas berisiko terganggu.

Rabu (16/9), persoalan itu kembali terlihat nyata. Antrean kendaraan mencapai sekitar 12 kilometer, sementara keterbatasan dermaga dan tingginya volume kendaraan masih menjadi tantangan.

Selama kapasitas penyeberangan belum seimbang dengan pertumbuhan kendaraan, kemacetan di sekitar Ketapang berpotensi kembali menjadi persoalan berulang—dengan konsekuensi yang tidak hanya dirasakan pengendara, tetapi juga sopir dan rantai distribusi logistik menuju Bali. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
macet Ketapang antrean kendaraan logistik bali Tarif Angkutan pelabuhan ketapang