Kapal Virgo Transport 8 dan Misteri Pukul 02.00: Akademisi ITS Pertanyakan Sistem Keselamatan

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 19:00 WIB
Kapal Virgo Transport 8 dinyatakan hilang kontak dan diyakini tenggelam di Laut Jawa, Minggu (13/9/2026). (Instagram @pt.virgokaryashipping)
Kapal Virgo Transport 8 dinyatakan hilang kontak dan diyakini tenggelam di Laut Jawa, Minggu (13/9/2026). (Instagram @pt.virgokaryashipping)

RADAR BANYUWANGI – Hilang kontaknya Kapal Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa menyisakan sejumlah pertanyaan tentang keselamatan pelayaran. Akademisi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menyoroti sedikitnya tiga aspek yang perlu dievaluasi: kondisi cuaca dan stabilitas kapal, sistem peringatan kepada penumpang, serta akurasi manifest.

Sorotan itu disampaikan Pengamat Transportasi Fakultas Arsitektur, Desain, dan Perencanaan ITS Putu Rudy Setiawan, Ir., M.Sc., menyusul insiden kapal yang mengangkut ratusan orang tersebut.

Kapal Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9). Kapal sebelumnya bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Pelabuhan Banjarmasin pada Sabtu (12/9).

Berdasarkan data Basarnas, kapal tersebut mengangkut 234 penumpang. Hingga Senin (14/9), proses pencarian dan penyelamatan masih dilakukan oleh tim terkait.

Di darat, keluarga penumpang terus mendatangi sejumlah posko informasi di Terminal Gapura Surya Nusantara. Mereka menunggu kabar mengenai kondisi anggota keluarga yang berada di dalam kapal.

Cuaca hingga Peringatan Kapten

Menurut Putu, usia kapal bukan menjadi persoalan utama yang langsung dapat dikaitkan dengan insiden tersebut.

Dari informasi yang diperolehnya, Virgo Transport 8 masih tergolong layak beroperasi dan disebut rutin menjalani proses docking.

“Dari beberapa informasi yang saya baca di media, kapal juga rutin melakukan dock,” kata Putu saat dikonfirmasi, Senin (14/9).

Karena itu, evaluasi menurut dia perlu diarahkan pada berbagai faktor yang terjadi ketika kapal berlayar, termasuk kondisi cuaca.

Cuaca buruk dapat memicu gelombang tinggi yang kemudian berpengaruh terhadap stabilitas kapal. Dalam kondisi tertentu, kapal dapat mengalami kemiringan yang membahayakan penumpang maupun kru.

Namun, Putu menilai faktor alam bukan satu-satunya hal yang perlu diperiksa.

Sistem komunikasi keselamatan antara kru dan penumpang juga menjadi perhatian. Dia menyoroti dugaan tidak adanya peringatan yang cukup kepada penumpang sebelum situasi menjadi lebih berbahaya.

“Yang menjadi sorotan saya adalah diduga tidak adanya warning dari kapten kapal kepada penumpang. Informasi tersebut banyak disebutkan di media sosial oleh penumpang yang selamat,” ujarnya.

Putu menekankan bahwa hal tersebut masih perlu dibuktikan melalui penyelidikan resmi. Namun, jika benar tidak ada peringatan yang memadai, mekanisme komunikasi darurat di atas kapal perlu menjadi bagian penting dalam evaluasi.

Pukul 02.00 WIB Jadi Titik Kritis

Waktu kejadian juga menjadi perhatian tersendiri.

Insiden diperkirakan terjadi sekitar pukul 02.00 WIB, ketika sebagian besar penumpang kemungkinan sedang beristirahat.

Kondisi itu dapat membuat proses evakuasi menjadi jauh lebih sulit, terutama jika penumpang tidak mengetahui adanya kondisi darurat sejak awal.

“Bisa jadi yang separuh ini masih ada di dalam kamar, karena kapal ini termasuk kapal yang cukup luxury, dan ada kamar-kamarnya, bisa memuat orang dan kendaraan,” jelas Putu.

Menurut dia, dugaan minimnya peringatan sebelum kejadian dapat membuat sebagian penumpang terlambat keluar dari kamar ketika kapal mulai mengalami masalah.

“Karena kejadiannya sekitar jam 02.00 WIB, tidak ada indikasi peringatan, maka saat peristiwa banyak penumpang yang masih tidur di dalam kamar,” imbuhnya.

Jika benar terdapat penumpang yang masih berada di dalam kamar ketika kondisi kapal memburuk, situasi tersebut tentu menjadi faktor penting dalam proses pencarian dan penyelamatan.

Karena itu, menurut Putu, prosedur early warning dan sistem komunikasi darurat harus dipastikan mampu menjangkau seluruh penumpang, termasuk mereka yang berada di kamar.

Manifest Penumpang Tak Kalah Penting

Selain keselamatan di atas kapal, Putu menyoroti persoalan lain yang tak kalah krusial: manifest penumpang.

Munculnya informasi mengenai dugaan penumpang yang tidak tercatat dalam manifest, menurut dia, menunjukkan masih adanya persoalan dalam sistem pendataan transportasi laut.

Manifest bukan sekadar daftar administratif. Dalam kondisi kecelakaan atau kapal hilang kontak, data tersebut menjadi acuan petugas untuk mengetahui berapa orang yang berada di kapal dan siapa saja yang harus dicari.

Data yang akurat juga membantu keluarga mendapatkan informasi lebih jelas mengenai keberadaan anggota keluarganya.

“Soal itu kan penyakit lama dari transportasi laut. Transportasi yang teliti bagi saya adalah transportasi udara dan transportasi kereta api,” kata Putu.

Dia menilai persoalan penumpang yang tidak tercatat perlu menjadi perhatian serius dan tidak boleh dianggap sebagai persoalan administratif semata.

Sebab, ketika terjadi kecelakaan, ketidakakuratan manifest dapat menyulitkan proses pencarian, penyelamatan, hingga identifikasi korban.

Putu menyebut dugaan penumpang yang tidak tercatat dapat terjadi melalui sejumlah kemungkinan, termasuk orang yang memiliki hubungan dengan kru kapal.

“Karena ada beberapa penumpang kru kapal yang artinya dia punya kenalan, atau penumpang gelap yang punya kenalan kru kapal dan sebagainya, sehingga dia bisa masuk dan kemudian tidak tercatat di dalam manifest,” tandasnya.

Momentum Evaluasi Keselamatan Pelayaran

Insiden Virgo Transport 8 di Laut Jawa pada akhirnya tidak hanya menyangkut proses pencarian dan penyelamatan penumpang.

Menurut Putu, peristiwa tersebut harus menjadi momentum untuk mengevaluasi keseluruhan sistem keselamatan pelayaran.

Evaluasi itu mencakup kondisi kapal dan pengaruh cuaca, kesiapan prosedur darurat, mekanisme peringatan dari kru kepada penumpang, hingga ketepatan data manifest.

Terlebih, kapal tersebut membawa ratusan penumpang dalam perjalanan antarpulau dari Surabaya menuju Banjarmasin.

Untuk sementara, proses pencarian dan penyelamatan masih menjadi prioritas. Adapun penyebab pasti hilang kontaknya Virgo Transport 8 serta kondisi seluruh penumpang masih menunggu hasil operasi dan pemeriksaan resmi pihak berwenang.

Apa pun hasil akhirnya, insiden tersebut menunjukkan bahwa kecepatan peringatan, ketepatan manifest, dan kesiapan evakuasi dapat menjadi faktor yang sangat menentukan ketika keadaan darurat terjadi di tengah laut. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
Virgo Transport 8 Kapal hilang kontak 234 penumpang akademisi ITS laut jawa