RADAR BANYUWANGI – Kapal Virgo Transport 8 yang membawa 243 orang dalam pelayaran Surabaya-Banjarmasin mendadak miring hingga akhirnya tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa, Minggu (13/9/2026). Salah satu korban selamat, Ahmad Saudi, mengaku nyaris tak punya waktu untuk berpikir ketika kapal tiba-tiba oleng dan penumpang berhamburan menyelamatkan diri.
Ahmad saat itu sedang tidur di sofa ketika suasana kapal mendadak berubah. Suara orang-orang berlarian membangunkannya.
Dia sempat bertanya apa yang terjadi. Jawaban yang diterimanya membuat Ahmad langsung terjaga: kapal miring.
Begitu berdiri, Ahmad menyadari kemiringan kapal bukan sekadar guncangan biasa.
"Waktu saya tidur kan, saya kan tidur di kursi, di sofa. Jadi saya tidur itu ada orang lari. Saya tanya kenapa? Kapal miring. Terus saya berdiri, ternyata miring sungguhan," kata Ahmad, dilansir detikKalimantan, Minggu (13/9/2026).
Dalam hitungan waktu, situasi berubah menjadi kepanikan.
Pegangan di Jendela, Ahmad Bertahan Sampai Kapal Miring
Ahmad berusaha menyelamatkan diri dengan berpegangan pada bagian jendela kapal. Ketika kemiringan semakin parah, dia bergerak menuju bagian atas kapal.
Dia memilih bertahan selama mungkin sembari menunggu kesempatan untuk meninggalkan kapal.
"Langsung saya lari ke bawah, terus saya ke jendela, saya pegangan sampai kapal itu miring. Abis miring, saya naik ke atas, nunggu sampai kapal tenggelam. Baru ada kapal karet itu keluar, baru saya loncat," jelasnya.
Perahu karet akhirnya menjadi jalan keluar bagi Ahmad.
Dia kemudian berhasil dievakuasi menggunakan MV Haida menuju Banjarmasin.
Kesaksian Ahmad menggambarkan betapa cepat kondisi kapal berubah dari perjalanan biasa menjadi situasi darurat. Ia juga menyoroti kondisi penumpang yang berada di kamar-kamar kelas ekonomi saat kapal mulai miring.
Ahmad: Banyak Penumpang Masih Berada di Kamar
Menurut Ahmad, sebagian penumpang masih berada di kamar ekonomi ketika kapal mulai mengalami kemiringan.
Dia menduga kondisi tersebut membuat sebagian penumpang kesulitan keluar, terlebih kemiringan kapal berlangsung sangat cepat.
Ahmad juga menyebut tidak mendengar alarm atau pemberitahuan darurat sebelum kapal miring.
"Yang lain, ibu-ibu yang tinggal di kamar ekonomi ya, itu mungkin nggak selamat karena terlalu cepat kapal ini kemiringannya. Sedangkan alarm pemberitahuan aja nggak ada. Nggak ada tanda-tanda," katanya.
Dia menuturkan penumpang yang berada di luar kamar, terutama sopir dan penumpang laki-laki, lebih cepat bergerak mencari jalan keluar.
Kesaksian tersebut menjadi salah satu gambaran dari detik-detik kecelakaan Virgo Transport 8. Namun, dugaan mengenai korban yang masih berada di kamar maupun persoalan alarm masih perlu diverifikasi melalui penyelidikan resmi.
Virgo Transport 8 Hilang Kontak Setelah Laporkan Cuaca Buruk
Kapal Virgo Transport 8 sebelumnya berlayar dengan rute Surabaya-Banjarmasin.
Berdasarkan laporan awal operasi SAR, kapal tersebut menghadapi cuaca buruk sebelum kemudian hilang kontak.
Kepala Basarnas Marsdya TNI Mohammad Syafii mengatakan laporan mengenai kecelakaan kapal diterima dalam rangka operasi pencarian dan pertolongan di Laut Jawa.
"Dilaporkan info awal operasi SAR kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 hilang kontak di Laut Jawa, Provinsi Kalimantan Selatan," kata Syafii, Minggu (13/9/2026).
Lokasi terakhir kapal berada sekitar 80 nautical mile dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin. Jarak tersebut membutuhkan waktu tempuh sekitar lima jam menggunakan armada SAR.
Kronologi Virgo Transport 8 Hilang Kontak
Berikut kronologi awal kejadian berdasarkan laporan operasi SAR:
01.00 WIB
Virgo Transport 8 yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin melaporkan menghadapi cuaca buruk. Setelah itu, komunikasi dengan kapal dilaporkan terputus.
04.10 WIB
General Manager Virgo Transport 8 melaporkan kejadian tersebut kepada Kantor SAR Banjarmasin untuk mendapatkan bantuan pencarian dan pertolongan.
04.30 WIB
Kantor SAR Banjarmasin memberangkatkan tim menuju Dermaga SAR Basirih. Tim kemudian bergerak ke titik terakhir kapal menggunakan KN SAR Laksmana 241 dengan estimasi perjalanan sekitar lima jam.
Setelah laporan diterima
Basarnas Command Center mengirimkan broadcast radio ke berbagai saluran komunikasi di kawasan tersebut serta peta prediksi digital sebagai salah satu dasar pelaksanaan operasi SAR.
Operasi kemudian diperluas dengan melibatkan helikopter SAR, armada KRI TNI AL, Polairud, serta potensi SAR lainnya.
107 Orang Selamat, 6 Meninggal Dunia
Kementerian Perhubungan dalam pembaruan data menyebut 107 orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat dan enam orang meninggal dunia. Proses pencarian, evakuasi, serta pendataan masih berlangsung pada saat laporan tersebut disampaikan.
Kepala Kantor KSOP Kelas I Banjarmasin Heri Purwanto menyatakan angka tersebut merupakan data sementara.
"Data sementara, sebanyak 107 orang penumpang telah berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, 6 orang meninggal dunia, sementara proses pencarian dan pendataan lebih lanjut terus berlangsung," ujar Heri dalam ralat keterangan tertulis, Minggu (13/9/2026).
Evakuasi dilakukan Basarnas dengan bantuan kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi, di antaranya MV Haida, MT Mauhan, dan TB TCP. Distrik Navigasi Tipe A Kelas II Banjarmasin juga mengerahkan KN Kunyit untuk mendukung proses evakuasi.
Data jumlah korban dapat berubah seiring proses pencarian dan verifikasi manifes.
Daftar Korban yang Dievakuasi dari Sejumlah Kapal
Data yang dilaporkan dari beberapa kapal penolong mencatat rincian sementara sebagai berikut:
| Kapal Penolong | Kondisi Korban |
|---|---|
| TB TCP | 1 selamat, 5 meninggal |
| TB Mauhan | 14 selamat, 1 cedera berat, 1 meninggal |
| MV Haida | 69 selamat |
| KM Cahaya Bahari | 62 selamat |
Perbedaan antara rincian berdasarkan kapal penolong dan pembaruan resmi Kemenhub perlu dipahami sebagai data yang berkembang dalam proses evakuasi dan pendataan, sehingga angka akhir masih menunggu verifikasi otoritas.
Virgo Transport 8 Membawa 243 Orang
Berdasarkan pembaruan manifes yang disampaikan Kemenhub, Virgo Transport 8 membawa total 243 orang.
Komposisinya terdiri atas:
-
30 kru kapal;
-
27 mitra kerja kapal;
-
59 penumpang dewasa;
-
1 anak-anak;
-
126 sopir dan kernet.
Kapal tersebut juga membawa 89 unit kendaraan sebagai muatan.
Kapal dilaporkan mengalami kemiringan di sekitar perairan Masalembo, Laut Jawa, pada 13 September 2026 sekitar pukul 02.00 waktu setempat.
Penyebab Kapal Miring Masih Diselidiki
Penyebab pasti kecelakaan Virgo Transport 8 belum ditetapkan.
KSOP Kelas I Banjarmasin menyatakan investigasi akan melihat berbagai kemungkinan, mulai dari faktor alam, teknis, hingga faktor manusia.
Dengan demikian, laporan mengenai cuaca buruk, kondisi kapal yang mendadak miring, hingga kesaksian korban mengenai tidak terdengarnya alarm masih menjadi bagian dari informasi yang perlu diperiksa dalam penyelidikan.
Heri menegaskan KSOP Utama Tanjung Perak dan KSOP Kelas I Banjarmasin terus memantau penanganan insiden serta akan menyampaikan informasi resmi berdasarkan perkembangan di lapangan.
Posko Dibuka untuk Keluarga Korban
Kantor KSOP Kelas I Banjarmasin membuka posko di Terminal Penumpang Bandarmasih, Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Posko tersebut menjadi pusat koordinasi penanganan insiden sekaligus tempat keluarga memperoleh informasi mengenai perkembangan pencarian, evakuasi, dan pendataan.
Koordinasi dilakukan bersama Basarnas, Pelindo, Distrik Navigasi Banjarmasin/VTS, kepanduan Pelindo, pihak keagenan kapal, serta keluarga korban.
Bagi Ahmad Saudi, pengalaman tersebut meninggalkan gambaran yang sulit dilupakan: kapal yang semula menjadi sarana perjalanan menuju Banjarmasin tiba-tiba miring, penumpang berlarian, dan keputusan untuk bertahan di bagian atas kapal menjadi penentu keselamatannya.
Sementara itu, bagi tim SAR dan otoritas terkait, pekerjaan belum selesai. Pencarian, pendataan korban, dan penyelidikan penyebab kecelakaan masih terus dilakukan untuk memastikan nasib seluruh orang yang berada di atas Virgo Transport 8. (*)
Editor : Ali Sodiqin