Ulta Levenia Nababan Disorot soal HAARP, Isu Antek Asing Ikut Mencuat di Tengah Polemik

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 22:30 WIB
Ulta Levenia Nababan. (Instagram/@leveenia)
Ulta Levenia Nababan. (Instagram/@leveenia)

RADAR BANYUWANGI - Polemik pernyataan Ulta Levenia Nababan soal proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) belum mereda. Plt. Deputi Bidang Pembinaan Komunikasi Pemerintah di Badan Komunikasi (Bakom) itu menegaskan, pandangannya tentang HAARP merupakan opini pribadi dan bukan kesimpulan ilmiah. Karena itu, tudingan maupun framing yang mengarah pada isu “antek asing” menurutnya tidak semestinya muncul hanya karena ia mengajak publik bersikap skeptis.

Ulta menyampaikan klarifikasi tersebut melalui media sosial Instagram pada Selasa (8/9). Ia menilai HAARP bukan proyek baru yang tiba-tiba muncul dalam perbincangan publik. Menurut dia, proyek tersebut sudah lama menjadi bahan pembicaraan di tingkat global.

“Jadi gini project HAARP ini udah jadi obrolan globally dari dulu, ini bukan barang baru, masyarakat Indonesia aja yang baru syok,” kata Ulta.

HAARP Disebut Bukan Barang Baru

HAARP merupakan proyek penelitian yang selama bertahun-tahun menjadi perhatian publik global. Namun, Ulta menilai masyarakat Indonesia baru belakangan memberikan perhatian besar terhadap proyek tersebut.

Pernyataan Ulta kemudian menjadi sorotan setelah ia mengaitkan pembahasan HAARP dengan fenomena erupsi sejumlah gunung berapi di Indonesia yang terjadi dalam periode berdekatan.

Dalam unggahannya, Ulta mempertanyakan apakah seluruh fenomena tersebut semata-mata merupakan proses alamiah atau masih terdapat faktor lain yang perlu diteliti.

Namun, ia menegaskan kembali bahwa pertanyaan tersebut tidak disampaikan sebagai kesimpulan ilmiah.

Ulta Sebut Sudah Menulis 'Pendapat Pribadi'

Ulta mempersoalkan reaksi sejumlah pihak yang menurutnya langsung menyerang dirinya setelah pernyataan mengenai HAARP beredar luas.

Ia menilai sebagian respons muncul akibat framing yang membuat konteks pernyataannya berubah. Ulta bahkan menggunakan istilah “buzzer” untuk menyebut pihak yang dianggap menyerang dirinya.

“Dan ketika saya ngomong ini sebagai pendapat pribadi tiba-tiba buzzer langsung menyerang ingin membodohi masyarakat dengan framing,” ujar Ulta.

Menurut Ulta, sejak awal dirinya sudah memberikan penanda bahwa pernyataan mengenai HAARP merupakan pendapat pribadi. Ia juga menyebut belum terdapat bukti ilmiah yang mendukung dugaan yang sedang dibicarakan tersebut.

“Coba lah pelajari, di caption jelas saya bilang bahwa ini pendapat pribadi dan belum ada bukti ilmiah tapi patut di entertain agar kita selalu skeptis,” ucapnya.

Polemik Bergeser ke Isu 'Antek Asing'

Polemik kemudian tidak hanya berkutat pada HAARP. Perdebatan di ruang publik turut menyeret tudingan tentang keberpihakan, pengaruh asing, hingga narasi “antek asing”.

Namun, tudingan tersebut perlu dibedakan dari fakta. Tidak ada dasar dalam pernyataan Ulta yang dengan sendirinya membuktikan bahwa dirinya merupakan “antek asing” atau bahwa pernyataannya merupakan bagian dari agenda pihak asing.

Ulta justru mengklaim dirinya sedang mendorong masyarakat agar tidak menerima informasi secara mentah dan tetap mempertanyakan berbagai informasi yang beredar.

Ia juga membandingkan respons publik terhadap pernyataannya dengan sejumlah informasi kontroversial lain yang menurutnya tidak mendapatkan sorotan serupa.

“Tapi btw btw ada Prof(okator) nyebar hoax tentang Jenderal Israel, Buzzer diam. Ada Profesor bilang Presiden Zionis, Buzzer diam,” kata Ulta.

Pernyataan tersebut kembali menjadi bagian dari polemik karena Ulta mempertanyakan adanya perbedaan standar dalam merespons informasi yang beredar di ruang publik.

Minta Publik Membaca Unggahan Secara Utuh

Ulta menilai pendapat pribadi seharusnya dapat menjadi bahan diskusi, selama publik memahami konteks dan membedakannya dari fakta ilmiah.

Ia juga mengkritik pemberitaan media yang menurutnya hanya mengambil bagian tertentu dari pernyataannya sehingga berpotensi menimbulkan persepsi berbeda.

“Tapi, ada pendapat pribadi keluar mengedukasi eeeehhh BUZZER MELAWAN tambah lagi media mainstream mainkan framing,” tutur Ulta.

Karena itu, Ulta meminta masyarakat tidak hanya membaca potongan pernyataan yang beredar di media sosial. Ia meminta publik melihat unggahan dan keterangan yang menyertai pernyataan tersebut secara lengkap.

“Baca caption,” tegasnya.

Antara Skeptisisme dan Bukti Ilmiah

Polemik HAARP yang menyeret nama Ulta menunjukkan bagaimana sebuah opini pribadi dapat berkembang menjadi perdebatan lebih luas ketika bertemu isu sensitif, seperti erupsi gunung berapi, teknologi, dan dugaan campur tangan asing.

Di sisi lain, sikap skeptis tetap berbeda dengan menyatakan sebuah dugaan sebagai fakta. Pertanyaan mengenai kemungkinan adanya faktor lain di balik fenomena alam membutuhkan pembuktian dan kajian ilmiah, bukan semata-mata potongan informasi atau spekulasi di media sosial.

Ulta sendiri telah menegaskan bahwa pernyataannya mengenai HAARP merupakan pandangan pribadi dan belum didukung bukti ilmiah.

Dengan demikian, tudingan tentang “antek asing” maupun dugaan keterlibatan pihak luar tidak dapat dianggap sebagai fakta hanya berdasarkan polemik tersebut. Publik tetap perlu memisahkan opini, dugaan, dan bukti ketika mengikuti perkembangan isu HAARP dan fenomena erupsi gunung berapi di Indonesia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
Erupsi gunung Ulta Levenia Proyek HAARP Antek asing Buzzer Indonesia