RADAR BANYUWANGI - Cerita Ulta Levenia Nababan tentang pertemuan seorang deputi CIA dengan menteri Indonesia kembali memantik perhatian setelah dikaitkan dengan keputusan Indonesia bergabung dengan BRICS. Dalam podcast Deddy Corbuzier, Ulta mengaku berada di lokasi ketika pejabat CIA tersebut bertemu dengan seorang menteri. Namun, cerita itu tetap perlu ditempatkan sebagai kesaksian yang diklaim Ulta, bukan bukti bahwa ada campur tangan asing dalam kebijakan Indonesia.
Pembahasan tersebut mencuat ketika Deddy Corbuzier menanyakan kepada Ulta mengenai kabar seorang deputi CIA yang disebut pernah menemui salah satu menteri Indonesia.
Ulta membenarkan adanya pertemuan tersebut. Ia mengatakan, saat itu dirinya sedang memiliki pekerjaan bersama menteri yang dimaksud sehingga berada di lokasi.
Menurut cerita yang disampaikan Ulta, pejabat CIA tersebut datang untuk makan siang. Kepada Ulta, sang menteri kemudian menyampaikan alasan kedatangan pejabat tersebut.
Menurut versi yang diceritakan Ulta, menteri itu mengatakan pertemuan tersebut berkaitan dengan ucapan terima kasih karena Indonesia disebut berhasil mengurungkan niat untuk bergabung dengan BRICS pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Namun, Ulta memberikan catatan penting bahwa informasi tersebut berasal dari perkataan menteri yang bersangkutan.
“Berdasarkan kata menteri itu ya om. Masalah menteri itu bohong atau apa itu cerita lain,” kata Ulta.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Ulta tidak menyajikan dokumen atau bukti independen untuk membuktikan isi percakapan maupun motif kedatangan pejabat CIA tersebut.
Indonesia dan BRICS Jadi Titik Perdebatan
Dalam pembahasan tersebut, Ulta juga menyebut Indonesia sebagai negara yang selalu mendapat perhatian dari pihak luar.
Ia menilai posisi Indonesia menjadi penting dalam dinamika geopolitik global, termasuk ketika membahas BRICS.
Ulta menyebut ada anggapan bahwa bergabungnya Indonesia dengan BRICS menjadi sesuatu yang dikhawatirkan pihak asing.
Indonesia sendiri resmi menjadi anggota penuh BRICS pada Januari 2025, setelah sebelumnya mengajukan ketertarikan untuk bergabung.
Perubahan posisi tersebut berlangsung pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Karena itu, klaim bahwa keanggotaan BRICS berkaitan dengan tekanan atau kepentingan intelijen asing membutuhkan bukti yang jauh lebih kuat daripada kesaksian dalam sebuah podcast.
Benarkah CIA Berkaitan dengan Keputusan Indonesia?
Inilah bagian paling kontroversial dari cerita Ulta.
Klaim mengenai adanya pertemuan antara pejabat CIA dan seorang menteri memang menjadi bahan pembicaraan, tetapi materi yang beredar tidak memberikan bukti independen mengenai siapa menteri yang dimaksud, kapan pertemuan berlangsung, maupun apakah pertemuan tersebut benar-benar berkaitan dengan keputusan Indonesia mengenai BRICS.
Ulta sendiri tidak menyebut nama menteri tersebut dalam pembahasan yang dikutip.
Karena itu, hubungan langsung antara pertemuan tersebut dengan kebijakan Indonesia terkait BRICS belum dapat dipastikan.
Sebuah pertemuan pejabat asing dengan pejabat Indonesia juga tidak otomatis membuktikan adanya intervensi terhadap kebijakan pemerintah.
Muncul Klaim Lain soal Peristiwa Akhir Agustus
Pembahasan kemudian berkembang setelah sejumlah pengguna media sosial mengaitkan cerita Ulta dengan peristiwa yang terjadi di Indonesia pada akhir Agustus 2026.
Ada pula komentar warganet yang mengaitkan isu tersebut dengan pernyataan Jenderal Hendropriyono.
Namun, klaim tersebut merupakan bagian dari percakapan di media sosial dan tidak cukup untuk membuktikan adanya hubungan sebab-akibat antara keanggotaan BRICS, aktivitas pihak asing, dan berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia.
Di sisi lain, muncul pula pengguna media sosial yang meragukan cerita tersebut. Salah satu alasannya adalah Ulta tidak menyebut identitas menteri yang diklaim terlibat dalam pertemuan.
Perbedaan respons itu menunjukkan bahwa cerita tersebut masih menjadi perdebatan, bukan kesimpulan yang telah terverifikasi.
Siapa Ulta Levenia Nababan?
Selain pernyataannya mengenai CIA dan BRICS, sosok Ulta juga membuat warganet penasaran.
Ulta dikenal sebagai peneliti yang banyak berkecimpung dalam isu konflik, keamanan, radikalisme, dan terorisme.
Ia menempuh pendidikan Ilmu Politik di Universitas Indonesia dan kemudian melanjutkan studi di University of Leeds, Inggris.
Ulta memperoleh gelar master dalam bidang Security, Terrorism and Insurgency. Latar belakang tersebut membuat isu geopolitik dan keamanan internasional menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya.
Ia juga pernah menjalani aktivitas penelitian yang berkaitan dengan konflik dan terorisme sebelum masuk ke lingkungan pemerintahan.
Umur dan Pekerjaan Ulta
Sejumlah informasi publik memperkirakan Ulta lahir sekitar 1995 sehingga usianya berada di kisaran 30 tahun pada 2026.
Namun, tanggal lahir lengkapnya tidak banyak tersedia dalam sumber primer yang dapat diverifikasi.
Di media sosial, Ulta juga memperkenalkan dirinya sebagai pendiri Mapan atau Millenial untuk Pertahanan dan Keamanan.
Kariernya kemudian berkembang di bidang riset dan pemerintahan, dengan isu keamanan menjadi salah satu fokus utamanya.
Siapa Suami Ulta?
Popularitas Ulta juga membuat kehidupan pribadinya ikut dicari.
Salah satu pertanyaan yang banyak muncul adalah mengenai suaminya. Namun, hingga informasi yang menjadi dasar tulisan ini, belum terdapat data terverifikasi yang memastikan identitas pasangan hidup Ulta.
Karena itu, nama seseorang yang dikaitkan dengannya melalui unggahan atau komentar media sosial tidak seharusnya langsung disebut sebagai suami tanpa konfirmasi.
Ulta juga pernah menyampaikan melalui Instagram bahwa dirinya bukan berasal dari keluarga kaya ataupun anak pejabat.
Antara Kesaksian, Spekulasi, dan Fakta
Cerita mengenai pertemuan pejabat CIA dengan seorang menteri menjadi menarik karena menyentuh isu geopolitik, BRICS, dan posisi Indonesia dalam persaingan kekuatan global.
Namun, publik perlu memisahkan tiga lapisan informasi: apa yang diklaim Ulta, apa yang menjadi spekulasi warganet, dan apa yang sudah memiliki bukti independen.
Dalam kasus ini, kesaksian Ulta mengenai pertemuan tersebut belum disertai bukti terbuka yang dapat mengonfirmasi identitas pejabat CIA, identitas menteri, waktu pertemuan, serta motif kedatangannya.
Kesimpulannya, Ulta Levenia Nababan memang menceritakan adanya pertemuan seorang pejabat CIA dengan menteri Indonesia dan mengaitkan cerita tersebut dengan BRICS, tetapi klaim tentang campur tangan asing dalam kebijakan Indonesia belum terbukti secara independen. Karena itu, cerita tersebut lebih tepat dipahami sebagai kesaksian dan bahan perdebatan geopolitik, bukan fakta final. (*)
Editor : Ali Sodiqin