Deputi Bakom Ulta Levenia Singgung HAARP dengan Erupsi 6 Gunung, PVMBG Ungkap Fakta Berbeda

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 19:00 WIB
Ulta Levenia Nababan, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden. (Instagram leveenia)
Ulta Levenia Nababan, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden. (Instagram leveenia)

RADAR BANYUWANGI – Nama High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) ikut terseret setelah enam gunung api di Indonesia erupsi dalam periode berdekatan. Pernyataan Plt. Deputi Bidang Pembinaan Komunikasi Pemerintah di Badan Komunikasi (Bakom) Ulta Levenia Nababan yang mempertanyakan kemungkinan faktor lain di balik fenomena tersebut menjadi sorotan, tetapi sejauh ini tidak ada bukti ilmiah kredibel yang mengaitkan HAARP dengan erupsi gunung api; PVMBG justru memastikan aktivitas enam gunung tersebut merupakan dinamika vulkanik yang berdiri sendiri. 

Pernyataan itu disampaikan Ulta melalui media sosial pada Senin (7/9/2026). Ia mengakui bahwa pemikirannya merupakan pandangan pribadi dan menyadari spekulasi tersebut berpotensi dikategorikan sebagai teori konspirasi.

Ulta mengaku memiliki karakter skeptis. Karena itu, dia merasa perlu membuka kemungkinan perspektif lain ketika melihat sejumlah gunung api mengalami erupsi dalam waktu berdekatan.

Namun, penting membedakan antara pertanyaan, spekulasi, dan fakta ilmiah. Hingga kini, belum terdapat bukti kredibel bahwa HAARP dapat memicu erupsi gunung api.

Ulta Akui Belum Ada Bukti Ilmiah

Dalam pernyataannya, Ulta sendiri mengakui belum ada bukti ilmiah yang membuktikan HAARP mampu mengendalikan cuaca, menciptakan badai, memicu gempa bumi, atau menyebabkan aktivitas vulkanik.

Ia menyebut HAARP kerap dikaitkan dengan teori konspirasi karena sejarah pendanaan dan keterlibatan sejumlah lembaga Amerika Serikat dalam pengembangan program tersebut.

HAARP merupakan fasilitas penelitian ionosfer yang menggunakan gelombang radio frekuensi tinggi untuk mempelajari karakteristik dan perilaku ionosfer. Program tersebut memang lama menjadi bahan berbagai spekulasi di ruang publik.

Masalahnya, fungsi penelitian ionosfer tersebut tidak otomatis berarti HAARP mempunyai kemampuan mengendalikan proses geologi di dalam Bumi.

Enam Gunung Memang Erupsi Bersamaan

Fenomena yang menjadi titik awal perbincangan tersebut memang nyata.

PVMBG menyatakan enam gunung api di Indonesia mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026. Keenamnya adalah Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, Anak Krakatau, dan Sinabung.

Fenomena tersebut terlihat mencolok karena terjadi pada periode yang berdekatan. Indonesia sendiri berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan memiliki banyak gunung api aktif.

PVMBG memastikan keenam aktivitas tersebut merupakan dinamika vulkanik independen dan tidak saling memicu. Dengan kata lain, erupsi beberapa gunung pada waktu yang sama tidak otomatis menunjukkan adanya satu penyebab eksternal yang sama. 

Momen Pertemuan Prabowo-Putin Ikut Disinggung

Spekulasi semakin melebar setelah Ulta menghubungkan fenomena erupsi tersebut dengan pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok.

Ia mempertanyakan kemungkinan hubungan waktu antara pertemuan kedua pemimpin negara tersebut dan erupsi sejumlah gunung api di Indonesia.

Namun, terdapat persoalan kronologi yang penting.

Berdasarkan laporan mengenai aktivitas vulkanik tersebut, keenam gunung mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026. Sementara pertemuan Prabowo dan Putin di Vladivostok berlangsung pada 3 September 2026. Artinya, erupsi yang dijadikan dasar pertanyaan tersebut telah terjadi sebelum pertemuan kedua presiden. 

Kronologi ini membuat hubungan sebab-akibat yang disiratkan dalam spekulasi tersebut tidak memiliki dasar waktu yang kuat.

Apa Sebenarnya HAARP?

HAARP merupakan singkatan dari High-frequency Active Auroral Research Program.

Program tersebut dikenal sebagai fasilitas penelitian ionosfer dengan instrumen pemancar radio berfrekuensi tinggi. Salah satu tujuan penelitiannya adalah memahami karakteristik lapisan atmosfer bagian atas tersebut.

Nama HAARP kemudian berkembang jauh melampaui konteks penelitian ilmiah. Di ruang publik, fasilitas itu sering dikaitkan dengan teori mengenai pengendalian cuaca, gempa bumi, hingga berbagai bencana alam.

Akan tetapi, berbagai klaim tersebut tidak sama dengan bukti ilmiah.

Laporan yang membahas kontroversi HAARP juga menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah kredibel yang menunjukkan fasilitas tersebut mampu memicu erupsi gunung api.

Mengapa Erupsi Bisa Terjadi Bersamaan?

Indonesia memiliki kondisi geologi yang memang memungkinkan aktivitas vulkanik terjadi di banyak wilayah.

Enam gunung yang disebut PVMBG berada di kawasan berbeda dan memiliki sistem vulkanik masing-masing. Karena itu, aktivitas erupsi yang berlangsung dalam waktu berdekatan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa gunung-gunung tersebut dipicu oleh satu sumber yang sama.

PVMBG menegaskan keenam aktivitas tersebut merupakan dinamika vulkanik independen. Penjelasan tersebut menjadi dasar ilmiah yang lebih kuat dibandingkan dugaan yang belum memiliki bukti.

Pernyataan Pribadi Ulta Jadi Sorotan

Ulta sendiri tidak menyatakan memiliki bukti bahwa HAARP menyebabkan erupsi.

Sebaliknya, ia secara terbuka menyebut pemikirannya sebagai pemikiran pribadi dan mengakui kemungkinan besar pandangan tersebut dikategorikan sebagai teori konspirasi.

Ia juga menyampaikan bahwa dirinya skeptis terhadap penjelasan yang dianggap umum dan ingin mempertimbangkan kemungkinan alternatif.

Sikap mempertanyakan sebuah fenomena tentu dapat menjadi bagian dari diskusi publik. Namun, dalam isu kebencanaan, dugaan tetap perlu dipisahkan secara tegas dari fakta yang telah teruji.

Terlebih, aktivitas gunung api berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat. Informasi mengenai penyebab erupsi harus mengacu pada pemantauan dan kajian lembaga kebumian yang berwenang.

Jadi, enam gunung api Indonesia memang tercatat mengalami erupsi dalam periode berdekatan, tetapi sampai saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan HAARP menjadi pemicunya. PVMBG telah menyatakan aktivitas keenam gunung tersebut merupakan dinamika vulkanik independen, sementara hubungan dengan HAARP maupun pertemuan Prabowo-Putin masih sebatas spekulasi pribadi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
Erupsi gunung HAARP Ulta Levenia pvmbg Gunung Api