Idrus Marham soal Islam Ala Prabowo: Bukan Santri, tapi Muslim Sejati

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 14:00 WIB
Wakil Ketum Partai Golkar Idrus Marham dan Buku Islam ala Prabowo. ((Fedrik Tarigan/Jawa Pos & Dok. Gramedia)
Wakil Ketum Partai Golkar Idrus Marham dan Buku Islam ala Prabowo. (Dok. Fedrik Tarigan/Jawa Pos & Dok. Gramedia)

RADAR BANYUWANGI – Perdebatan tentang buku Islam Ala Prabowo tidak semestinya berhenti pada latar belakang pendidikan agama Presiden Prabowo Subianto. Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham menilai ukuran keberislaman seorang pemimpin justru terlihat dari bagaimana nilai agama diterjemahkan menjadi tindakan, kebijakan, kepedulian, dan kemaslahatan bagi masyarakat.

Idrus menyampaikan pandangan tersebut saat merespons ramainya perbincangan publik mengenai buku Islam Ala Prabowo: Cara Presiden Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. Menurut dia, Prabowo memang bukan lulusan pesantren, tetapi hal itu tidak otomatis menentukan kualitas keberagamaannya.

“Prabowo memang bukan santri, tetapi Presiden Prabowo memang muslim sejati. Ada orang yang tumbuh dalam tradisi santri, ada pula yang sejak lahir berada dalam lingkungan keluarga muslim yang homogen. Prabowo memiliki pengalaman keberagamaan yang berbeda,” kata Idrus dalam siaran persnya, Senin (7/9/2026).

Keberislaman Prabowo Tak Bisa Diukur dari Pesantren

Idrus menilai latar belakang keluarga Prabowo yang plural secara agama justru menjadi konteks penting untuk melihat perjalanan keberagamaannya secara lebih objektif.

Prabowo tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang multireligius. Namun, menurut Idrus, Prabowo tetap mempertahankan identitas dan keyakinannya sebagai seorang muslim.

Karena itu, keberislaman seseorang tidak semestinya hanya diukur dari apakah dia berasal dari lingkungan pesantren atau tidak.

“Jangan melihat keberislaman seseorang hanya dari apakah ia berasal dari keluarga pesantren atau bukan. Ada dimensi keteguhan iman yang juga harus dihargai,” ujarnya.

Bagi Idrus, cara pandang tersebut penting agar diskusi mengenai agama tidak terjebak pada simbol maupun latar belakang seseorang semata.

Muslim Sejati Diukur dari Amal

Idrus kemudian menggeser ukuran keberagamaan dari sekadar penguasaan terhadap teks agama menuju praksis kehidupan.

Menurut dia, Islam tidak berhenti pada kemampuan seseorang berbicara tentang agama. Keimanan harus memiliki konsekuensi berupa amal dan kepedulian sosial.

“Bukankah Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar kepada anak yatim dan fakir miskin? Bukankah iman selalu memiliki konsekuensi amal? Maka muslim sejati bukan hanya orang yang cerdas memahami teks agama, tetapi orang yang mampu menerjemahkan nilai agama menjadi tindakan nyata,” tuturnya.

Dalam perspektif itu, nilai keislaman dapat terlihat melalui kepedulian kepada masyarakat, keadilan, kasih sayang, amanah, serta kebermanfaatan bagi orang lain.

“Agama pada akhirnya harus menjadi akhlak. Kalau agama hanya menjadi wacana, ia belum selesai. Nilai agama harus terlihat dalam kepedulian, keadilan, kasih sayang, amanah, dan kebermanfaatan bagi masyarakat,” katanya.

Program Pemerintah dan Konsep Maslahah

Idrus juga mengaitkan nilai tersebut dengan kebijakan pemerintahan.

Menurutnya, berbagai program yang diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, melindungi kelompok rentan, memenuhi kebutuhan dasar, serta membangun sumber daya manusia dapat dipandang sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan maslahah.

Dengan demikian, pembacaan terhadap keberislaman Prabowo tidak hanya ditempatkan pada pernyataan atau simbol keagamaan, tetapi juga pada bagaimana kepemimpinannya memberikan dampak bagi masyarakat.

Perspektif inilah yang menurut Idrus perlu dikedepankan dalam memahami perbincangan mengenai buku Islam Ala Prabowo.

Islam Tak Boleh Dipertentangkan dengan Sains

Idrus juga menyinggung pentingnya menghindari cara pandang yang mempertentangkan Islam dengan ilmu pengetahuan.

Menurut dia, Islam memiliki pandangan yang holistik terhadap kehidupan. Karena itu, pengembangan sains, teknologi, inovasi, pendidikan, dan pembangunan peradaban tidak seharusnya dianggap berlawanan dengan agama.

“Islam itu universal, komprehensif atau holistik, terintegrasi dan fleksibel. Jangan dikotomikan agama dengan sains,” kata Idrus.

Ia mengingatkan bahwa sejarah peradaban Islam justru memperlihatkan bagaimana ilmu agama dan berbagai disiplin pengetahuan dapat berkembang dalam satu ekosistem.

Menurut Idrus, filsafat, kedokteran, matematika, astronomi, hingga berbagai bidang ilmu lainnya pernah tumbuh dalam perkembangan peradaban Islam.

Karena itu, keberagamaan yang relevan dengan kehidupan modern, menurut dia, bukan keberagamaan yang menutup diri dari ilmu pengetahuan, melainkan yang mampu mengintegrasikan nilai agama dengan kemajuan peradaban.

Polemik Buku dan Ukuran Keberislaman

Polemik Islam Ala Prabowo pada akhirnya membuka ruang perdebatan yang lebih luas mengenai bagaimana keberislaman seorang pemimpin seharusnya dinilai.

Bagi Idrus, ukuran tersebut tidak cukup dilihat dari apakah seseorang pernah belajar di pesantren, seberapa fasih berbicara mengenai agama, atau seberapa kuat penguasaannya terhadap teks.

Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai tersebut hadir dalam perilaku dan kebijakan.

Dalam kerangka itu, Idrus melihat keberagamaan sebagai sesuatu yang harus berujung pada akhlak, amal, kepedulian, keadilan, serta kebermanfaatan.

Dengan kata lain, perdebatan tentang Islam Ala Prabowo menurut Idrus semestinya tidak berhenti pada label santri atau bukan santri. Pertanyaan yang lebih substansial adalah bagaimana nilai Islam diwujudkan menjadi tindakan nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Islam ala Prabowo buku Prabowo Idrus Marham Muslim sejati prabowo subianto