RADAR BANYUWANGI – Antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, yang sempat menjadi mimpi buruk jalur logistik Jawa–Bali mulai diurai dengan skema darurat berlapis. Pemprov Jawa Timur bersama Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menjalankan pola Tiba, Bongkar, Balik (TBB) dan menyiapkan tambahan armada. Bersamaan dengan itu, Pelabuhan Jangkar di Situbondo dan Pelabuhan Tanjung Wangi di Banyuwangi diproyeksikan menjadi jalur alternatif untuk memecah konsentrasi truk.
Strategi tersebut disiapkan karena penanganan antrean tidak bisa hanya mengandalkan Pelabuhan Ketapang. Arus kendaraan yang terlalu besar membutuhkan tambahan kapasitas sekaligus rute alternatif agar penumpukan tidak kembali terjadi di kawasan pesisir timur Jawa Timur.
Tiga Kapal Mulai Jalankan Pola TBB
Salah satu langkah paling cepat yang kini dijalankan adalah penerapan skema TBB.
Melalui pola ini, kapal yang telah selesai membongkar kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk tidak mengambil kendaraan untuk perjalanan balik. Kapal langsung berlayar dalam kondisi kosong menuju Ketapang untuk kembali mengangkut kendaraan yang mengantre.
Siklus tersebut diharapkan memangkas waktu kapal berada di pelabuhan dan mempercepat perputaran armada.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan saat ini sudah ada tiga kapal yang menerapkan pola TBB.
“Saat ini sudah ada tiga kapal yang mengaplikasikan sistem TBB untuk mempercepat penguraian antrean. Lalu Kemenhub juga sedang menyiapkan tambahan tiga armada kapal lagi dengan pola yang sama,” kata Emil.
Jika tambahan tiga kapal tersebut terealisasi, kekuatan armada dengan pola TBB akan bertambah. Dengan demikian, proses memindahkan kendaraan dari sisi Ketapang menuju Gilimanuk dapat dilakukan dengan siklus yang lebih cepat.
Ketapang Tak Bisa Sendirian
Pemprov Jatim menyadari percepatan di lintasan Ketapang–Gilimanuk tetap memiliki batas. Karena itu, dua skema alternatif disiapkan untuk mengurangi beban pelabuhan utama.
Pilihan pertama adalah Pelabuhan Jangkar, Situbondo. Saat ini pelabuhan tersebut sudah melayani rute Jangkar–Lembar dengan dua armada.
Pemerintah kini mematangkan kemungkinan mengalihkan salah satu kapal untuk membuka rute langsung Jangkar–Padangbai, Bali. Alternatif lainnya adalah menambah armada baru untuk rute tersebut.
“Penambahan armada baru dari Jangkar sedang dimatangkan Kemenhub. Semoga bisa segera terealisasi,” ujar Emil.
Jika rute tersebut dapat dibuka, truk tidak perlu seluruhnya berkumpul di Ketapang untuk menyeberang ke Bali. Sebagian arus kendaraan dapat dialihkan melalui Situbondo, sehingga tekanan terhadap lintasan Ketapang–Gilimanuk berkurang.
Tanjung Wangi Disiapkan Jadi Backup
Skema kedua berada tidak jauh dari Ketapang, yakni Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi.
Pelabuhan tersebut disiapkan untuk mendukung penanganan apabila Ketapang kembali mengalami kepadatan ekstrem. Armada kapal juga telah dipersiapkan.
Kendati demikian, terdapat satu armada yang masih menjalani perawatan. Begitu kapal tersebut kembali siap beroperasi, armada akan langsung dimobilisasi untuk membantu mengurangi beban Ketapang.
Konsepnya sederhana: kendaraan yang tidak harus dilayani seluruhnya melalui Ketapang dapat mendapatkan jalur alternatif. Dengan begitu, kapasitas penyeberangan tidak terkonsentrasi pada satu titik.
Kuncinya Ada pada Ketersediaan Kapal
Emil mengatakan integrasi antara Jangkar dan Tanjung Wangi pada dasarnya tinggal menunggu kepastian kesiapan unit kapal.
“Prinsipnya skema rute alternatif ini tinggal memastikan ketersediaan unit kapalnya. Kami berharap integrasi antara optimalisasi Pelabuhan Jangkar dan Tanjung Wangi dapat segera memulihkan kelancaran arus barang serta menekan penumpukan kendaraan di kawasan pesisir timur Jawa Timur,” imbuhnya.
Langkah tersebut menunjukkan perubahan pendekatan dalam menangani antrean Ketapang. Pemerintah tidak hanya berupaya mempercepat kapal yang sudah berada di lintasan, tetapi juga mulai memecah beban kendaraan melalui jalur alternatif.
Pola TBB menjadi solusi jangka pendek untuk mempercepat rotasi kapal. Sementara optimalisasi Jangkar dan Tanjung Wangi disiapkan sebagai katup pengaman ketika volume kendaraan kembali melonjak.
Bagi jalur logistik Jawa–Bali, keberhasilan skema tersebut akan sangat bergantung pada satu hal: seberapa cepat armada tambahan benar-benar tersedia dan dapat beroperasi. Sebab, selama kendaraan masih terkonsentrasi di satu pintu penyeberangan, antrean panjang selalu memiliki peluang untuk kembali mengular. (ian/aif)
Editor : Ali Sodiqin