Antrean Ketapang Mulai Surut, Kapal Jumbo dan Dermaga Jadi Kunci

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 00:00 WIB
MENUMPUK: Ratusan truk pengangkut logistik antre masuk kapal di kantung parkir Dermaga Bulusan, Senin (7/9). Kapal besar dikerahkan untuk mengurangi antrean masuk kapal. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
MENUMPUK: Ratusan truk pengangkut logistik antre masuk kapal di kantung parkir Dermaga Bulusan, Senin (7/9). Kapal besar dikerahkan untuk mengurangi antrean masuk kapal. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Antrean kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, mulai surut, tetapi belum sepenuhnya normal. Hingga Senin sore (7/9), ekor kemacetan masih bertahan sampai depan Terminal Sri Tanjung, sekitar lima kilometer dari Pelabuhan ASDP Ketapang. Pemkab Banyuwangi bersama Polresta, DPRD, dan otoritas penyeberangan pun menyepakati satu strategi utama: memaksimalkan kapal berkapasitas besar sembari memperbaiki dermaga yang menjadi titik penyumbatan arus kendaraan.

Kesepakatan itu lahir dalam rapat koordinasi lintas stakeholder di Mapolresta Banyuwangi, Senin (7/9). Solusi tersebut dipilih karena persoalan kemacetan Ketapang–Gilimanuk tidak lagi sekadar berkaitan dengan pengaturan kendaraan di jalan raya. Kapasitas dermaga dan kecepatan bongkar-muat kapal menjadi bottleneck yang menentukan seberapa cepat antrean dapat dipangkas.

Kapal Jumbo Jadi “Penyapu” Antrean

Dalam penanganan jangka pendek, otoritas penyeberangan mengerahkan empat kapal bantuan berukuran besar dengan kapasitas 2.000 hingga 4.000 Gross Tonnage (GT).

Dua di antaranya, KMP Jatra I dan KMP Portlink VII, dioptimalkan sebagai kapal “penyapu” antrean. Masing-masing kapal mampu mengangkut lebih dari 100 kendaraan dalam sekali pelayaran.

Armada berukuran jumbo tersebut juga menerapkan pola Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB). Skema itu dirancang untuk memangkas waktu kapal berada di dermaga sehingga kendaraan tidak terlalu lama menunggu giliran diseberangkan.

Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono mengatakan optimalisasi kapal besar menjadi langkah darurat untuk mempercepat pengangkutan kendaraan dari Ketapang menuju Gilimanuk.

“Langkah darurat yang dilakukan adalah mengoptimalkan kapal berkapasitas besar untuk mempercepat pengangkutan kendaraan dari Ketapang menuju Gilimanuk. Ini kapal penyapu untuk mempercepat proses pelayanan kepada masyarakat,” ujar Mujiono usai meninjau Dermaga Bulusan.

Sembilan Dermaga, Hanya Enam yang Optimal

Di balik antrean panjang tersebut, terdapat persoalan kapasitas infrastruktur. Dari sembilan dermaga di Pelabuhan Ketapang, saat ini hanya enam yang dapat berfungsi optimal.

Satu dermaga masih menjalani perawatan. Sementara Dermaga Bulusan lumpuh setelah dua unit material penahan benturan atau fender roboh ke laut.

Kondisi tersebut membuat kemampuan pelabuhan menerima dan memberangkatkan kapal ikut berkurang. Ketika jumlah kapal yang dapat dilayani terbatas, kendaraan yang datang dari jalur arteri akhirnya tertahan dan antreannya menjalar ke selatan.

Mujiono menilai keterbatasan dermaga siap pakai menjadi salah satu pemicu utama kepadatan. Karena itu, solusi jangka menengah dan panjang tidak cukup hanya dengan menambah armada.

Pemkab Banyuwangi mendesak pengoptimalan kembali Dermaga Bulusan yang berada di bawah kewenangan Pemprov Jawa Timur.

Gilimanuk Diminta Beri Prioritas

Optimalisasi kapal besar juga membutuhkan dukungan dari sisi seberang. Pelabuhan Gilimanuk diharapkan dapat memberikan ruang bagi penerapan pola TBB agar kapal yang membawa kendaraan dari Ketapang tidak terlalu lama tertahan ketika tiba di Bali.

Dua kapal yang dioptimalkan diharapkan memperoleh prioritas pelayanan di Gilimanuk.

“Harapan kami yang di Pelabuhan Gilimanuk agar bisa menerima sementara waktu untuk memberikan kesempatan kepada dua kapal itu untuk diberikan prioritas karena melaksanakan TBB,” jelas Mujiono.

Dengan pola tersebut, kapal diharapkan dapat segera membongkar kendaraan, kemudian kembali berangkat. Siklus yang lebih cepat menjadi kunci untuk meningkatkan jumlah kendaraan yang dapat diseberangkan dalam periode yang sama.

Perbaikan Dermaga Bulusan Ditarget Oktober

Rencana perbaikan Dermaga Bulusan mendapat respons dari pengelola penyeberangan.

General Manager ASDP Cabang Ketapang Media Syahrianto mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemprov Jawa Timur dan ASDP pusat terkait perbaikan fasilitas tersebut.

“Rencananya Oktober diperbaiki, kami berharap bisa segera,” katanya.

Perbaikan Dermaga Bulusan menjadi penting karena kapasitas dermaga merupakan bagian dari rantai pelayanan penyeberangan. Sebanyak apa pun armada yang dikerahkan, efektivitasnya tetap akan terbatas apabila fasilitas tambat tidak mampu melayani kapal secara optimal.

ASDP juga menyiapkan rencana peningkatan kapasitas Dermaga Ponton secara bertahap mulai tahun depan. Setelah itu, perbaikan Dermaga 3 juga masuk dalam rencana penguatan infrastruktur.

14 Ribu Kendaraan Sehari Jadi Beban Besar

Besarnya tekanan di lintasan Ketapang–Gilimanuk terlihat dari volume kendaraan yang harus dilayani.

Dalam kondisi normal, arus kendaraan dua arah di lintasan tersebut mencapai sekitar 14 ribu kendaraan per hari. Dari jumlah itu, pasokan truk logistik mencapai sekitar 3.000 unit dalam 24 jam.

Karena itu, tambahan kapal jumbo diharapkan dapat meningkatkan kapasitas angkut kendaraan setidaknya 10 persen.

Target tersebut menjadi penting bukan hanya untuk mengurai antrean saat ini, tetapi juga menjaga kelancaran distribusi logistik Jawa–Bali. Ketika kendaraan barang terlalu lama tertahan, dampaknya dapat merembet pada waktu distribusi dan biaya operasional.

Polisi: Jangan Ngeblong, Kendaraan Urgen Didahulukan

Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan mengatakan penanganan kemacetan harus dilakukan dari dua sisi. Pengaturan lalu lintas di jalan raya tetap diperlukan, tetapi akar penyumbatan berada pada kapasitas pelayanan dermaga.

Karena itu, pengguna jalan diminta tidak memperburuk situasi dengan menyerobot antrean atau ngeblong.

Pengendara yang tidak memiliki kepentingan mendesak juga disarankan menggunakan jalur alternatif melalui Jember maupun Jalur Gumitir.

“Fokus kita memastikan masyarakat tertib berlalu lintas dengan kondisi macet ini. Kita dahulukan kendaraan yang urgen seperti ambulans membawa orang sakit, ibu mau melahirkan, truk BBM, dan distribusi kebutuhan pokok,” tegas Rofiq.

Dengan antrean yang masih mencapai sekitar lima kilometer, operasi penguraian belum bisa dianggap selesai. Kapal besar menjadi solusi cepat, sedangkan perbaikan dan optimalisasi dermaga menjadi pekerjaan rumah yang menentukan.

Sebab, selama titik penyumbatan di pelabuhan belum terurai, kemacetan di jalan arteri Ketapang hanya akan berpindah-pindah—surut sesaat, lalu mengular kembali. (fre/rio/aif)

Editor : Ali Sodiqin
antrean Ketapang Dermaga Bulusan Kapal jumbo pelabuhan ketapang asdp ketapang