Antrean Ketapang Masih Mengular, Polda Jatim Ingatkan Polisi Tak Bisa Kerja Sendiri

Bagus Rio Rohman • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 01:00 WIB
Antrean menuju Pelabuhan Ketapang sempat mencapai 9 kilometer. Polda Jatim mengerahkan 60 personel dan 30 motor untuk mengurai kemacetan 24 jam. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Antrean menuju Pelabuhan Ketapang sempat mencapai 9 kilometer. Polda Jatim mengerahkan 60 personel dan 30 motor untuk mengurai kemacetan 24 jam. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Antrean kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, yang sempat mengular hingga 8–9 kilometer membuat Polda Jawa Timur turun tangan penuh. Sebanyak 60 personel bersama 30 sepeda motor diterjunkan untuk memperkuat Polresta Banyuwangi dan mengurai kepadatan selama 24 jam. Namun, polisi mengakui persoalan tidak cukup diselesaikan dari jalan raya karena kelancaran arus juga bergantung pada kecepatan pelayanan penyeberangan di dalam pelabuhan.

Tambahan kekuatan tersebut disiapkan hingga panjang antrean dapat ditekan di bawah dua kilometer. Personel bekerja dalam empat shift untuk menjaga jalur antrean sepanjang waktu.

Antrean Bisa Turun Drastis, Lalu Mengular Lagi

Direktur Lalu Lintas Polda Jatim Kombespol Rahmat Hakim mengatakan karakter antrean kendaraan di jalur Ketapang sangat dinamis.

Pada malam sebelumnya, ekor antrean sempat mencapai sekitar 8–9 kilometer. Namun, kondisi berubah cepat. Sekitar pukul 04.30, panjang antrean sempat turun menjadi hanya 1,7 kilometer.

Masalah kembali muncul pada siang hari. Antrean kendaraan kembali meningkat hingga lebih dari lima kilometer.

“Antrean ini sifatnya dinamis. Tadi malam sekitar 8 sampai 9 kilometer, kemudian pukul 04.30 sempat turun menjadi sekitar 1,7 kilometer. Namun siangnya kembali meningkat lebih dari lima kilometer. Karena itu penanganannya harus bersama-sama,” paparnya.

Fluktuasi tersebut menunjukkan bahwa kepadatan bukan semata persoalan volume kendaraan di jalan. Arus kendaraan yang masuk dan keluar dari pelabuhan harus berjalan seimbang agar antrean tidak kembali menumpuk.

60 Polisi Dibagi Empat Shift

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Polda Jatim menambah 60 personel yang dilengkapi 30 unit sepeda motor.

Kombinasi personel dan kendaraan roda dua memungkinkan polisi bergerak lebih cepat menyusuri jalur antrean. Mereka tidak hanya ditempatkan secara statis di sejumlah simpul kemacetan, tetapi juga melakukan patroli bergerak (mobile).

“Puluhan personel itu dibagi dalam empat shift, agar dapat mengatur arus lalu lintas di lapangan,” kata Rahmat.

Pola tersebut membuat pengawasan berlangsung selama 24 jam. Polisi dapat segera merespons apabila terjadi penumpukan di titik tertentu atau membutuhkan pengaturan khusus.

Kendaraan dengan kebutuhan mendesak juga mendapat prioritas. Salah satunya ambulans serta masyarakat yang membutuhkan pertolongan karena kondisi kesehatan.

“Kami menurunkan kurang lebih 60 personel dengan dukungan 30 kendaraan roda dua untuk membantu Polresta Banyuwangi. Personel bekerja empat shift selama 24 jam, melakukan pengaturan, patroli, termasuk membantu kendaraan yang membutuhkan penanganan khusus seperti ambulans dan masyarakat yang sedang sakit,” ungkapnya.

Penguatan Bertahan hingga Antrean di Bawah 2 Kilometer

Polda Jatim belum menentukan batas waktu penghentian dukungan personel. Penguatan akan dipertahankan sampai kondisi kepadatan mulai terkendali.

Target awalnya jelas: panjang antrean harus ditekan hingga kurang dari dua kilometer.

“Kami akan mempertahankan penguatan personel sampai antrean bisa turun di bawah dua kilometer. Tetapi tentu masalah ini tidak bisa hanya diselesaikan dari sisi regulasi lalu lintas darat saja,” tegas Rahmat.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa polisi tidak melihat kemacetan Ketapang sebagai persoalan tunggal di jalur darat. Ketika kendaraan yang masuk lebih cepat daripada kapasitas pelayanan kapal, antrean akan kembali membesar meski rekayasa lalu lintas telah dilakukan.

Jalan Raya dan Pelabuhan Harus Bergerak Bersamaan

Karena itu, Rahmat menekankan pentingnya koordinasi lintas instansi. Rekayasa lalu lintas di luar pelabuhan harus berjalan beriringan dengan percepatan pelayanan kendaraan di dalam kawasan Pelabuhan Ketapang.

Kementerian Perhubungan dan PT ASDP Indonesia Ferry telah memberikan dukungan melalui penambahan armada kapal. Pola TBB (Tiba Bongkar Berangkat) juga diterapkan untuk mempercepat siklus kapal sehingga kendaraan dapat lebih cepat diseberangkan.

Di sisi lain, Pemkab Banyuwangi bersama Dinas Perhubungan memperkuat koordinasi di wilayah ring luar pelabuhan.

Seluruh langkah tersebut diarahkan pada satu tujuan: memangkas waktu tunggu kendaraan dan mencegah ekor antrean kembali menjalar jauh ke jalur utama Banyuwangi.

“Semua harus bergerak bersama sesuai tugas masing-masing karena persoalan ini tidak bisa ditangani oleh satu instansi saja,” tegas Rahmat.

Bagi polisi, menekan antrean Ketapang bukan sekadar membuat kendaraan kembali bergerak. Yang harus dipastikan adalah rantai penanganan dari jalan raya hingga proses naik kapal berjalan dalam satu irama. Sebab, ketika pelayanan di salah satu titik tersendat, antrean puluhan kilometer bukan tidak mungkin kembali terjadi. (rio/aif)

Editor : Ali Sodiqin
antrean Ketapang polda jatim pelabuhan ketapang polresta banyuwangi asdp ketapang