4 Gunung Api Erupsi Bersamaan, Benarkah Saling Memicu? Ini Jawabannya

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 21:00 WIB
Anak Krakatau, Sinabung, Semeru, dan Lewotobi erupsi berdekatan. Apakah saling berkaitan? (Istimewa via Riau Pos)
Anak Krakatau, Sinabung, Semeru, dan Lewotobi erupsi berdekatan. Apakah saling berkaitan? (Istimewa via Riau Pos)

RADAR BANYUWANGI — Empat gunung api Indonesia mengalami aktivitas vulkanik dalam waktu berdekatan, tetapi kondisi itu tidak otomatis berarti satu gunung memicu letusan gunung lainnya. Anak Krakatau di Selat Sunda, Sinabung di Sumatera Utara, Semeru di Jawa Timur, dan Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur berada dalam sistem vulkanik masing-masing sehingga aktivitasnya harus dibaca berdasarkan data pemantauan setiap gunung.

Fenomena tersebut kembali menjadi sorotan karena erupsi terjadi dalam periode yang relatif berdekatan.

Pertanyaannya kemudian sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana itu: apakah empat gunung api yang erupsi hampir bersamaan sedang dipengaruhi satu pemicu yang sama?

Jawabannya: belum tentu.

Bukan Kali Pertama Gunung Api Erupsi Bersamaan

Indonesia sebenarnya sudah beberapa kali mengalami fenomena serupa.

Pada April 2020, enam gunung api tercatat mengalami aktivitas vulkanik dalam waktu relatif bersamaan. Gunung tersebut adalah Kerinci, Anak Krakatau, Merapi, Semeru, Ibu, dan Dukono.

Kondisi itu juga sempat memunculkan pertanyaan apakah aktivitas satu gunung berkaitan dengan gunung lainnya.

Ahli vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrahman saat itu menjelaskan terdapat sejumlah kemungkinan yang dapat menyebabkan beberapa gunung api mengalami aktivitas dalam periode berdekatan.

Salah satunya adalah gunung-gunung tersebut berada dalam busur atau sistem tektonik yang berbeda.

Jika demikian, kesamaan waktu erupsi dapat terjadi tanpa adanya hubungan langsung di antara gunung-gunung tersebut.

Mirzam memberikan analogi sederhana untuk menjelaskan fenomena itu.

"Analogi sederhananya seperti saat saya makan, tetangga saya makan dan Anda juga makan, ya kebetulan pas jam makan siangnya sama," jelas Mirzam, sebagaimana dikutip dari situs resmi ITB, Minggu (6/9/2026).

Indonesia Punya Banyak Busur Gunung Api

Kondisi geologi Indonesia menjadi salah satu kunci untuk memahami fenomena tersebut.

Indonesia berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, wilayah yang memiliki aktivitas tektonik dan vulkanik sangat tinggi.

Tak mengherankan jika Indonesia memiliki banyak gunung api aktif.

Gunung-gunung tersebut tersebar dalam sejumlah busur vulkanik, di antaranya Busur Sunda, Banda, Halmahera, dan Celebes-Sangihe.

Masing-masing busur memiliki karakteristik geologi dan sistem vulkanik tersendiri.

Karena itu, ketika beberapa gunung api mengalami erupsi dalam waktu berdekatan, kemunculan aktivitas tersebut tidak serta-merta membuktikan adanya satu sumber pemicu.

Bagaimana Jika Berada di Busur yang Sama?

Pertanyaannya kemudian bergeser.

Bagaimana jika gunung-gunung tersebut berada dalam busur yang sama?

Menurut Mirzam, kondisi tersebut memang memungkinkan adanya faktor tektonik yang sama yang memengaruhi aktivitas vulkanik.

Namun, lagi-lagi, hal itu tidak berarti satu gunung secara langsung menyebabkan gunung lain meletus.

Dengan kata lain, adanya faktor geologi bersama berbeda dengan anggapan bahwa letusan Gunung A memicu Gunung B.

Perbedaan ini penting karena aktivitas gunung api sangat dipengaruhi kondisi internal masing-masing sistem.

Anak Krakatau hingga Lewotobi Punya Sistem Berbeda

Fenomena yang terjadi saat ini dapat dilihat melalui empat gunung yang menjadi sorotan.

Gunung Anak Krakatau berada di Selat Sunda. Sementara Gunung Sinabung berada di Sumatera Utara, Gunung Semeru berada di Jawa Timur, dan Gunung Lewotobi Laki-laki berada di Nusa Tenggara Timur.

Lokasi yang berjauhan tersebut menunjukkan bahwa masing-masing gunung memiliki lingkungan geologi dan sistem vulkanik sendiri.

Karena itu, kemunculan erupsi dalam waktu berdekatan lebih tepat dipandang sebagai bagian dari dinamika aktivitas gunung api Indonesia yang memang tinggi.

Bukan langsung disimpulkan sebagai rangkaian letusan yang saling memicu.

Data Gunung Api Lebih Penting daripada Kebetulan Waktu

Lalu bagaimana para ahli mengetahui apakah sebuah gunung sedang menuju peningkatan aktivitas?

Kuncinya adalah pemantauan.

Perubahan kegempaan, deformasi tubuh gunung, kondisi kawah, hingga perkembangan aktivitas erupsi menjadi sejumlah indikator yang diperhatikan.

Data tersebut membantu melihat apakah terjadi perubahan signifikan pada sistem vulkanik sebuah gunung.

Artinya, erupsi Gunung Anak Krakatau tidak bisa digunakan sebagai indikator tunggal bahwa Semeru, Sinabung, atau Lewotobi Laki-laki akan mengalami erupsi.

Begitu pula sebaliknya.

Setiap gunung harus dianalisis berdasarkan karakteristik dan data pemantauannya masing-masing.

Jangan Langsung Hubungkan Empat Letusan

Kemunculan empat gunung api yang aktif dalam waktu berdekatan memang terlihat mencolok.

Namun, secara ilmiah, kesamaan waktu bukan otomatis bukti adanya hubungan sebab-akibat.

Gunung api dapat mengalami peningkatan aktivitas karena dinamika magma, tekanan, kegempaan, kondisi hidrotermal, maupun faktor geologi yang bekerja pada sistemnya sendiri.

Jika gunung-gunung tersebut berada pada sistem yang berbeda, aktivitas yang berdekatan waktunya bahkan dapat merupakan kebetulan dari dinamika masing-masing sistem.

Kalaupun terdapat faktor tektonik yang sama, hubungan tersebut tetap perlu dibuktikan melalui data.

Indonesia dan Dinamika Cincin Api

Pada akhirnya, aktivitas Anak Krakatau, Sinabung, Semeru, dan Lewotobi Laki-laki perlu ditempatkan dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan aktivitas vulkanik sangat tinggi.

Empat gunung erupsi dalam periode berdekatan memang patut dipantau, tetapi tidak tepat langsung disimpulkan sebagai satu rangkaian letusan yang saling memicu.

Yang lebih penting adalah mengikuti perkembangan status setiap gunung berdasarkan data resmi pemantauan.

Sebab, di negeri yang berdiri di atas pertemuan lempeng dan berada di kawasan Cincin Api, gunung api yang aktif secara bersamaan bukanlah fenomena yang mustahil.(*)

Editor : Ali Sodiqin
Gunung Sinabung Anak Krakatau Erupsi gunung Gunung Lewotobi gunung semeru