RADAR BANYUWANGI — Erupsi Gunung Anak Krakatau berubah menjadi gangguan lintas sektor. Hingga Senin (7/9/2026), sebanyak 1.558 penerbangan tertunda, sekitar 170 ribu penumpang terdampak, enam bandara masih ditutup, abu vulkanik mencapai Jakarta, dan sekolah harus beralih ke pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Gunung yang berada di Selat Sunda itu memang jauh dari pusat Jakarta. Namun, abu vulkaniknya tak mengenal batas wilayah.
Sejak erupsi berlangsung pada Jumat (4/9), dampaknya merambat dari udara ke daratan. Lampung, Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat ikut merasakan efeknya.
Yang awalnya merupakan aktivitas vulkanik di kawasan Selat Sunda kini berubah menjadi persoalan penerbangan, kualitas udara, hingga pendidikan.
1.558 Penerbangan Tertunda
Kementerian Perhubungan mencatat erupsi Anak Krakatau berdampak terhadap delapan bandara di Indonesia.
Jumlah penerbangan yang terdampak pun tidak sedikit. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut 1.558 penerbangan tertunda, dengan sekitar 170.000 penumpang ikut terdampak.
Pada Senin pagi, gangguan penerbangan belum berakhir.
Kemenhub bahkan memperpanjang penutupan enam bandara hingga pukul 09.00 WIB.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa menyebut enam bandara yang masih ditutup adalah:
-
Soekarno-Hatta (CGK)
-
Halim Perdanakusuma (HLP)
-
Radin Inten II Lampung (TKG)
-
Husein Sastranegara (BDO)
-
Budiarto Curug (RTO)
-
Pondok Cabe (PCB)
"Penutupan bandara diperpanjang sampai dengan jam 09.00 WIB," kata Lukman, Senin (7/9/2026).
Artinya, perjalanan udara pada awal pekan belum sepenuhnya kembali normal.
Penumpang Tak Boleh Dibiarkan Terlantar
Di tengah kekacauan jadwal penerbangan, pemerintah menegaskan maskapai tetap memiliki kewajiban terhadap penumpang.
Dudy mengatakan hak penumpang yang terdampak harus dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.
Maskapai juga wajib memberikan informasi mengenai perubahan jadwal penerbangan serta pilihan penanganan bagi penumpang.
Pemerintah menyiapkan sejumlah bandara alternatif, di antaranya Kertajati, Juanda, YIA, Semarang, dan Solo.
Jika penerbangan dialihkan, penumpang akan mendapatkan transportasi lanjutan berupa bus maupun kereta api.
"Transportasi alternatif gratis," tegas Dudy.
Skema itu disiapkan agar gangguan penerbangan tidak berubah menjadi penumpukan penumpang yang lebih besar di bandara.
Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke Jakarta
Masalah tidak berhenti di bandara.
Abu vulkanik Anak Krakatau juga mulai menjadi persoalan bagi warga Jakarta.
BMKG mencatat sebaran abu mencapai sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
Dalam pemantauan pukul 04.00 WIB, terdapat dua klaster utama sebaran abu vulkanik.
Klaster pertama bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Wilayah yang terdampak mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan sekitarnya dengan ketinggian hingga 20.000 kaki.
Sementara itu, klaster kedua bergerak ke arah barat daya hingga barat laut dengan ketinggian mencapai 50.000 kaki.
Sebarannya mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.
Dengan arah sebaran tersebut, dampak erupsi Anak Krakatau tidak lagi hanya menjadi persoalan masyarakat di sekitar gunung.
Warga Jakarta Diminta Tak Banyak Keluar Rumah
Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengingatkan warga untuk mengurangi paparan abu vulkanik.
Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Kelompok rentan menjadi perhatian utama, terutama anak-anak, lansia, serta anggota keluarga yang memiliki gangguan pernapasan.
Kepala DLH DKI Jakarta Dudi Gardesi meminta masyarakat tidak panik, tetapi tetap melakukan langkah perlindungan.
"Kami memahami kekhawatiran warga. Langkah terpenting saat ini adalah mengurangi paparan dan melindungi keluarga," ujarnya, Minggu (6/9/2026).
BNPB Turun Tangan
Pemerintah juga bergerak untuk menghadapi dampak abu vulkanik yang masuk ke wilayah Jakarta.
BNPB menyiapkan operasi modifikasi cuaca untuk membuat kondisi lebih kondusif.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan pesawat operasi modifikasi cuaca telah disiapkan di Pondok Cabai.
Operasi tersebut digencarkan hingga malam hari.
Langkah ini dilakukan setelah abu vulkanik terlihat di sekitar permukiman warga Jakarta.
Sekolah Jakarta Berubah Jadi PJJ
Efek domino berikutnya menyentuh dunia pendidikan.
Mulai Senin (7/9/2026), seluruh sekolah di DKI Jakarta menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Keputusan tersebut diambil setelah sebaran abu vulkanik Anak Krakatau mencapai Jakarta.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nahdiana mengatakan kebijakan tersebut bertujuan memastikan siswa tetap belajar dalam kondisi aman.
"Kami ingin memastikan anak-anak tetap belajar dalam suasana yang aman dan nyaman. Karena itu, untuk sementara pembelajaran dilakukan dari rumah," ujarnya.
Jadi, meski ruang kelas ditinggalkan sementara, proses pendidikan tidak dihentikan.
Siswa tetap mengikuti kegiatan belajar dari rumah.
Banten Juga Terapkan PJJ
Banten mengambil langkah serupa.
Pemprov Banten menerapkan PJJ untuk jenjang SMA, SMK, dan SKh negeri maupun swasta.
Kebijakan tersebut berlaku selama tiga hari, mulai Senin (7/9) hingga Rabu (9/9/2026).
Keputusan itu dituangkan melalui Surat Edaran Nomor T-400.3.1/4237/Dindikbud/2026.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten Jamaluddin mengatakan kebijakan tersebut dibuat demi menjaga kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan peserta didik serta warga sekolah.
Wilayah lain juga merespons kondisi tersebut. Depok dan Bogor turut menerapkan pembelajaran jarak jauh.
Erupsi yang Dampaknya Menjalar Jauh
Erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bagaimana aktivitas gunung api bisa menciptakan efek berantai dalam waktu singkat.
Gunungnya berada di Selat Sunda, tetapi dampaknya terasa hingga Jakarta.
Abu vulkanik bergerak mengikuti kondisi atmosfer. Penerbangan terganggu. Bandara ditutup. Penumpang tertahan. Kualitas udara menjadi perhatian. Bahkan sekolah harus memindahkan kegiatan belajar dari ruang kelas ke rumah.
Angka 1.558 penerbangan tertunda dan 170 ribu penumpang terdampak menjadi gambaran besarnya gangguan transportasi.
Sementara keputusan PJJ di Jakarta dan sejumlah daerah menunjukkan dampaknya telah menyentuh aktivitas sehari-hari masyarakat.
Erupsi Anak Krakatau bukan lagi sekadar kabar dari Selat Sunda. Abu vulkaniknya telah menjadi persoalan Jakarta, bandara, penumpang, hingga sekolah. (*)
Editor : Ali Sodiqin