RADAR BANYUWANGI – Kepadatan kendaraan di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk mendorong pelaku usaha angkutan mengambil langkah tak biasa. Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Banyuwangi menyatakan siap menggelontorkan sekitar Rp400 juta untuk menambah satu plengsengan di Dermaga Landing Craft Mechanized (LCM) Ketapang.
Langkah itu ditawarkan sebagai solusi cepat untuk meningkatkan kapasitas layanan penyeberangan tanpa harus menunggu penambahan armada. Jika terealisasi, satu plengsengan tambahan diperkirakan mampu membuat hingga empat kapal LCM tambahan masuk dalam pola pelayanan di lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Ketua DPC Gapasdap Banyuwangi Nurjatim mengatakan, saat ini Dermaga LCM Ketapang memiliki tiga plengsengan. Gapasdap siap membiayai pekerjaan pengecoran dan penguatan untuk menambah satu plengsengan baru.
“Gapasdap siap membiayai pengecorannya. Saat ini sudah ada tiga plengsengan di LCM Ketapang. Kalau ditambah satu lagi, berpotensi menambah empat kapal dalam lintasan,” kata Nurjatim.
Menurut dia, pekerjaan tersebut tidak membutuhkan waktu panjang. Dengan adanya kesamaan persepsi antara pemerintah dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), proses pembangunan diperkirakan dapat rampung kurang dari dua bulan.
“Kita perlu samakan persepsi antara pemerintah dan ASDP. Prosesnya juga bisa cepat, tidak sampai dua bulan. Ini akan lebih cepat mengatasi kepadatan,” ujarnya.
Kapal Ada, Dermaga Belum Maksimal
Persoalan kapasitas penyeberangan tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah kapal. Saat ini terdapat 14 kapal LCM yang berada di lintasan. Namun, kapal yang beroperasi setiap hari rata-rata hanya sekitar sembilan unit.
Kondisi tersebut membuat optimalisasi infrastruktur dermaga menjadi salah satu opsi yang dinilai paling realistis. Dengan kapasitas plengsengan yang bertambah, pemanfaatan kapal LCM diharapkan bisa lebih optimal, terutama ketika volume kendaraan meningkat.
Gapasdap memperkirakan kebutuhan anggaran untuk pengecoran dan penguatan dermaga mencapai sekitar Rp400 juta.
Nurjatim menjelaskan, Dermaga LCM Ketapang saat ini belum terintegrasi secara optimal dengan kawasan pelabuhan utama. Kondisi tersebut membuat kapasitas pelayanan kapal belum maksimal ketika terjadi lonjakan pengguna jasa.
Karena itu, optimalisasi diarahkan pada penyatuan sekaligus penguatan area plengsengan menggunakan konstruksi beton. Dengan konstruksi yang lebih kuat, pergerakan kapal dan pelayanan kendaraan diharapkan dapat berlangsung lebih efektif.
Bulusan Terkendala Kerusakan
Usulan penguatan LCM Ketapang juga tidak lepas dari kondisi infrastruktur di sisi lain lintasan. Dermaga LCM Gilimanuk saat ini disebut telah memiliki empat plengsengan.
Sementara itu, skema pelayanan sebelumnya juga mengandalkan pasangan LCM Ketapang dengan Dermaga Bulusan. Namun, fasilitas di Bulusan kini belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena terdapat kerusakan pada dua dolphin.
“LCM di Gilimanuk sudah empat (plengsengan). Dulu Gilimanuk tandemnya dengan Bulusan. Sekarang dua dolphin di Bulusan rusak,” jelas Nurjatim.
Kerusakan tersebut turut berdampak pada fasilitas plengsengan. Berdasarkan kondisi di lapangan, plengsengan di Bulusan mengalami ambles sekitar 15 sentimeter sehingga belum dapat digunakan secara optimal.
Dalam situasi tersebut, penguatan Dermaga LCM Ketapang dinilai menjadi pilihan yang relatif cepat untuk menambah kapasitas pelayanan. Solusi tersebut juga tidak mengharuskan operator terlebih dahulu menambah jumlah armada.
Dengan tambahan satu plengsengan, Gapasdap berharap kapasitas pelayanan dapat meningkat dan tekanan kepadatan kendaraan di lintasan Ketapang-Gilimanuk bisa segera dikurangi. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin