Macet Horor di Ketapang-Gilimanuk, ASDP Minta Maaf

Ramada Kusuma Atmaja • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 16:15 WIB
Antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang mencapai 13 kilometer. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang mencapai 13 kilometer. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Antrean kendaraan hingga sekitar 13 kilometer di kawasan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, membuat ASDP Indonesia Ferry (Persero) harus mempercepat langkah penguraian kepadatan. Lonjakan kendaraan logistik sekitar 16 persen dibanding periode yang sama bulan lalu, ditambah sementara tidak beroperasinya satu pasang dermaga di Ketapang-Gilimanuk, menjadi pemicu utama tekanan layanan penyeberangan Jawa–Bali.

Merespons kondisi tersebut, Direktur Utama ASDP Heru Widodo menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh pengguna jasa yang terdampak. ASDP juga mengoptimalkan operasional kapal dan memperkuat koordinasi bersama regulator serta para pemangku kepentingan.

“Kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan dan tambahan waktu perjalanan yang dialami pengguna jasa. Kami memahami kondisi ini memberikan dampak, khususnya bagi masyarakat dan pelaku logistik yang membutuhkan kepastian waktu,” ujar Heru.

Menurut dia, ASDP bersama regulator dan seluruh stakeholder terkait terus menjalankan langkah konkret untuk mempercepat penguraian antrean sekaligus mengoptimalkan kapasitas layanan.

24 Kapal Besar Dikerahkan

Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengoperasikan 24 kapal berkapasitas besar untuk mengoptimalkan daya angkut kendaraan.

ASDP juga menerapkan pola Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB) dengan melibatkan enam kapal. Pola tersebut ditujukan untuk mempercepat proses bongkar muat sehingga waktu kapal berada di dermaga dapat dipersingkat.

Namun, percepatan operasional tetap harus berjalan dalam koridor keselamatan. Penyesuaian pola operasi mempertimbangkan kapasitas dermaga, kondisi lalu lintas kendaraan, serta aspek keselamatan pelayaran.

Langkah itu menjadi penting mengingat Pelabuhan Ketapang merupakan salah satu simpul utama pergerakan orang dan barang antara Pulau Jawa dan Bali. Ketika arus kendaraan meningkat, gangguan pada kapasitas dermaga maupun waktu layanan kapal dapat dengan cepat berdampak pada antrean di akses menuju pelabuhan.

Satu Pasang Dermaga Masih Ditingkatkan

Di tengah lonjakan kendaraan, kapasitas layanan juga menghadapi tantangan karena satu pasang dermaga di Ketapang dan Gilimanuk sementara tidak beroperasi.

Dermaga tersebut tengah menjalani proyek peningkatan kapasitas beban menjadi 50 ton. Pekerjaan itu merupakan bagian dari penguatan infrastruktur sekaligus persiapan menghadapi periode angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta Idul Fitri 2027.

Dengan demikian, kondisi antrean saat ini merupakan kombinasi antara peningkatan volume kendaraan dan berkurangnya kapasitas dermaga yang dapat digunakan.

Kendaraan logistik menjadi salah satu perhatian utama. Peningkatan volumenya mencapai sekitar 16 persen dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.

ASDP Perkuat Koordinasi Atur Arus Logistik

General Manager ASDP Cabang Ketapang Media Syahrianto mengatakan, koordinasi intensif terus dilakukan bersama regulator dan stakeholder terkait.

Koordinasi tersebut diarahkan untuk mengatur arus kendaraan, terutama kendaraan logistik, sekaligus mempercepat penguraian antrean pada akses menuju pelabuhan.

ASDP memastikan pengguna jasa yang telah memiliki tiket tetap dilayani sesuai ketentuan. Di sisi lain, masyarakat diminta mengantisipasi kemungkinan tambahan waktu perjalanan serta mengikuti arahan petugas di lapangan.

“Kami mengapresiasi kesabaran dan pengertian seluruh pengguna jasa dalam menghadapi kondisi ini. ASDP berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan dan memastikan layanan penyeberangan tetap berjalan seoptimal mungkin,” jelas Media.

Keselamatan Tetap Jadi Prioritas

Di tengah tuntutan mempercepat antrean, ASDP menegaskan bahwa keselamatan tidak boleh dikorbankan demi mengejar waktu layanan.

Optimalisasi kapal, pola Tiba–Bongkar–Berangkat, pengaturan kendaraan, hingga koordinasi lintas pihak dilakukan dengan tetap memperhitungkan aspek keselamatan pelayaran.

Bagi pengguna jasa, kondisi ini berarti tambahan waktu perjalanan masih perlu diantisipasi. Sementara bagi ASDP, pekerjaan rumahnya bukan sekadar mengurai antrean 13 kilometer, tetapi memastikan arus penyeberangan Jawa–Bali kembali lancar tanpa mengabaikan keselamatan.

Heru menegaskan, ASDP akan terus memperkuat langkah penanganan kepadatan dan melakukan perbaikan layanan agar mobilitas masyarakat maupun distribusi logistik tetap terjaga. (ram/aif)

Editor : Ali Sodiqin
antrean Ketapang kapal ASDP Penyeberangan Jawa Bali pelabuhan ketapang asdp ketapang