Gunung Sinabung Erupsi, Abu Vulkanik Terjang Karo hingga Lahan Pertanian Warga

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 20:50 WIB
Sebanyak 405 jiwa masih berada di Posko Pengungsian Jambur Arih Ersada, Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada Jumat (5/9). (BPBD Kabupaten Karo)
Sebanyak 405 jiwa masih berada di Posko Pengungsian Jambur Arih Ersada, Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada Jumat (5/9). (BPBD Kabupaten Karo)

RADAR BANYUWANGI — Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, meningkat setelah erupsi pada 31 Agustus 2026. Status gunungapi dinaikkan menjadi Level III (Siaga), sementara sekitar 208 kepala keluarga atau 650 jiwa masuk dalam pendataan pengungsi hingga Jumat (4/9). Pemerintah Kabupaten Karo memperkuat penanganan, termasuk mengarahkan warga terdampak abu vulkanik menuju lokasi yang lebih aman.

Erupsi Gunung Sinabung terjadi pada Senin (31/8) sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu, kolom erupsi membubung sekitar 3.500 meter di atas puncak atau mencapai sekitar 5.960 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Hasil pemantauan visual dan instrumental kemudian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik. Kondisi tersebut membuat tingkat aktivitas Gunung Sinabung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) mulai 31 Agustus 2026 pukul 12.30 WIB.

Dampaknya mulai dirasakan di sejumlah wilayah yang berada di sekitar gunungapi.

Warga Kuta Tengah Mengungsi

Wilayah yang terdampak aktivitas vulkanik antara lain Desa Ndokum Siroga dan Desa Kuta Tengah di Kecamatan Simpang Empat serta Desa Payung di Kecamatan Payung.

Warga Desa Kuta Tengah untuk sementara diarahkan berpindah ke Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran.

Hingga Jumat (4/9), pemerintah mencatat sekitar 208 kepala keluarga atau 650 jiwa dalam pendataan sebagai pengungsi. Dari jumlah tersebut, sekitar 405 jiwa masih berada di Posko Pengungsian Jambur Arih Ersada, Desa Sukatepu.

Data pengungsi terus diperbarui. Pemutakhiran dilakukan untuk memastikan bantuan dan kebutuhan dasar warga terdampak dapat disalurkan sesuai kondisi di lapangan.

Abu vulkanik juga mulai memberikan dampak terhadap lahan pertanian masyarakat.

Luasan lahan yang terdampak, termasuk tingkat kerusakannya, masih dalam proses pendataan oleh pihak terkait.

Masker hingga Dapur Umum Disiapkan

Penanganan tidak hanya berfokus pada evakuasi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo mendistribusikan masker kepada masyarakat yang terdampak abu vulkanik. Warga juga terus diimbau keluar dari zona bahaya dan berpindah ke lokasi yang lebih aman.

Koordinasi dengan unsur TNI dan Polri dilakukan secara berkelanjutan. Salah satu titik pemantauan berada di Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat.

Patroli juga diperkuat di sejumlah kawasan yang ditetapkan sebagai wilayah terlarang untuk aktivitas maupun kunjungan.

Salah satunya kawasan Danau Lau Kawar.

Hasil patroli memastikan tidak terdapat pengunjung di kawasan tersebut.

Di kawasan dengan aktivitas penduduk dan lalu lintas yang cukup padat, penanganan abu vulkanik dilakukan dengan penyiraman. Langkah ini antara lain dilakukan di kawasan pusat Kota Berastagi untuk mengurangi dampak debu vulkanik.

Pemerintah daerah juga mengaktifkan dapur umum. Kebutuhan konsumsi masyarakat di lokasi pengungsian disiapkan sebanyak tiga kali sehari.

Kebutuhan air bersih dan sanitasi turut dipenuhi di lokasi pengungsian.

Desa Payung Masuk Status Siaga

Desa Payung, Kecamatan Payung, untuk sementara ditetapkan dalam kondisi siaga.

Pemerintah daerah menyiapkan skenario evakuasi apabila aktivitas Gunung Sinabung kembali meningkat dan kondisi di lapangan mengharuskan masyarakat berpindah ke lokasi yang lebih aman.

Kesiapsiagaan juga menyentuh sektor pendidikan.

SD Negeri 040475 Tiga Serangkai untuk sementara melaksanakan kegiatan belajar mengajar di posko pengungsian.

Sementara pelajar SMP yang bersekolah di luar desa mendapatkan layanan antar-jemput dari Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Karo.

Langkah tersebut dilakukan agar aktivitas pendidikan tetap berjalan sembari keselamatan pelajar menjadi prioritas.

Jumat Sore Tak Tercatat Gempa

Berdasarkan pengamatan Gunung Api Sinabung pada Jumat (4/9) pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, secara visual tampak asap kawah utama berwarna putih tebal.

Asap tersebut teramati mencapai ketinggian sekitar 300 hingga 500 meter dari atas puncak.

Pada periode pengamatan tersebut, tidak tercatat adanya kegempaan.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk menurunkan kewaspadaan. Aktivitas Gunung Sinabung tetap dipantau secara intensif oleh pihak berwenang.

Radius 3 Kilometer dari Puncak Dilarang

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan rekomendasi menyusul status Gunung Sinabung Level III (Siaga).

Masyarakat dan wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas di desa-desa yang telah direlokasi.

Masyarakat juga dilarang memasuki kawasan dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Sinabung.

Selain itu, terdapat radius sektoral 6 kilometer ke arah selatan-tenggara yang harus dihindari.

Kewaspadaan juga diperlukan bagi masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar alur sungai yang berhulu di Gunung Sinabung.

Sebab, selain ancaman material erupsi, masyarakat perlu mewaspadai potensi lahar yang dapat mengalir melalui alur sungai tersebut.

Pemerintah Tekankan Ketenangan dan Kewaspadaan

Evaluasi tingkat aktivitas Gunung Sinabung akan dilakukan secara berkala. Evaluasi juga dapat dilakukan sewaktu-waktu apabila terjadi perubahan signifikan pada aktivitas gunungapi.

Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak panik. Namun, ketenangan tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kewaspadaan.

Setiap arahan pemerintah daerah, BPBD, PVMBG, BNPB, maupun petugas di lapangan perlu dipatuhi, terutama menyangkut batas kawasan bahaya dan kemungkinan evakuasi.

BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Sinabung.

Di tengah aktivitas vulkanik yang masih perlu diwaspadai, satu hal menjadi prioritas: keselamatan masyarakat harus didahulukan sebelum aktivitas erupsi berkembang menjadi ancaman yang lebih besar. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : bnpb.go.id
Gunung Sinabung Erupsi Sinabung Sinabung Siaga Pengungsi Karo Abu Vulkanik