Truk Terjebak Antrean Ketapang 10 Jam, Biaya Logistik Ikut Tercekik

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 04:00 WIB
Sopir truk melakukan aksi unjukrasa di dekat pintu masuk Pelabuhan Ketapang, Kamis sore (4/9). Pemicunya, sudah berhari-hari mereka tidak bisa masuk pelabuhan. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Sopir truk melakukan aksi unjukrasa di dekat pintu masuk Pelabuhan Ketapang, Kamis sore (4/9). Pemicunya, sudah berhari-hari mereka tidak bisa masuk pelabuhan. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Antrean kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang kembali memakan waktu hingga berjam-jam. Seorang sopir truk bahkan mengaku membutuhkan sekitar 10 jam untuk menembus kepadatan dari kawasan Klatak hingga Dermaga Bulusan. Lamanya waktu tempuh bukan hanya membuat pengiriman logistik terlambat, tetapi juga mengerek biaya konsumsi dan BBM yang harus ditanggung selama terjebak antrean.

Agus, sopir asal Banyuwangi, mengalami sendiri panjangnya antrean tersebut saat mengangkut semen menuju Bali. Dia berangkat dari kawasan Klatak sekitar pukul 19.00 WIB.

Namun, hingga sekitar pukul 06.30 WIB, Agus baru tiba di kawasan Dermaga Bulusan. Perjalanan yang semestinya menjadi bagian dari proses pengiriman barang berubah menjadi penantian panjang sebelum bisa melanjutkan perjalanan dengan kapal.

“Mau masuk kapal saja dari Klatak saya menunggu berjam-jam,” ungkap Agus.

Bagi sopir truk, waktu menjadi bagian penting dalam rantai distribusi. Setiap jam yang terbuang di jalan berarti tambahan konsumsi bahan bakar dan kebutuhan makan selama perjalanan.

Antrean Bukan Sekali Terjadi

Agus mengatakan kepadatan menuju Pelabuhan Ketapang bukan persoalan baru. Kondisi serupa disebut berulang sehingga menurutnya perlu segera dicarikan solusi.

Masalahnya, dampak antrean tidak berhenti pada kemacetan lalu lintas. Pengiriman barang ikut terdampak karena kendaraan tidak bisa bergerak sesuai jadwal.

“Kalau antre seperti ini, konsumsi bertambah, BBM juga bertambah. Pengiriman barang akhirnya terlambat,” ujarnya.

Keterlambatan tersebut berpotensi membuat rantai distribusi ikut bergeser. Sopir harus menunggu lebih lama, kendaraan mengonsumsi BBM lebih banyak, sementara barang yang dibawa membutuhkan waktu lebih panjang untuk sampai ke tujuan.

Situasi tersebut menjadi beban tersendiri bagi sopir, terutama kendaraan logistik yang harus mengejar jadwal pengiriman antarpulau.

Truk Pilih Jalur Bali Menuju Lombok

Kepadatan di sekitar Ketapang juga tidak terlepas dari pergerakan truk logistik yang memilih menggunakan jalur Bali untuk menuju Lombok.

Salah seorang sopir asal Pasuruan, Yunus Mahmud, mengaku memilih rute tersebut karena mempertimbangkan kepastian waktu penyeberangan.

Menurut dia, antrean di lintasan ASDP Ketapang–Gilimanuk memang menjadi konsekuensi yang harus dihadapi. Namun, keberangkatan kapal di jalur tersebut dinilai lebih mudah diperkirakan.

“Kalau di ASDP memang antre, tapi jadwalnya pasti. Kalau di ALP kita masih menunggu. Bisa berhari-hari,” tutup Yunus.

Pilihan rute tersebut menunjukkan bahwa bagi pelaku angkutan logistik, kepastian waktu menjadi faktor penting selain sekadar jarak tempuh. Jalur yang lebih ramai sekalipun tetap dipilih apabila jadwal penyeberangannya dinilai lebih jelas.

Waktu Tunggu Jadi Biaya Tersembunyi

Bagi sopir, antrean panjang bukan sekadar persoalan kendaraan yang berhenti. Ada biaya yang terus berjalan ketika roda truk tidak bergerak.

BBM tetap terpakai, konsumsi bertambah, sementara target pengiriman harus mundur. Ketika kondisi tersebut terjadi berulang, beban operasional ikut meningkat dan pada akhirnya dapat memengaruhi biaya distribusi barang.

Pengalaman Agus yang menghabiskan sekitar 10 jam dari Klatak hingga Bulusan menjadi gambaran bagaimana kepadatan di akses menuju Ketapang bisa berdampak langsung kepada sektor logistik.

Di sisi lain, pilihan sebagian sopir untuk melewati Bali menuju Lombok memperlihatkan kebutuhan lain yang tidak kalah penting: kepastian waktu layanan penyeberangan.

Selama antrean panjang dan waktu tunggu belum bisa ditekan, persoalan di jalur Ketapang tidak hanya menjadi cerita tentang kemacetan. Bagi sopir dan pelaku logistik, setiap jam yang hilang berarti tambahan biaya dan risiko keterlambatan barang sampai ke tujuan. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
antrean Ketapang biaya logistik pelabuhan ketapang sopir truk ketapang gilimanuk