GM ASDP Ketapang Diganti Dadakan saat Antrean Kendaraan Mengular 12 Kilometer

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 01:00 WIB
TAK BISA BERGERAK: Kendaraan roda empat dan rodak dua terjebak macet dari dua arah di sekitar Patung Gandrung, Watudodol pukul 07.30, Rabu (2/9). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
TAK BISA BERGERAK: Kendaraan roda empat dan rodak dua terjebak macet dari dua arah di sekitar Patung Gandrung, Watudodol pukul 07.30, Rabu (2/9). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Pergantian nakhoda PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ketapang-Gilimanuk terjadi di tengah kemacetan yang belum kunjung terurai. Arief Eko Kurniansjah yang baru sekitar enam bulan menjabat sebagai General Manager (GM) ASDP Ketapang resmi digantikan Media Syahrianto Heriawan pada Jumat (4/9/2026), saat antrean kendaraan bahkan sempat mengular hingga 12 kilometer dan mengganggu berbagai aktivitas warga Banyuwangi.

Pergantian pimpinan tersebut menjadi sorotan karena terjadi ketika lintasan Ketapang-Gilimanuk menghadapi tekanan arus kendaraan dan logistik. Kemacetan yang berlangsung berhari-hari tidak hanya menghambat mobilitas penumpang, tetapi juga merembet ke sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan, hingga pertanian.

Arief Eko sendiri mulai memimpin ASDP Ketapang sejak awal Maret 2026. Dia menggantikan Ardhy Ekapaty. Dengan pergantian terbaru ini, masa jabatan tiga GM terakhir ASDP Ketapang tercatat relatif singkat dan nyaris tidak ada yang bertahan hingga tujuh bulan.

Kemacetan Jadi Ujian Pertama

Usai serah terima jabatan (sertijab), Media Syahrianto Heriawan langsung menempatkan persoalan kemacetan sebagai prioritas utama.

Dia menyebut penyelesaian antrean kendaraan membutuhkan sinergi lintas instansi. Koordinasi akan dilakukan bersama BPTD, KSOP, kepolisian, Denpom, serta Dinas Perhubungan.

“Pertama, kita mengatur kendaraan sebaik mungkin. Mengkoordinasikan dengan BPTD untuk menambah jumlah kapal besar yang beroperasi. Saat ini kita juga mengupayakan TBB (Tiba, Bongkar, Berangkat),” ujar Media.

Skema TBB diharapkan dapat mempercepat siklus kapal di pelabuhan. Kapal yang tiba di dermaga diarahkan segera melakukan bongkar muat, kemudian kembali berangkat sehingga waktu tunggu dapat ditekan.

Langkah tersebut menjadi penting karena tekanan arus kendaraan dan logistik di lintasan Ketapang-Gilimanuk terus meningkat.

Arus Logistik Naik hingga 16 Persen

ASDP juga menyiapkan langkah yang lebih panjang melalui peningkatan kapasitas infrastruktur pelabuhan. Percepatan pembangunan dan peningkatan kapasitas dermaga Ponton serta Movable Bridge (MB) menjadi bagian dari strategi tersebut.

Kapasitas Dermaga Gilimanuk ditargetkan meningkat sebelum periode Tahun Baru. Sementara peningkatan kapasitas dermaga di Ketapang diproyeksikan rampung sebelum masa angkutan Lebaran.

Kebutuhan penambahan kapasitas itu semakin mendesak karena volume arus logistik tercatat meningkat sekitar 12 persen hingga 16 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Dengan pertumbuhan tersebut, kapasitas layanan penyeberangan dituntut mampu mengimbangi lonjakan kendaraan tanpa kembali memindahkan beban antrean ke jalan raya di luar kawasan pelabuhan.

KMP Jatra 1 Disiapkan Jadi Kapal Bantuan

Untuk meredam persoalan dalam jangka pendek, ASDP juga berencana mendatangkan kapal bantuan berkapasitas besar dari Merak.

KMP Jatra 1 dengan kapasitas sekitar 3.500 GRT diperkirakan tiba dalam dua minggu mendatang. Kapal tersebut mampu mengangkut hingga 38 kendaraan dalam sekali perjalanan.

Kehadiran kapal tambahan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas angkut sekaligus mempercepat penguraian antrean kendaraan yang saat ini menjadi persoalan utama di kawasan Ketapang.

Namun, penambahan kapal bukan satu-satunya pekerjaan rumah. Pengaturan kendaraan dari luar hingga dalam kawasan pelabuhan juga menjadi faktor penting agar antrean tidak kembali menumpuk di jalur utara Banyuwangi.

Siapkan Buffer Zone untuk Antrean

ASDP bersama kepolisian dan Dinas Perhubungan juga menyiapkan strategi menghadapi kepadatan kendaraan di jalan raya luar pelabuhan.

Salah satunya dengan menyiagakan buffer zone atau area kantong parkir darurat. Fasilitas tersebut disiapkan untuk menampung kendaraan ketika antrean di kawasan pelabuhan mulai memanjang.

Strategi ini menjadi penting setelah antrean kendaraan sempat mencapai sekitar 12 kilometer. Tanpa kantong penyangga, antrean berisiko langsung memenuhi badan jalan dan mengganggu arus lalu lintas masyarakat.

Pergantian GM ASDP Ketapang kini membawa pekerjaan rumah yang langsung terlihat: bagaimana mengurai antrean, meningkatkan kecepatan pelayanan kapal, sekaligus menyiapkan kapasitas pelabuhan menghadapi pertumbuhan arus kendaraan dan logistik.

Bagi Media Syahrianto Heriawan, tantangan tersebut menjadi ujian pertama sejak memegang kendali ASDP Ketapang. Nakhoda baru datang ketika jalur Ketapang-Gilimanuk sedang menghadapi tekanan besar; keberhasilan mengurai kemacetan akan menjadi salah satu ukuran awal kepemimpinannya. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
kemacetan Ketapang antrean kendaraan pelabuhan ketapang asdp ketapang ketapang gilimanuk