Macet Ketapang Makin Panjang, ASDP Maksimalkan 25 Kapal Penyeberangan

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 23:31 WIB
URAI MACET: ASDP mengoperasikan 25 kapal untuk melayani pengguna jasa, termasuk di antaranya tiga unit kapal bantuan. (ASDP for Radar Banyuwangi)
URAI MACET: ASDP mengoperasikan 25 kapal untuk melayani pengguna jasa, termasuk di antaranya tiga unit kapal bantuan. (ASDP for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Antrean kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, yang mengular hingga belasan kilometer memaksa PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengubah strategi operasi. Sebanyak 25 kapal, termasuk tiga kapal bantuan, dimaksimalkan untuk mempercepat arus penyeberangan lintasan Ketapang–Gilimanuk.

Langkah tersebut menjadi upaya taktis ASDP menghadapi keterbatasan kapasitas dermaga akibat proyek peningkatan fasilitas di Pelabuhan Gilimanuk dan Ketapang. Kapal berkapasitas besar dioptimalkan agar kendaraan yang sudah berada dalam antrean bisa lebih cepat diseberangkan menuju Bali.

Direktur Utama ASDP Heru Widodo mengatakan, pengerahan kapal besar merupakan hasil koordinasi intensif dengan regulator dan pihak terkait. Evaluasi operasional juga dilakukan secara dinamis menyesuaikan kondisi lalu lintas penyeberangan.

“Kami terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat di tengah dinamika operasional yang terjadi. Saat ini kami memaksimalkan pengoperasian kapal berkapasitas besar, termasuk mengerahkan kapal bantuan,” tegas Heru.

Dermaga Ditingkatkan, Kapasitas Penyeberangan Terbatas

Kepadatan kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang terjadi ketika proyek peningkatan kapasitas Dermaga 2 Pelabuhan Gilimanuk dan dermaga ponton Pelabuhan Ketapang masih berlangsung.

Kedua fasilitas tersebut tengah ditingkatkan menjadi dermaga movable bridge (MB) dengan daya dukung hingga 50 ton.

Pengerjaan proyek membuat kapasitas dermaga belum bisa menampung arus kendaraan seperti kondisi normal. Padahal, lintasan Ketapang–Gilimanuk dalam kondisi biasa mampu mengoperasikan hingga 28 kapal.

Keterbatasan kapasitas dermaga itu membuat ASDP harus mengatur pola operasi kapal secara ketat. Tujuannya satu: memangkas waktu kapal berada di dermaga sehingga pergerakan kendaraan dapat dipercepat.

General Manager ASDP Cabang Ketapang Media Syahrianto menjelaskan, tiga kapal bantuan dioptimalkan dengan pola Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB).

“KMP Atayana dan KMP Portlink VII menerapkan pola TBB di Pelabuhan Gilimanuk. Sementara KMP Liputan XII menerapkan pola TBB di Dermaga LCM,” urai Media.

Kapal Tak Menunggu Lama di Dermaga

Pola TBB menjadi salah satu strategi untuk menekan dwelling time kapal. Begitu kapal tiba dan bersandar, kendaraan langsung dibongkar. Setelah proses selesai, kapal segera diberangkatkan kembali tanpa menunggu terlalu lama.

Dengan pola tersebut, waktu kapal berada di dermaga dapat ditekan seminimal mungkin. Siklus bongkar dan keberangkatan pun diupayakan berlangsung lebih cepat sehingga kapasitas layanan dapat dimaksimalkan di tengah keterbatasan fasilitas.

ASDP juga meminta pengguna jasa yang akan menyeberang melalui lintasan Ketapang–Gilimanuk mengantisipasi waktu perjalanan yang lebih panjang.

Pengendara diminta tetap tertib serta mengikuti arahan petugas, baik ketika berada di jalur antrean maupun di dalam kawasan pelabuhan.

Bagi pengguna jasa yang sudah terlanjur terjebak kemacetan tetapi telah memiliki tiket, ASDP memastikan tiket tersebut tidak hangus. Tiket tetap berlaku meski terjadi penyesuaian waktu keberangkatan akibat kepadatan kendaraan.

“Kami memahami kondisi ini dapat berdampak pada perjalanan masyarakat. Karena itu, kami meminta pengguna jasa tetap tenang dan mengikuti arahan petugas. Pengguna jasa yang telah memiliki tiket tetap akan dilayani untuk menyeberang,” pungkasnya. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
macet Ketapang Kapal Ketapang pelabuhan ketapang asdp ketapang ketapang gilimanuk