RADAR BANYUWANGI – Antrean panjang kendaraan di Pelabuhan ASDP Ketapang, Banyuwangi, memicu aksi spontan puluhan sopir truk, Kamis (3/9) sore. Para sopir duduk dan memblokir akses masuk pelabuhan selama sekitar dua jam sebagai bentuk protes karena kemacetan dan antrean kendaraan dinilai tak kunjung menemukan solusi.
Aksi tersebut sempat mengganggu akses kendaraan menuju pintu masuk pelabuhan. Para sopir meminta pihak terkait segera mencari solusi konkret agar antrean truk yang hendak menyeberang ke Bali tidak terus berulang.
Bagi para pengemudi, persoalannya bukan sekadar kendaraan yang tertahan beberapa jam. Sebagian mengaku harus menunggu hingga berhari-hari, sementara biaya makan dan kebutuhan selama berada di sekitar pelabuhan terus bertambah.
Antre Berhari-hari, Uang Makan Menipis
Aksi berlangsung spontan. Puluhan sopir yang sebelumnya terjebak antrean kemudian berkumpul dan duduk di depan pintu masuk Pelabuhan Ketapang.
Hartono, 48, sopir truk asal Singojuruh, menjadi salah satu pengemudi yang mempertanyakan akar persoalan kemacetan. Menurut dia, kepadatan kendaraan tidak semata-mata disebabkan persoalan dermaga.
Ada kendala lain di lapangan yang dinilai ikut memperpanjang antrean. Salah satunya adalah kebiasaan sebagian truk yang hanya mau menggunakan kapal tertentu karena sudah menjadi langganan.
“Ada berbagai kendala di lapangan. Ada truk yang sudah langganan dengan kapal tertentu, sampai pelabuhan dia tidak mau masuk. Masih menunggu kapal langganannya. Padahal ada kapal yang sudah siap. Akhirnya membuat macet,” ujarnya.
Hartono juga menilai penambahan atau perbaikan dermaga belum tentu menjadi jawaban akhir. Menurut dia, setelah persoalan dermaga selesai, masih mungkin muncul persoalan lain yang berkaitan dengan sistem maupun volume kendaraan.
“Saya tidak yakin ini karena dermaga. Karena pasti habis ini ada lagi. Setelah dermaga apa lagi, sistem, volume dan lainnya. Jumlah truk yang nyeberang ya ini-ini saja,” katanya.
Keluhan soal lamanya antrean juga dirasakan Saha, 62, sopir asal Jakarta yang membawa muatan tutup botol menuju Bali.
Saha mengaku telah menunggu selama dua hari satu malam di kantong parkir pelabuhan. Lamanya menunggu membuat bekal dan uang yang dibawanya semakin menipis.
“Sangunya habis untuk makan. Aksi ini spontan saja. Sudah menunggu dua hari satu malam di kantong parkir pelabuhan,” ungkapnya.
Dari Bangsring ke Ketapang Habiskan 16 Jam
Pengalaman serupa dialami Rendi, sopir mobil box pengangkut biskuit asal Malang. Dia mengaku membutuhkan waktu sekitar 16 jam untuk menempuh perjalanan dari kawasan Bangsring menuju Pelabuhan Ketapang.
Lamanya perjalanan tersebut membuat Rendi ikut dalam aksi solidaritas bersama sopir lainnya. Menurut dia, para pengemudi tidak sekadar ingin memprotes, tetapi juga membutuhkan jalan keluar agar kemacetan tidak terus berulang.
“Saya ikut aksi solidaritas bersama sopir lainnya untuk bisa mencari jalan keluar masalah kemacetan yang tak kunjung usai,” ujarnya.
Aksi blokir pintu masuk pelabuhan akhirnya dibuka kembali oleh para sopir. Hingga sekitar pukul 17.00 WIB, perwakilan pengemudi masih melakukan audiensi dengan pihak ASDP Ketapang.
Pertemuan tersebut membahas persoalan kemacetan dan antrean kendaraan yang selama ini dikeluhkan para sopir.
Para pengemudi berharap audiensi itu tidak berhenti pada pembahasan, tetapi menghasilkan solusi konkret di lapangan.
“Semoga ada solusi, kalau bisa setelah ini lancar,” pungkas Rendi. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin