RADAR BANYUWANGI – Kemacetan di jalur utara Banyuwangi belum juga terurai. Hingga Rabu (2/9), ekor antrean truk dan kendaraan yang hendak menuju Pelabuhan ASDP Ketapang mengular hingga Lapangan Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo. Jaraknya mencapai sekitar 12 kilometer dari pelabuhan.
Panjangnya antrean membuat jalur utama Banyuwangi–Situbondo ikut tersendat. Tak hanya kendaraan logistik yang menuju pelabuhan, warga yang hendak beraktivitas ke wilayah kota Banyuwangi juga harus berjibaku dengan kepadatan kendaraan.
Bagi warga Wongsorejo dan Bangsring, kemacetan kini bukan lagi sekadar gangguan perjalanan. Waktu tempuh menuju Kalipuro yang biasanya singkat bisa melonjak hingga berjam-jam, terutama pada pagi hari ketika volume kendaraan meningkat.
“Jalan dibuat tiga lajur. Apalagi kalau ada yang nekat ngeblong, saya mau kerja ke kota juga terhambat,” ujar Arya, warga Wongsorejo.
Motor Ikut Terjebak, Waktu Tempuh Melonjak
Kemacetan yang mengular dari kawasan Ketapang juga membuat pengendara roda dua tak bisa banyak berkutik. Mereka harus menyelip di antara antrean truk dan kendaraan roda empat yang memenuhi jalur menuju Banyuwangi maupun keluar dari Banyuwangi.
Rahmat, warga Bangsring, merasakan langsung dampaknya. Perjalanan menggunakan sepeda motor dari Bangsring menuju Kalipuro yang biasanya tidak sampai setengah jam kini bisa memakan waktu sekitar satu jam.
“Naik motor dari Bangsring ke Kalipuro bisa satu jam. Padahal biasanya tidak sampai setengah jam. Macetnya terjadi pagi pas banyak kendaraan yang akan berangkat,” imbuhnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan antrean kendaraan di kawasan Pelabuhan Ketapang tidak hanya berdampak pada arus penyeberangan. Aktivitas masyarakat di sepanjang jalur utara ikut terganggu.
Jumlah Kapal Jadi Salah Satu Biang Antrean
Kepala Dinas Perhubungan Banyuwangi I Komang Sudira Atmaja menyebut ada sejumlah faktor yang membuat antrean kendaraan belum kunjung terurai.
Salah satunya adalah keterbatasan jumlah kapal yang beroperasi. Ketika kapasitas kapal tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang hendak menyeberang, antrean dengan cepat terbentuk di kawasan pelabuhan.
“Permasalahan salah satunya memang di ALP. Jumlah kapal yang tersedia belum mencukupi untuk mengurai antrean. Sebelumnya ada empat kapal sekarang tinggal tiga kapal,” kata Komang kemarin.
Selain jumlah kapal, kondisi cuaca juga ikut memengaruhi kelancaran penyeberangan. Laut yang kurang bersahabat membuat proses kapal bersandar tidak selalu berjalan optimal.
Situasi tersebut berdampak pada pergerakan kendaraan di dua sisi penyeberangan, termasuk kawasan Gilimanuk, Bali.
“Cuaca memengaruhi, sehingga bongkar muat kapal tidak bisa cepat. Di samping ada perbaikan dermaga di Gilimanuk,” tegasnya.
Pemkab Desak Loading Logistik Dipercepat
Pemkab Banyuwangi kini berupaya memecah kepadatan dengan melakukan intervensi pada jalur distribusi kendaraan logistik.
Salah satu langkah yang didorong adalah meminta PT ALP selaku operator kapal lintasan Tanjungwangi–Gili Mas, Lombok, mempercepat pencetakan tiket.
Langkah itu diharapkan membuat truk yang sudah memiliki tiket dapat segera masuk ke kantong parkir di dalam kawasan Pelabuhan Tanjungwangi. Dengan begitu, kendaraan tidak terus menumpuk dan meluber ke badan jalan.
ALP juga telah membuka sekaligus mempercepat penjualan tiket. Bahkan, tiket untuk keberangkatan 4 September sudah mulai dijual.
“Langkah tersebut diharapkan dapat membuat kendaraan dan penumpang yang sudah memiliki tiket segera bergeser menuju kawasan pelabuhan sehingga tidak menumpuk di badan jalan,” jelas Komang.
Percepatan ini menjadi penting karena antrean kendaraan yang terlalu panjang bukan hanya menghambat arus logistik, tetapi juga mengganggu mobilitas warga di jalur utara Banyuwangi.
Rekayasa Lalu Lintas hingga Kapal Bantuan
Untuk jangka pendek, Dishub Banyuwangi menyiapkan sejumlah opsi. Rekayasa lalu lintas tetap dilakukan untuk menjaga pergerakan kendaraan di tengah kepadatan.
Selain itu, pengoperasian kapal perbantuan di lintasan Ketapang–Gilimanuk juga menjadi salah satu opsi yang dapat ditempuh apabila kondisi memungkinkan.
Namun, efektivitas langkah tersebut tetap bergantung pada kondisi cuaca dan percepatan perbaikan dermaga di Gilimanuk.
“Untuk saat ini kita bergantung pada kondisi cuaca dan percepatan perbaikan dermaga, kita terus berupaya berkoordinasi dengan Pelindo, ASDP, dan PT ALP,” tegas Komang.
Dengan ekor antrean yang sudah mencapai Bangsring, penanganan kemacetan jalur utara Banyuwangi kini berpacu dengan waktu. Jika kapasitas penyeberangan belum segera kembali normal, kepadatan kendaraan berpotensi terus menekan jalur utama yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat dan distribusi logistik Banyuwangi. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin