RADAR BANYUWANGI - Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Badung, dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) menandatangani kesepakatan pengembangan perkeretaapian di Bali, termasuk rencana pembangunan trem listrik berbasis baterai pada rute Bandara I Gusti Ngurah Rai-Canggu, Selasa (1/9).
Rencana tersebut disiapkan sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi kepadatan lalu lintas di koridor Bandara Ngurah Rai-Canggu yang memiliki mobilitas tinggi. Pemerintah menyebut pergerakan di kawasan tersebut mencapai sekitar 150 ribu orang dan 80 ribu kendaraan setiap hari.
Kesepakatan ditandatangani oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, dan Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin. Penandatanganan itu menjadi tahap awal sebelum dilakukan kajian teknis dan kelayakan pengembangan perkeretaapian di Bali.
Jika rencana tersebut berjalan sesuai target, jalur trem sepanjang sekitar 12 kilometer akan menghubungkan kawasan Bandara Ngurah Rai dengan Canggu. Waktu tempuh diproyeksikan sekitar 30 menit dengan interval keberangkatan setiap 10 menit.
Moda ini ditargetkan mampu mengangkut hingga 60 ribu penumpang per hari atau melayani sekitar 40 persen mobilitas di kawasan yang menjadi salah satu pusat aktivitas pariwisata Bali tersebut.
Trem Dirancang Berbasis Baterai
Berbeda dengan kereta listrik konvensional yang umumnya menggunakan jaringan listrik di atas jalur, trem yang direncanakan di Bali akan menggunakan teknologi baterai.
Koster menjelaskan ukuran trem juga akan dibuat relatif kecil, dengan lebar lebih dari dua meter. Karakter tersebut disesuaikan dengan kebutuhan transportasi di kawasan perkotaan dan pariwisata.
Penggunaan baterai diproyeksikan menghilangkan kebutuhan kabel listrik yang menggantung di atas lintasan. Teknologi tersebut juga diharapkan dapat menekan kebisingan dan dampak lingkungan.
Namun, pembangunan jalur nantinya tidak hanya mempertimbangkan aspek teknis. Pemprov Bali menyatakan keberadaan hotel, akomodasi wisata, objek wisata, lingkungan, permukiman, serta aktivitas masyarakat di sepanjang trase akan menjadi bagian dari pertimbangan.
“Kenyamanan wisatawan harus tetap dijaga, keberadaan trem justru diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali,” kata Koster seusai penandatanganan kerja sama di Denpasar.
Ia menegaskan pengembangan infrastruktur transportasi harus tetap mempertahankan karakter Bali.
“Pengembangan transportasi harus tetap memperhatikan keunikan Bali, menjaga keindahan Bali, mendukung pariwisata, dan tidak mengganggu kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Groundbreaking Ditargetkan Maret 2027
Rencana pembangunan trem saat ini belum memasuki tahap konstruksi. Setelah kesepakatan ditandatangani, pemerintah bersama KAI dan pemangku kepentingan terkait akan melakukan sejumlah tahapan persiapan.
Tahapan tersebut mencakup studi teknis, inventarisasi data, penyusunan kajian kelayakan dan/atau Detail Engineering Design (DED), sosialisasi, serta koordinasi dengan berbagai pihak.
Pelibatan desa adat juga direncanakan sebagai bagian dari proses pengembangan. Langkah tersebut diperlukan karena trase transportasi akan bersinggungan dengan kawasan yang memiliki karakter sosial, budaya, dan lingkungan yang khas.
Groundbreaking direncanakan berlangsung pada Maret 2027. Trase pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2028, sedangkan seluruh jalur hingga Canggu ditargetkan selesai pada 2029.
Dengan demikian, target 2028 merupakan waktu yang direncanakan untuk pengoperasian trase pertama, bukan keseluruhan jalur sampai Canggu.
KAI Soroti Pertumbuhan Ekonomi dan Pariwisata
Bagi KAI, rencana pengembangan perkeretaapian Bali berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan mobilitas masyarakat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menunjukkan ekonomi Bali pada triwulan II 2026 tumbuh 5,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode tersebut, PDRB atas dasar harga berlaku tercatat Rp89,27 triliun.
Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi kontributor terbesar dengan porsi 21,91 persen. Data tersebut menunjukkan besarnya peran aktivitas yang berkaitan dengan pariwisata terhadap perekonomian Bali.
Aktivitas kunjungan wisatawan juga masih tinggi. Pada Juni 2026, wisatawan mancanegara yang datang langsung ke Bali mencapai 605.013 kunjungan, meningkat 4,63 persen dibandingkan Mei 2026 yang mencatat 578.251 kunjungan.
Pada bulan yang sama, jumlah penumpang penerbangan internasional yang berangkat dari Bali mencapai 650.838 orang, naik 4,93 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penumpang penerbangan domestik yang berangkat dari Bali tercatat 329.891 orang, meningkat 4,68 persen.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan pertumbuhan aktivitas ekonomi dan pariwisata perlu diikuti dengan perencanaan transportasi yang mampu memenuhi kebutuhan mobilitas dalam jangka panjang.
“Perkembangan ekonomi dan aktivitas pariwisata Bali perlu diikuti dengan perencanaan transportasi yang mampu menjawab kebutuhan mobilitas ke depan. Melalui kesepakatan ini, kami bersama pemerintah daerah mulai mempelajari bagaimana perkeretaapian dapat menjadi bagian dari pengembangan sistem transportasi Bali,” ujar Bobby.
Rute dan Integrasi Antarmoda Masih Dikaji
Bobby mengatakan karakter mobilitas Bali berbeda dengan daerah lain sehingga pengembangan perkeretaapian perlu dikaji secara menyeluruh. Pemerintah dan KAI tidak hanya melihat kebutuhan jalur, tetapi juga keterhubungan pusat aktivitas masyarakat, kawasan wisata, serta moda transportasi yang sudah tersedia.
“Bali memiliki karakter mobilitas dan pengembangan wilayah yang khas. Karena itu, kebutuhan, potensi, integrasi antarmoda, hingga kelayakan pengembangan perkeretaapian perlu dipelajari secara menyeluruh agar rencana yang disiapkan memiliki dasar yang kuat dan sesuai dengan kebutuhan daerah,” kata Bobby.
Ruang lingkup kesepakatan mencakup inventarisasi data dan informasi, penyusunan kajian kelayakan dan/atau DED, integrasi antarmoda, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.
Koordinasi juga akan dilakukan dengan kementerian dan lembaga, badan usaha, serta pemangku kepentingan lain yang berkaitan dengan pengembangan transportasi dan perkeretaapian di Bali.
Kesepakatan Bersama tersebut berlaku selama lima tahun sejak ditandatangani dan dapat ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama sesuai kewenangan masing-masing pihak.
Bobby memastikan KAI akan terlibat dalam proses kajian dengan membawa pengalaman dan kompetensi di bidang perkeretaapian.
“Infrastruktur transportasi harus dikembangkan secara hati-hati, kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas dan harmoni Bali,” ucap Bobby.
Menurut dia, setiap tahapan perlu disiapkan secara cermat dan sesuai regulasi agar rencana pengembangan perkeretaapian memiliki dasar kelayakan yang kuat.
“KAI siap membawa pengalaman dan kompetensi perkeretaapian dalam proses kajian bersama. Setiap tahap akan disiapkan secara cermat, prudent, dan sesuai regulasi agar rencana yang dihasilkan feasible serta memberikan manfaat jangka panjang bagi mobilitas masyarakat dan pengembangan wilayah Bali,” pungkas Bobby.
Relevan bagi Perjalanan Jawa Timur-Bali
Pengembangan transportasi massal di Bali juga menarik dicermati dari Jawa Timur, termasuk Banyuwangi, yang menjadi salah satu pintu perjalanan menuju Bali melalui jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.
Meski belum ada keterangan bahwa rencana trem Ngurah Rai-Canggu secara langsung terhubung dengan sistem transportasi Banyuwangi, pengembangan moda transportasi massal di Bali dapat menjadi bagian dari ekosistem perjalanan wisata antardaerah di kawasan Jawa-Bali.
Untuk saat ini, fokus proyek tetap berada pada kajian pengembangan perkeretaapian di Bali, terutama koridor yang direncanakan menghubungkan Bandara Ngurah Rai dengan Canggu.
Rencana tersebut masih membutuhkan kajian teknis, analisis kelayakan, koordinasi antarlembaga, serta proses perencanaan lainnya sebelum pembangunan fisik dimulai.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, trase pertama trem ditargetkan beroperasi pada 2028 dan keseluruhan jalur hingga Canggu pada 2029.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara