RADAR BANYUWANGI – Antrean truk logistik dan kendaraan pribadi kembali mengular dari kawasan utara Pelabuhan ASDP Ketapang, Banyuwangi, hingga Terminal Sritanjung, Selasa (1/9). Kemacetan di jalur vital Jawa–Bali itu dipicu berkurangnya kapasitas penyeberangan akibat perbaikan Dermaga Movable Bridge (MB) 2 Pelabuhan Gilimanuk. Kondisi tersebut diperkirakan masih berulang hingga akhir November atau awal Desember.
Kasi Status Hukum dan Sertifikasi Kapal KSOP Tanjungwangi Widodo mengatakan, perbaikan Dermaga MB 2 Gilimanuk membuat kapasitas pelayanan di sisi Bali berkurang. Pada saat yang sama, volume truk logistik dalam beberapa hari terakhir justru meningkat.
“Dermaga MB 2 Gilimanuk masih diperbaiki sampai akhir November atau awal Desember nanti. Kebetulan volume truk juga sedang naik dalam tiga hari terakhir. Kalau ada satu dermaga tidak beroperasi, tentu dampaknya sangat terasa,” ujar Widodo, Selasa (1/9).
Persoalan tidak berhenti pada antrean kendaraan. Ketidakseimbangan jumlah dermaga di kedua pelabuhan turut mempersempit ruang pergerakan kendaraan. Saat normal, Pelabuhan Ketapang mengoperasikan sembilan dermaga, sedangkan Pelabuhan Gilimanuk memiliki tujuh dermaga.
Ketika satu dermaga di Gilimanuk tidak beroperasi karena perbaikan, kapasitas layanan penyeberangan otomatis berkurang. Dampaknya terasa hingga Banyuwangi karena kendaraan yang hendak menyeberang menuju Bali tidak dapat segera terangkut.
Kondisi semakin kompleks karena Pelabuhan Tanjungwangi yang berada tidak jauh dari Ketapang juga tengah menghadapi peningkatan muatan truk logistik menuju Lombok.
Tiga kapal penyeberangan yang dioperasikan secara penuh belum sepenuhnya mampu mengurai tumpukan kendaraan. Sebagian besar kendaraan memang masih dapat ditampung di dalam kawasan pelabuhan dan buffer zone. Namun, tingginya volume membuat sebagian truk akhirnya meluber hingga mengantre di tepi jalan raya.
Berdasarkan analisis data KSOP Tanjungwangi, kepadatan dari arah Banyuwangi biasanya mulai meningkat sekitar pukul 15.00 WIB hingga malam. Pada waktu tersebut, arus kendaraan dari Banyuwangi beririsan dengan kendaraan penumpang dari Bali yang baru tiba di Ketapang dan melanjutkan perjalanan darat menuju Surabaya.
Sementara dari arah Gilimanuk menuju Jawa, kepadatan mulai terlihat sejak sekitar pukul 13.00 WIB dan berlanjut hingga malam hari.
Pola tersebut membuat kepadatan tidak hanya terjadi pada satu titik. Arus kendaraan yang datang dan berangkat pada waktu berdekatan menciptakan tekanan tambahan terhadap kapasitas jalan serta area tunggu pelabuhan.
Selain persoalan teknis dermaga, lonjakan kendaraan pada awal September juga disebut berkaitan dengan efek domino pembatasan operasional truk pada pekan sebelumnya.
Ghofur, sopir truk logistik rute Jakarta–Bali, mengatakan dirinya sempat mengalami keterlambatan setelah armada truk dibatasi saat momentum kunjungan Presiden ke Bali pekan lalu. Ketika operasional kembali normal, kendaraan yang sebelumnya tertahan bergerak bersamaan menuju jalur penyeberangan.
“Begitu jalur penyeberangan dibuka normal kembali, volume truk yang sempat tertahan langsung melonjak bersamaan. Saya membawa barang elektronik dan sempat tertunda lama,” ujar Ghofur.
Dia mengaku tiba di Banyuwangi sejak pagi. Namun, kepadatan kendaraan membuat waktu tunggunya jauh lebih panjang.
“Saya tiba di Banyuwangi jam 07.00 WIB pagi, tapi baru jam 12.00 WIB siang tadi bisa masuk ke kantong parkir pelabuhan,” keluhnya.
Kondisi tersebut menunjukkan betapa sensitifnya jalur penyeberangan Ketapang–Gilimanuk terhadap perubahan kapasitas dermaga dan lonjakan volume kendaraan. Satu fasilitas yang berhenti beroperasi saja dapat berdampak pada antrean hingga keluar kawasan pelabuhan.
Selama perbaikan MB 2 Gilimanuk belum rampung, potensi kepadatan masih menjadi ancaman bagi pengguna jalur Jawa–Bali, terutama pada jam-jam puncak dan ketika volume angkutan logistik meningkat. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin