Banyuwangi Jadi Pilihan Pertama Investor Tiongkok Kembangkan Industri Tiram

Sigit Hariyadi • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 20:32 WIB
Bupati Ipuk Fiestiandani saat bertemu investor jajaran MATA Ecology asal Tiongkok di Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Selasa (1/9). (Humas Pemkab Banyuwangi)
Bupati Ipuk Fiestiandani saat bertemu investor jajaran MATA Ecology asal Tiongkok di Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Selasa (1/9). (Humas Pemkab Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Laut Banyuwangi kembali dilirik investor asing. Perusahaan asal Tiongkok, MATA Ecology, menyatakan minat mengembangkan budi daya sekaligus industri tiram di Banyuwangi dengan konsep blue industry yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan dan pelibatan masyarakat pesisir.

Ketertarikan itu disampaikan langsung jajaran MATA Ecology saat bertemu Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Senin (31/8). Dalam pertemuan tersebut, investor memaparkan konsep investasi mulai dari budi daya hingga hilirisasi produk tiram.

“Ya, kami kedatangan tamu investor dari Tiongkok yang tertarik untuk mengembangkan budi daya tiram di Banyuwangi. Sejauh ini konsep yang dipaparkan cukup menarik karena mengusung blue industry, yakni pengelolaan tiram yang ramah lingkungan sekaligus melibatkan masyarakat,” kata Ipuk, Selasa (1/9/2026).

Rencana tersebut tidak berhenti pada produksi tiram. MATA Ecology juga membawa konsep pengolahan hasil budi daya agar menghasilkan nilai tambah. Salah satunya memanfaatkan cangkang tiram untuk diolah menjadi produk turunan seperti pupuk.

Dalam pertemuan itu, Direktur Utama MATA Ecology Wang Yong Ming hadir bersama jajaran direksi. Turut mendampingi anggota Komisi IV DPR RI Prof Rokhmin Dahuri serta mitra MATA Ecology di Indonesia, Direktur Utama Surya Jaya Investama Chandra Astan.

MATA Ecology merupakan perusahaan asal Tiongkok yang bergerak di bidang budi daya dan pengolahan tiram, pengelolaan sumber daya pesisir, serta pengembangan produk turunan hasil budi daya. Perusahaan tersebut juga mengembangkan teknologi budi daya yang berorientasi pada keberlanjutan.

Bagi Banyuwangi, rencana investasi itu dinilai sejalan dengan arah pengembangan ekonomi daerah. Investasi kelautan diharapkan tidak hanya mendatangkan modal, tetapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah hasil perikanan, serta memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.

“Kami yakin budi daya tiram berkelanjutan berpotensi memberikan manfaat bagi daerah, antara lain melalui peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan ekonomi masyarakat pesisir, peningkatan nilai tambah hasil perikanan, serta penguatan sektor kelautan dan perikanan di Banyuwangi,” kata Ipuk.

Menurut Ipuk, pengembangan sektor kelautan juga berpotensi memberikan efek berantai bagi sektor lain. Ekosistem ekonomi pesisir yang tumbuh diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata yang selama ini menjadi salah satu penggerak ekonomi Banyuwangi.

Dari sisi investor, Banyuwangi dinilai memiliki sejumlah modal alam dan sumber daya yang mendukung budi daya tiram. Kondisi perairan, iklim, suhu, hingga ketersediaan tenaga kerja menjadi pertimbangan MATA Ecology.

Wang Yong Ming mengatakan, kondisi cuaca Banyuwangi menjadi salah satu keunggulan yang menarik perhatian. Tidak adanya angin topan serta suhu yang dinilai sesuai memungkinkan budi daya dilakukan sepanjang tahun.

“Dalam penilaian kami, di sini (Banyuwangi) tidak ada angin topan, suhunya sangat cocok sehingga bisa untuk melakukan budi daya tiram sepanjang tahun,” ujarnya.

Yang menarik, Banyuwangi disebut sebagai lokasi pertama yang dipilih MATA Ecology untuk rencana investasinya di Indonesia. Hal tersebut menunjukkan tingginya keyakinan perusahaan terhadap potensi wilayah ujung timur Pulau Jawa tersebut.

“Ini pertama kalinya kami berinvestasi di Indonesia dan kami pilih Banyuwangi. Kami sangat semangat untuk menjalin kerja sama ini,” imbuh Wang.

Anggota Komisi IV DPR RI Prof Rokhmin Dahuri mengatakan, rekomendasi terhadap Banyuwangi diberikan setelah mempertimbangkan potensi kelautan sekaligus kesiapan pemerintah daerah dalam menerima investasi.

Menurut mantan Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 itu, MATA Ecology memiliki pengalaman dan reputasi kuat di bidang industri tiram di Tiongkok. Perusahaan juga dinilai memiliki konsep usaha yang melibatkan masyarakat.

“Kami sudah memastikan perusahaan ini sangat bonafide, memiliki cetak biru yang melibatkan masyarakat dalam menjalankan kegiatannya. Investor ini kami bawa ke Banyuwangi karena Banyuwangi kami nilai siap,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama Surya Jaya Investama Chandra Astan sebagai mitra usaha MATA Ecology di Indonesia memastikan rencana investasi akan diarahkan sesuai kebijakan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

Aspek keberlanjutan lingkungan dan pelibatan masyarakat lokal menjadi perhatian utama dalam pengembangan usaha tersebut.

“Kami sudah memiliki pengalaman sebelumnya dalam budi daya yang ramah lingkungan dan menjadikan masyarakat lokal sebagai mitra dalam menjalankan usaha budi daya. Ini yang akan kami pastikan juga dijalankan oleh investor,” pungkasnya.

Jika terealisasi, investasi MATA Ecology bakal membawa konsep baru bagi sektor kelautan Banyuwangi: bukan sekadar membudidayakan tiram, tetapi membangun rantai industri dari budi daya hingga pengolahan produk turunannya dengan masyarakat pesisir sebagai bagian dari ekosistem usaha. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
investasi Banyuwangi MATA Ecology Budidaya tiram Industri tiram Blue industry