Kabar Duka dari Malang, Pelawak Senior Topan Sugianto Meninggal Dunia

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 07:18 WIB
Topan Srimulat meninggal. (Instagram: jatimpemprov)
Topan Srimulat meninggal. (Instagram: jatimpemprov)

RADAR BANYUWANGI – Dunia lawak Indonesia kembali kehilangan salah satu wajah pentingnya. Pelawak senior Topan Sugianto, yang dikenal luas melalui duet Topan-Leysus dan program legendaris Ketoprak Humor, meninggal dunia di Malang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Kepergiannya sekaligus menutup perjalanan panjang pelawak Jawa Timuran yang pernah membawa humor khas panggung tradisional hingga ke layar televisi nasional.

Kabar duka tersebut diterima awal media Kamis malam. Rumah duka Topan berada di Griya Ketapang Permai Blok G1, Sukoraharjo, Kepanjen, Kabupaten Malang.

Hingga Kamis sore, belum ada keterangan lebih lanjut mengenai penyebab meninggalnya pelawak yang akrab disapa Abah Topan tersebut.

Topan memiliki nama lengkap H. Topan Sugianto bin Doel Ghani. Pengumuman duka menyebut ia lahir pada 12 April 1955 dan wafat pada 27 Agustus 2026. Namun, sejumlah arsip media mencatat tahun kelahirannya sebagai 1956.

Perbedaan catatan tersebut tidak mengubah satu hal: Topan merupakan bagian dari generasi pelawak yang memiliki akar kuat di panggung pertunjukan tradisional sebelum akhirnya dikenal jutaan penonton melalui televisi.

Dari Panggung Jawa Timuran hingga Ketoprak Humor

Nama Topan semakin dikenal ketika ia berduet dengan adiknya, Sugeng Winarso alias Leysus.

Menariknya, Leysus lebih dahulu terjun ke dunia lawak. Topan kemudian mengikuti jejak sang adik sekitar 1992. Dari panggung ke panggung, keduanya membangun karakter yang kemudian menjadi ciri khas duet mereka.

Topan cenderung tampil tenang dan serius. Sementara Leysus lebih spontan dan polos.

Kontras itulah yang membuat Topan-Leysus mudah dikenali sekaligus menghadirkan kekuatan komedi tersendiri.

Popularitas keduanya kemudian melebar ketika bergabung dengan Ketoprak Humor, program televisi yang mulai berkibar di RCTI sejak 1998.

Di sana, Topan dan Leysus berada dalam satu panggung dengan sederet nama besar dunia lawak Indonesia, antara lain Timbul, Tarzan, Tessy, Nunung, Doyok dan Mamik.

Ketoprak Humor menjadi fenomena tersendiri karena tidak sekadar mengandalkan lawakan. Program tersebut memadukan cerita tradisional, legenda, tata panggung dan improvisasi para pelawak.

Tayangan itu bahkan meraih Panasonic Awards sebagai program kesenian tradisional populer selama tiga tahun.

Bagi generasi penonton televisi akhir 1990-an hingga awal 2000-an, Ketoprak Humor menjadi salah satu pintu yang mempertemukan budaya tradisional dengan selera hiburan populer.

Di situlah nama Topan mendapatkan tempatnya.

Bukan Sekadar Partner di Atas Panggung

Kisah Topan dan Leysus juga tidak berhenti pada urusan panggung.

Keduanya merupakan saudara kandung yang memiliki kedekatan kuat. Leysus bahkan pernah menempatkan Topan sebagai sosok pengganti orang tua setelah kedua orang tua mereka meninggal dunia.

Ketika Leysus meninggal pada Januari 2006, Topan kehilangan adik sekaligus partner yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting perjalanan kariernya.

Dua dekade kemudian, giliran Topan berpulang.

Kepergian itu membuat kisah duet kakak-adik Topan-Leysus benar-benar menjadi bagian dari sejarah dunia lawak Indonesia.

Tetap Berkarya Setelah Era Televisi

Setelah era Ketoprak Humor, Topan tidak sepenuhnya meninggalkan dunia hiburan.

Ia masih tercatat tampil dalam sejumlah program, antara lain Ronda, Pansus dan Toples Show. Jejak kariernya juga bersinggungan dengan keluarga besar Srimulat.

Ketika kemunculannya di televisi mulai berkurang, Topan kembali menjalani aktivitas di Malang.

Ia bahkan aktif dalam dunia sepak bola, termasuk dalam kepengurusan sepak bola Porprov Kabupaten Malang dan Arema.

Topan juga masih muncul dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.

Pada 2021, misalnya, Abah Topan tercatat tampil bersama KH Imam Chambali dalam rangkaian Haul ke-12 Gus Dur.

Artinya, layar televisi memang tidak lagi sesering dahulu menampilkan sosoknya. Namun, aktivitas Topan di tengah masyarakat tetap berjalan.

Kini Tinggal Kenangan

Kepergian Topan terasa seperti penutup satu babak penting komedi Indonesia.

Ia berasal dari generasi pelawak yang tidak lahir dari algoritma media sosial atau panggung digital. Mereka tumbuh dari panggung pertunjukan, mengasah spontanitas di hadapan penonton, lalu membawa karakter tersebut ke televisi.

Topan menjadi salah satu di antaranya.

Bersama Leysus, ia ikut memperkenalkan warna humor Jawa Timuran kepada penonton di berbagai penjuru Indonesia.

Kini, setelah Leysus lebih dahulu berpulang pada 2006, Topan menyusul sang adik.

Yang tersisa adalah rekaman tawa, potongan adegan, dan kenangan tentang duet kakak-adik yang pernah membuat ruang keluarga Indonesia riuh oleh lawakan khas mereka.

Topan telah berpulang. Namun, jejaknya bersama Leysus dan Ketoprak Humor tetap menjadi bagian dari perjalanan panjang komedi Indonesia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Topan Sugianto Topan Leysus Ketoprak Humor pelawak senior dunia lawak