Gempa NTT M 7,7 Sisakan Duka: Rumah Hancur, Nikolaus dan Anak Istri Kini Tidur di Tenda

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 21:00 WIB
Inka (7) dan Davin (2), kedua anak pasangan Nikolaus (38) dan Endak (32), saat beristirahat di tenda yang terbuat dari terpal di belakang rumahnya yang rusak akibat gempa yang menghantam sejumlah wilayah di Provinsi NTT. (istimewa)
Inka (7) dan Davin (2), kedua anak pasangan Nikolaus (38) dan Endak (32), saat beristirahat di tenda yang terbuat dari terpal di belakang rumahnya yang rusak akibat gempa yang menghantam sejumlah wilayah di Provinsi NTT. (istimewa)

RADAR BANYUWANGI – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) pagi mengubah rumah Nikolaus Tolen, 38, menjadi tempat yang tak lagi aman untuk ditinggali. Dalam hitungan detik, pria di Desa Latung, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, itu menggendong anaknya keluar rumah, sementara istrinya menyelamatkan sang buah hati yang lain.

Tiga hari setelah gempa, Nikolaus dan keluarganya masih bertahan di tenda darurat karena rumah mereka rusak dan gempa susulan terus terjadi. Di tengah keterbatasan, listrik dan jaringan internet sempat mati, akses jalan terisolasi, dan bantuan pemerintah belum juga diterima warga setempat.

Pagi itu, matahari baru muncul sekitar pukul 05.58 WITA. Nikolaus bersama istrinya, Endak, 32, dan dua anak mereka, Inka, 7, serta Davin, 2, baru saja terbangun.

Tak lama berselang, tanah mendadak berguncang hebat.

Guncangan berlangsung singkat, tetapi cukup membuat dinding rumah bergetar keras. Material bangunan berjatuhan dari berbagai sisi.

“Gempa... gempa... gempa!” teriak Nikolaus.

Tanpa berpikir panjang, ia menggendong Inka dan berlari keluar rumah. Endak menyusul sambil menggandeng Davin.

Keempat anggota keluarga itu berhasil menyelamatkan diri. Tidak ada yang terluka. Namun, sejumlah bagian rumah mereka mengalami kerusakan.

“Keluarga aman, cuma rumah hancur. Tembok beberapa retak dan ambrol,” kata Nikolaus saat berbincang dengan JawaPos.com, Senin (17/8) sore.

Jauh dari Episentrum, Guncangan Tetap Mematikan

Desa Latung bukan berada di titik episentrum gempa. Secara garis lurus, wilayah tersebut berjarak sekitar 115–120 kilometer dari pusat gempa berkekuatan M 7,7 yang berada di laut timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Namun, kuatnya guncangan tetap dirasakan hingga Manggarai.

Gempa tersebut membuat sejumlah bangunan rusak di berbagai wilayah NTT. Puluhan orang dilaporkan meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka.

Bagi Nikolaus, persoalan tidak berhenti ketika guncangan utama reda.

Rumah yang sebelumnya menjadi tempat berlindung kini justru menjadi ancaman. Dinding yang retak dan sebagian ambrol membuat Nikolaus memilih tidak lagi tidur di dalam rumah.

Pada siang hari, ia bersama keluarganya membuat tenda sederhana dari terpal di belakang rumah.

“Kalau siang panasnya luar biasa, tapi gimana lagi daripada di rumah bahaya,” tuturnya.

Ketika malam tiba, keluarga Nikolaus memilih bergabung dengan warga lainnya di tenda pengungsian yang dibuat secara swadaya di lapangan desa.

Gempa susulan yang masih terjadi membuat warga enggan kembali tidur di dalam rumah.

“Tiap hari ada gempa susulan, jadi kami tetap tidur di luar rumah agar aman,” ungkap Nikolaus.

Tiga Hari Hidup dalam Gelap dan Tanpa Internet

Gempa juga memutus sejumlah fasilitas dasar warga Desa Latung.

Listrik padam setelah sejumlah tiang listrik mengalami kerusakan. Kondisi itu membuat warga harus melewati malam dalam gelap dan udara dingin.

Bukan hanya listrik. Jaringan internet juga ikut terganggu.

Bagi Nikolaus, putusnya komunikasi menjadi persoalan serius. Ia tidak dapat menghubungi keluarga yang berada jauh dari lokasi gempa untuk memberi kabar mengenai kondisi mereka.

“Komunikasi langsung terputus pasca gempa besar karena nggak ada signal. Jadi nggak bisa kontak keluarga yang jauh sama sekali,” ujarnya.

Memasuki hari ketiga pascagempa, kondisi mulai membaik. Listrik kembali menyala dan jaringan internet berangsur normal.

“Tadi sore baru nyala listrik, internet juga sudah hidup,” katanya.

Namun, pulihnya listrik dan jaringan komunikasi belum berarti kehidupan warga kembali normal.

Jalan Sempat Terisolasi, Bantuan Belum Tiba

Akses menuju Desa Latung juga sempat terganggu setelah gempa.

Bebatuan berukuran besar jatuh dan menutup sejumlah ruas jalan. Selama sekitar dua hari, akses warga menjadi terbatas.

Masyarakat akhirnya bergotong royong menyingkirkan material batu yang menghalangi jalan.

Kini, jalur tersebut sudah kembali bisa dilewati kendaraan maupun warga.

Namun, menurut Nikolaus, persoalan lain masih menunggu penyelesaian: bantuan untuk warga terdampak.

Hingga tiga hari setelah gempa, ia mengaku belum menerima bantuan dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

“Belum ada sama sekali. Pemerintah desa hanya foto-foto rumah saja,” katanya.

Kondisi itu membuat kebutuhan warga semakin mendesak, terutama bagi mereka yang rumahnya rusak dan tidak lagi layak ditempati.

Nikolaus berharap pemerintah segera turun tangan, terutama membantu warga mendapatkan hunian yang aman.

Sebab, membangun kembali rumah bukan perkara mudah bagi warga yang sebagian besar harus memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan sumber daya terbatas.

Dari Jurnalis Menjadi Peternak, Kini Bertahan di Tenda

Nikolaus sebelumnya pernah bekerja sebagai jurnalis di sebuah portal berita nasional. Kini, ia menjalani profesi sebagai peternak.

Setelah gempa, rutinitasnya berubah drastis.

Rumah yang menjadi tempat berkumpul bersama istri dan dua anak kini hanya bisa digunakan secara terbatas. Untuk tidur, mereka harus mengandalkan tenda.

Siang hari terasa panas. Malam hari berubah dingin. Di atas semua itu, ancaman gempa susulan membuat rasa aman belum sepenuhnya kembali.

Nikolaus hanya berharap keluarganya bisa segera kembali memiliki tempat tinggal yang layak.

“Kalau malam dingin tidur di tenda. Semoga segera ada bantuan untuk membangun rumah kembali,” tukasnya.

Bagi Nikolaus dan warga Desa Latung, gempa M 7,7 bukan hanya meninggalkan retakan pada dinding rumah. Guncangan itu juga menyisakan pekerjaan besar setelah bencana: memastikan keluarga yang kehilangan tempat tinggal tidak terlalu lama hidup dalam ketidakpastian. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
Gempa M 7 Korban Gempa gempa NTT Desa Latung Bantuan gempa