RADAR BANYUWANGI – Seruan boikot Bank Mandiri meluas di media sosial setelah rekening Supriyono alias Botok, koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), diblokir atau dibatasi transaksinya. Sejumlah warganet dan influencer bahkan mengaku telah mengosongkan saldo Livin’ Mandiri dan memindahkan dana ke bank lain, meski besarnya perpindahan dana dan dampaknya terhadap bisnis Bank Mandiri belum dapat dipastikan.
Gelombang protes tersebut muncul sejak Minggu (23/8/2026) malam dan berlanjut di Threads, X, Instagram hingga Facebook. Narasi #PindahDariMandiri dan #BoikotBankMandiri ikut menyebar, dipicu polemik rekening dengan saldo sekitar Rp80,9 juta yang disebut menampung dana pribadi dan donasi masyarakat untuk kebutuhan aksi AMPB di Jakarta.
Bank Mandiri sebelumnya telah meminta maaf dan menyatakan pembatasan rekening dilakukan sebagai tindak lanjut atas permintaan aparat penegak hukum sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.
Namun, penjelasan itu belum sepenuhnya meredam kemarahan publik.
Warganet Pamer Pindahkan Saldo dari Livin' Mandiri
Yang membuat polemik semakin panas bukan hanya komentar kecaman.
Sejumlah pengguna media sosial mulai mengunggah tangkapan layar transaksi yang menunjukkan perpindahan dana dari rekening Bank Mandiri menuju bank lain.
Mayoritas unggahan yang beredar memperlihatkan tujuan perpindahan dana ke sejumlah bank, antara lain BCA, Bank Jago, dan SeaBank.
Salah satu unggahan di Threads bahkan disertai narasi bernada sindiran, “Bye Mandiri, pindah dulu sebelum rekening gue yang diblokir.”
Unggahan semacam itu kemudian mendapat respons luas dan ikut memperkuat narasi boikot.
Meski demikian, tangkapan layar yang beredar di media sosial tidak dapat dijadikan bukti bahwa terjadi penarikan dana secara massal. Tidak ada data terbuka yang menunjukkan berapa banyak nasabah yang benar-benar menutup rekening atau berapa nilai dana yang telah berpindah.
Hal inilah yang penting dibedakan di tengah derasnya informasi viral: seruan boikot merupakan respons publik, sedangkan dampak finansial aktual membutuhkan data perbankan yang terverifikasi.
Mengapa Rekening Mas Botok Jadi Pemicu?
Polemik bermula dari rekening Bank Mandiri milik Supriyono alias Botok.
Koordinator AMPB tersebut disebut memiliki saldo sekitar Rp80,9 juta. Dana itu berasal dari uang pribadi serta donasi masyarakat yang dipersiapkan untuk kebutuhan operasional, logistik, akomodasi, dan konsumsi massa aksi.
AMPB berencana menggelar aksi di depan Gedung DPR RI pada 27 Agustus 2026. Salah satu isu yang dibawa adalah tuntutan terkait pengesahan RUU Perampasan Aset dan pemberantasan korupsi.
Ketika Botok berada di Jakarta, rekening tersebut tidak dapat digunakan untuk melakukan transaksi.
Menurut keterangan yang beredar, kondisi tersebut berdampak pada kebutuhan logistik dan akomodasi massa AMPB dari Pati.
Dukungan kemudian datang dari masyarakat serta jaringan relawan di sekitar Jakarta, Bogor, dan Tangerang.
Botok menilai persoalan tersebut sebagai bentuk tekanan. Namun, ia menegaskan massa AMPB datang untuk menyampaikan aspirasi secara tertib, aman, dan damai.
AMPB juga disebut tidak berencana bermalam atau mendirikan tenda di sekitar Gedung DPR RI.
Bank Mandiri: Ada Permintaan Aparat Penegak Hukum
Di tengah tekanan publik, Bank Mandiri memberikan penjelasan melalui kanal media sosial resminya.
Bank menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami nasabah.
Bank Mandiri menyebut pembatasan rekening tersebut merupakan tindak lanjut atas permintaan aparat penegak hukum dan telah dilakukan berdasarkan prosedur serta ketentuan yang berlaku.
“Bank Mandiri memohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan kepada nasabah terkait pemblokiran rekening.”
Bank juga menegaskan komitmennya terhadap tata kelola perusahaan yang baik, kepatuhan, dan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan kegiatan perbankan.
Penjelasan tersebut menjadi posisi resmi Bank Mandiri dalam merespons polemik yang berkembang.
Namun, di ruang digital, persoalan sudah telanjur berkembang menjadi pertanyaan yang lebih luas: seberapa aman dana nasabah jika rekening dapat dibatasi berdasarkan permintaan aparat?
Payroll 120 Karyawan Ikut Dipindahkan
Gelombang protes bahkan mulai menyentuh aktivitas bisnis.
CEO Forest Bev, Muadzin (@muadzin), mengaku akan memindahkan layanan payroll 120 karyawannya dari Bank Mandiri ke BCA.
Pernyataan itu disampaikan melalui media sosial dengan menandai akun resmi Bank Mandiri.
Ia meminta agar dana rekening donasi untuk aksi 27 Agustus dikembalikan dan menyatakan rencana pemindahan payroll tersebut.
“Bulan depan payroll 120 karyawan saya, akan saya pindahkan ke BCA,” tulisnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dampak polemik tidak lagi terbatas pada pemilik rekening yang menjadi sumber persoalan.
Bagi sebagian nasabah, kasus Supriyono menjadi alasan untuk mengevaluasi kembali hubungan mereka dengan bank.
Boikot Bank Mandiri Belum Berarti Rush Money
Meski tagar boikot ramai dan sejumlah orang mengunggah bukti perpindahan dana, fenomena tersebut belum bisa disimpulkan sebagai rush money atau penarikan dana secara besar-besaran.
Ada perbedaan antara kampanye boikot di media sosial dengan perpindahan dana yang benar-benar terjadi dalam skala luas.
Apalagi, banyak nasabah memiliki keterikatan dengan bank melalui rekening gaji, cicilan, kartu kredit, pembayaran otomatis, transaksi usaha, hingga layanan digital.
Karena itu, keputusan memindahkan rekening membutuhkan pertimbangan praktis, bukan sekadar mengikuti tren media sosial.
Di sisi lain, bagi Bank Mandiri, persoalan reputasi tetap menjadi hal yang tidak bisa dianggap remeh.
Bank bukan hanya menjual produk tabungan atau layanan transaksi. Industri perbankan berdiri di atas kepercayaan.
Ketika nasabah mulai bertanya apakah uang mereka aman dan kapan rekening dapat dibatasi, persoalannya sudah bergerak dari kasus individual menjadi persoalan persepsi publik.
Ujian Bank Mandiri Bukan Lagi Sekadar Rp80,9 Juta
Kasus rekening Supriyono menunjukkan bagaimana sebuah keputusan yang menyangkut satu rekening dapat berkembang menjadi percakapan nasional.
Bank Mandiri sudah memberikan penjelasan. Namun, di media sosial, sebagian nasabah memilih menunjukkan respons mereka dengan cara yang konkret: mengosongkan saldo, memindahkan dana, bahkan menyatakan akan mengalihkan payroll perusahaan.
Belum ada data yang memastikan seberapa besar dampak ekonomi dari gerakan tersebut.
Yang sudah terlihat adalah dampak kepercayaan.
Dan bagi bank sebesar Bank Mandiri, kepercayaan justru merupakan aset yang nilainya jauh melampaui Rp80,9 juta.
Jika persoalan rekening Mas Botok dapat dijelaskan secara transparan dan status transaksi kembali normal sesuai ketentuan, polemik berpeluang mereda.
Namun, jika pertanyaan publik terus berkembang tanpa jawaban yang dianggap memadai, seruan #BoikotBankMandiri bisa menjadi lebih dari sekadar tren sesaat di media sosial.
Sebab, nasabah mungkin tidak pindah bank karena saldo mereka kecil atau besar.
Mereka pindah ketika mulai merasa tidak yakin uang mereka berada di tempat yang tepat. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Threads, X, Facebook, Instagram